Bagaimana Satu Kata “Aku” Mengubah Cara Kita Berinteraksi
Saya ditusuk dengan prasangka di hadapan wajah saya sendiri oleh seorang teman yang menganggap ucapan “Aku” dalam menyebut diri ini sebagai pemanis bahasa taktik pengikat pria. Betapa murahnya saya berkata “Aku” pada siapa saja, baginya, di saat saya berlatih menjaga etika berelasi dengan teman sebaya. Mengapa menggunakan “Aku” dapat dilekatkan pada pemaknaan intimasi sebuah hubungan di lingkungan saya?
Kita terbiasa akrab dengan “Gue-Lo” yang pada dasarnya tidak dikembangkan dari bahasa kita. Kedua sebutan ini mulai eksis saat Pelabuhan Sunda Kelapa dan Kota Batavia menjadi pusat perdagangan yang dilewati pedagang dari seluruh dunia, tempat di mana banyak pedagang Cina akhirnya datang dan menetap. Kata “Gue (我)” dan “Lu/Li (你)” merupakan serapan dari dialek Hokkian (Fujian) yang bermakna “aku” dan “kamu”. Kosakata tersebut melebur dalam bahasa Melayu lokal membentuk dialek Jakarta atau bahasa Betawi yang kini terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari kita.
Get Adelia Leony’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Sapaan ini meresap dalam pergaulan kita secara kasual, ceplas-ceplos, dan egaliter (setara). Lain dari “Saya-Anda” yang rasanya membangun dinding pembatas di antara kita, “Aku-Kamu” membawa kehidupan sastra romantisisme dari puisi Chairil Anwar hingga lirik lagu pop modern yang menekankan emosi mendalam. Lama-kelamaan, kita melihat aku-kamu sebagai konotasi yang lemah lembut dan membawa keterikatan emosional. Pelekatan ini membawa kondisi peralihan kode emosional ketika seseorang sengaja menurunkan ego gue-lu dan beralih menjadi aku-kamu kepada lawan bicara yang dapat kita lihat dari beralihnya suasana bicara, ingin mendekatkan jarak, formal ke tidak formal, atau ketika perubahan topiknya dimulai (Gellis, 2013). Menjadi lazim mengapa terdapat teman lawan jenis yang baper akan hal ini.
Akan tetapi, pelekatan romantis dalam aku-kamu ini semakin terasa semu ketika saya merantau berpindah dari hiruk-pikuk Jakarta ke sebuah kota di Jawa Tengah. Di lingkungan baru ini, ada realitas sosiolinguistik yang bertolak belakang. Saat penggunaan aku-kamu menjadi hal yang lumrah digunakan oleh teman sebaya tanpa sekat gender ataupun jebakan asmara. Pengalaman merantau menyadarkan saya bahwa keintiman yang lekat pada “Aku” di Jakarta, hanyalah bias konstruksi sosial yang sempit.
Maka, haruskah saya mengorbankan kesantunan bertutur hanya untuk menutup potensi pria jatuh cinta kepada saya?
Kesantunan bertutur adalah cerminan karakter diri, bukan sebuah undangan romantis. Sangat disayangkan jika keramahan sosial seorang baik pria, maupun wanita sering kali disalahartikan sebagai sinyal ketertarikan personal. Seperti teman saya yang menuntut saya untuk bicara lebih kasual dan kasar, saya rasa solusinya bukanlah mengorbankan kesantunan, melainkan mempertegas batas atau boundaries yang ada. In this society, kita bisa bersikap sopan tanpa harus membuka ruang keintiman. Pada akhirnya, kita tidak sepatutnya memikul beban tanggung jawab atas ketidakmampuan orang lain dalam membedakan etika umum dan mana perasaan asmara.







