Sitemap
CAROLINE SITOHANG

CAROLINE SITOHANG

Ego Defense 101, Tiba-Tiba Inget Dia Nggak Ganteng-Ganteng Amat

4 min readOct 16, 2026
Press enter or click to view image in full size

Kalo ada olimpiade buat orang yang paling hobi nungguin hal sia-sia, kayaknya aku sudah nyumbang medali emas malam ini. Jam dua pagi, dan aku masih scroll chat yang centang dua-nya nggak pernah jadi biru lagi semenjak tiga minggu lalu. Setelah aku mengirim banyak pesan yang bahkan jika disatukan bisa membentuk banyak paragraf, lengkap dengan emoji yang sudah aku pikirin susunannya biar nggak keliatan terlalu niat dan terakhir kali dia bales, isinya cuma “haha iya”. Setelah itu? Hilang. Bukan diblokir, bahkan profilenya masih terpampang jelas, cuma… hilang. Nggak ada penjelasan, nggak ada drama, cuma kesunyian yang bikin mikir ulang semua chat dari awal kenalan.

Dan seperti kebanyakan korban ghosting lainnya, aku pun melewati fase-fase khas: Pertama, denial. Hari satu sampai tiga, isi otakku masih berusaha memaklumi. “Ah, dia kan emang sibuk. Paling lagi ngejar deadline, atau hape-nya kecemplung air, atau mungkin dia mendadak amnesia.” Pokoknya segala skenario fiksi ilmiah tiba-tiba terancang demi memvalidasi kenapa dia nggak membalas chat. Kedua, bargaining. Masuk minggu kedua, gengsi ini mulai luntur, berganti jadi rasa penasaran yang membesar. Aku bahkan kepikiran mengirim chat pancingan. Satu stiker kucing doang? Atau kirim balasan story pura-pura typo? Setiap lima menit sekali aku ngebuka profil Instagram-nya, memantau following-nya bertambah apa nggak, mencari tanda-tanda kehidupan di tengah keheningan room chat kita. Lalu masuk ke fase depresi tipis-tipis saat aku sadar kalau status online-nya nyala, tapi bukan buat aku. Di situ aku cuma bisa gelentetan di kasur, melototin langit-langit kamar sambil menyesali kenapa aku harus kelihatan bersemangat banget waktu merespons obrolan dia tiga minggu lalu.

Sampai akhirnya… datanglah fase paling ajaib. Fase penyelamatan muka oleh mekanisme pertahanan otak.

Jam dua pagi, mata yang sembap mendadak menyipit pas ngeliat foto profilnya. Aku zoom foto itu rapet-rapet, nyari celah yang selama ini tertutup oleh emosi kasmaran sementara. Dan saat itulah, tanpa aba-aba, aku menyadari analisis baru yang sangat tidak objektif.

Seketika, aura ketampanan yang kemarin sempat aku agung-agungkan luntur begitu saja. Sel-sel otak mendadak bekerja sama buat ngedit memori visual tentang dia. Yang tadi malam masih kelihatan seperti aktor drama Korea, sekarang turun derajat jadi abang-abang biasa yang sering aku lihat di jalanan. Otak ku berhasil mengkonstruksi ilusi baru demi menyelamatkan harga diri yang hampir menyentuh tanah, bukan dia yang ninggalin aku, tapi seleraku saja yang mendadak naik.

Selamat Datang di Mekanisme Pertahanan Diri.

Ternyata, apa yang aku alamin ini bukan karena aku mendadak jadi jahat atau pendendam, kok. Ini cuma cara otakku kerja lembur ngejalanin salah satu mekanisme pertahanan paling tua dalam psikologi manusia sesuatu yang udah dipetakan dari seabad lalu oleh psikiater asal Wina yang mukanya sering banget nongol di fyp TikTok, yaitu Sigmund Freud.

Get CAROLINE SITOHANG’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Freud bilang, di dalam kepala kita ada tiga “penghuni” yang kerjaannya tarik-menarik terus: id, ego, sama superego.

Id itu bagian paling liar yang pengen semua maunya diturutin detik itu juga. Pas kamu lagi deket sama gebetan, id ini yang teriak paling kenceng, “PACARIN DIA SEKARANG!”. Superego malah kebalikannya. Dia suara moral yang ngomelin kamu pas udah kelewat berharap, sekaligus yang bikin kamu malu setengah mati tiap nginget chat-chat receh yang kamu kirim jam dua pagi. Nah, di tengah-tengah mereka berdua, ada ego. Tugas ego cuma satu, yaitu jagain kamu biar nggak collapse pas dihadapin sama kenyataan pahit.

Nah, pas kamu di-ghosting, yang kena hantam duluan itu egomu. Soalnya ego kamu udah terlanjur bikin skenario kalo kamu cukup menarik buat dibalas, cukup berharga buat sekadar dikasih penjelasan kalau dia emang udah nggak tertarik. Tapi begitu dihadapkan kenyataan bahwa kamu cuma di-skip gitu aja kayak iklan YouTube, ego kamu langsung terluka. Dan karena tugas utamanya emang ngelindungin kamu, si ego ini bakal langsung muter otak buat nutupin luka itu secepat mungkin.

Caranya? Salah satunya ya lewat rationalization ini. Intinya simpel banget, kalau kenyataan terasa terlalu nyesek buat kamu terima apa adanya, otak kamu bakal otomatis meracik alasan yang jauh lebih enak didengar, meskipun alasannya sendiri nggak sepenuhnya jujur.

“Dia nggak cakep-cakep amat” itu sebenarnya bukan fakta baru yang baru kamu temuin. Itu cuma ego kamu yang lagi sibuk menyusun ulang cerita, dari yang tadinya “aku ditolak karena ada yang kurang dari aku” berubah jadi “aku nggak rugi-rugi amat kok kehilangan dia.” Padahal yang berubah sebenarnya bukan wajah dia. Yang berubah itu cuma cara kamu milih buat nginterpretasiin wajah dia, biar kamu nggak perlu nelan pil pahit “aku nggak cukup buat dia.”

Jadi, Harus Berhenti Dong?

Ini bagian yang sering banget disalahpahami. Banyak orang ngira kalau rationalization itu tanda kamu lemah, atau tanda kamu “nggak bisa move on secara jujur.” Tapi coba pikirin lagi deh kalau tiap kali ditolak otak kamu wajib nelan mentah-mentah rasa “aku nggak cukup baik,” kamu bisa remuk tiap minggu. Mekanisme pertahanan ini ada bukan buat nipu kamu selamanya, tapi buat ngasih kamu jeda. Waktu buat ego kamu pulih dulu, sebelum nanti kalau keadaan udah lebih tenang kamu bisa melihat semuanya dengan jauh lebih jujur.

Jadi, kalau tiga minggu dari sekarang kamu masih nemuin dirimu bilang, “Lagian dia juga nggak seistimewa itu kok,” nggak usah merasa jadi orang paling pengecut sedunia.

Itu bukan kamu yang munafik. Itu cuma Sigmund Freud yang padahal udah meninggal dari tahun 1939 tapi masih aktif kerja lembur di dalam kepalamu, sibuk masang perban di luka yang bahkan belum sempat kamu sadari berdarah.

Tapi ingat ya, perban itu hadir cuma buat menutup luka sementara. Bukan buat dipake seumur hidup sambil kamu pura-pura nggak pernah ditinggal pergi.

--

--