Aku hidup di sebuah ruang di mana waktu luar bergerak begitu cepat, sementara di dalam kepalaku mengarah pada satu masa yang sama. Kalender di dinding terus berganti angka, namun jiwaku menolak beranjak dari lembaran lama yang sudah usai. Kakiku dipaksa melangkah, namun setiap kali aku menoleh ke belakang, aku selalu menemukan diriku duduk di sudut ingatan yang itu-itu saja. Menatap bayangan yang telah lama pergi, mengulang percakapan yang sudah basi, dan merawat sisa-sisa rasa yang kini justru menjadi duri.
Get Star’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Terjebak di sini membuatku merasa seperti hantu di tengah keramaian. Aku melihat orang-orang berlari mengejar esok, sementara aku masih sibuk mengumpulkan serpihan yang sudah hancur. Ntah sampai kapan aku harus menjadi tawanan dari cerita yang babnya telah ditutup paksa?
Aku lelah berpura-pura baik-baik saja di bawah jam dinding yang terus berdetak, memikul rindu yang tak lagi memiliki alamat pulang dan terjebak dalam labirin ingatan.






