Terkadang aku berpikir bahwa malam yang gelap menyimpan cerita dari setiap orang yang berjalan di bawahnya. Ia menjadi ruang bagi langkah-langkah yang tak saling mengenal, menyimpan alunan musik yang perlahan menerangi sunyi dan menemaninya hingga mentari kembali muncul.
Ada sesuatu yang membuatku penasaran dari kegelapan yang begitu luas, tetapi tetap bertahan di sana, hadir tanpa banyak disadari. Ia sering dilewati begitu saja karena gelapnya, dilupakan karena sepinya. Padahal, mungkin setiap orang memiliki cara sendiri untuk memandangnya. Tidak ada satu pandangan yang harus lebih benar daripada yang lainnya.
Bagiku, mungkin ia adalah sebuah fase kehidupan sebuah jeda sebelum kelahiran kembali pada esok hari. Aku yang berada di bawah langit malam ini mungkin akan tergantikan oleh seseorang yang sedikit berbeda ketika pagi datang.
Mungkin aku akan membawa pikiran yang berbeda, perasaan yang berbeda, atau keputusan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Sebab terkadang, perubahan tidak selalu datang dengan suara yang keras. Ia tumbuh perlahan dalam keheningan, ketika seseorang memiliki cukup ruang untuk mendengar dirinya sendiri.
Ketika dunia mulai mereda dan suara-suara dari luar perlahan menghilang, hal-hal yang selama ini tersisihkan mulai menggeliat pelan, seperti sesuatu di bawah tanah yang menunggu waktunya pikiran yang tertunda, perasaan yang belum sempat disampaikan, serta pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan tempat untuk berlabuh. Dan setiap orang melewatinya dengan caranya sendiri.
Get The Hermit’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Ada yang mengisinya dengan tawa bersama orang-orang yang mereka sayangi. Ada yang ditemani pekerjaan, musik, buku, atau sekadar cahaya kecil dari layar yang terus menyala. Ada pula yang hanya berjalan tanpa tujuan, membiarkan pikirannya mengembara ke tempat-tempat yang tidak mampu ia datangi pada siang hari.
Dan mungkin, di antara semua itu, ada seseorang yang sedang berjalan sendirian di bawah langit yang sama.
Bersama ketenangan yang beralun tentang apa yang sedang ditinggalkan, atau apa yang sedang diharapkan ketika cahaya kembali memenuhi jalan. Namun aku suka membayangkan bahwa setiap langkah yang diambil menyimpan cerita yang tidak akan pernah sepenuhnya diketahui oleh orang lain. Mungkin memang begitu kehidupan bekerja.
Kita berjalan bersama dunia, tetapi tetap membawa ruang kecil di dalam diri yang hanya benar-benar kita kenal sendiri.
Dan ketika pagi akhirnya datang, kita kembali menjadi bagian dari dunia. Berbicara, tersenyum, bekerja, bertemu orang lain, dan menjalani hari seolah tidak ada apa pun yang terjadi sebelumnya.
Padahal mungkin, di dalam diri kita, sesuatu telah berubah. Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang bahkan belum mampu kita beri nama.
Hingga ketika kegelapan kembali turun, kita mungkin akan bertemu lagi dengan diri sendiri, diri yang telah melewati satu hari,satu malam, membawa sedikit lebih banyak luka, sedikit lebih banyak pemahaman, atau mungkin hanya sedikit lebih banyak keberanian untuk melanjutkan langkah. Mungkin memang begitu aku memandangnya.
Bukan sekadar sebagai ketiadaan cahaya, melainkan sebagai sebuah peralihan. Tempat di mana seseorang perlahan melepaskan dirinya yang lama, sebelum akhirnya membuka mata dan mencoba menjadi seseorang yang baru.









