Sitemap
Agoy Tama

Agoy Tama⁠

Perajinkata™ + Penyair Digital. Merajin kutipan, puisi, dan buku. Sarjana Sastra Universitas Negeri Malang 2021. Memonetisasi puisi @ruangrasaproject.

MAKLUMAT

Berdamai dengan Masa Lalu

10 hal yang layak dibagikan minggu ini

--

Saya kerap berbagi 10 hal tentang proses kreatif dan perubahan diri — gabung di sini untuk berdiskusi tentang mulai berkarya.

Press enter or click to view image in full size
Ilustrasi oleh Agoy Tama

Berikut 10 hal yang menurut saya layak dibagikan minggu ini:

  1. Dua pekan lalu, pada Sabtu pagi (17–10–2026), saya dan istri memutuskan untuk mengunjungi ayah dan ibu di Gribig. Karena sore hari ada agenda lain, kami memutuskan pulang ke Dau lebih awal dari biasanya. Istri meminta saya untuk mampir ke Bakso & Mie Ayam Abadi Sawojajar. Katanya, mau nostalgia sebentar mengingat sewaktu masih belum menikah kerap ditraktir makan bakso oleh Mbak (kakaknya) di sana. Saya suka rasa kecapnya. Manis dan beda dari yang lain. Siapa tahu ada yang penasaran, saya bocorkan mereknya: Kecap Manis Cap 2 Ikan Bader Mas khas Jombang, Jawa Timur.
  2. Senin pagi kemarin (26–10–2026), saya mulai berjalan kaki lagi mengelilingi lapangan Merjosari 6—7 kali putaran setara 2,76 kilometer tempuhan di Strava. Mungkin ini tempuhan terjauh saya selama berjalan dan mengelilingi lapangan. Saya melalukan kegiatan tersebut sembari membaca buku puisi di ponsel. Sepulang dari berjalan di lapangan itu, kaki saya terasa sakit. Cukup membuat saya sulit tidur malam harinya.
  3. Rabu malam kemarin (28–10–2026), saya lembur di kantor sampai pukul 22.00 WIB. Ada program webinar daring Akademi Translasi bersama teman-teman mahasiswa pemagang dari Universitas Sebelas Maret (UNS). Menarik sekali karena Bu Nur Saptaningsih, S.Hum., M.Hum., seorang dosen Sarjana Terapan Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Universitas Sebelas Maret sekaligus praktisi penerjemahan bersertifikat, memaparkan materi tentang penerjemahan cerita anak.
  4. Saya baru saja menyelesaikan bacaan berupa buku puisi O Amuk Kapak (1981) karya Sutardji Calzoum Bachri pada 29 Oktober 2026.
  5. Pekan lalu saya mencoba aplikasi gratis pencatat bacaan (reading tracker) bernama MyReadMates. Aplikasi ini dikembangkan oleh Luthfi Nur Aida, seorang perekayasa perangkat lunak, dan dipopulerkan oleh kreator konten Alfatahar—yang mendapat tantangan membaca 80 judul buku per tahun dari Ustaz Felix Siauw.
  6. Dua pekan lalu saya memulai jurnal MAKLUMAT HARIAN. Tidak harus setiap hari sebenarnya. Ini adalah catatan harian yang saya buat dengan mengutip satu kutipan tokoh sebagai pemantiknya. Tujuannya adalah membiasakan diri untuk menulis setiap hari. Bisa dibaca di sini: MAKLUMAT #1, #2, #3, dan #4.
  7. Kemarin saya membaca tulisan penulis Seno Gumira Ajidarma bertajuk “Kau Takkan Kurelakan Sendiri” yang dimuat di majalah Basis, edisi XLIV №2, Februari 1995, halaman 41—54). Tulisan ini dibuat untuk Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono dengan membahas sajak-sajak beliau. “Jika sajak-sajak Sapardi Djoko Damono merupakan gunung, untuk mencapai puncaknya saya menggunakan empat jalur yang telah dirintis para pendaki terdahulu—sebelum, barangkali, akhirnya merintis jalan sendiri,” tulis Seno. “Empat jalur itu harus saya lalui, untuk menjamin bahwa jalur yang akan saya rintis merupakan jalur termudah, tercocok, tersingkat, ternyaman, setidaknya bagi saya sendiri.”
  8. Dalam O Amuk Kapak (1981), penulisnya, Sutardji Calzoum Bachri, mendaku bahwa menulis puisi adalah membebaskan kata-kata, mengembalikan kata pada awal mulanya. “Dan kata pertama adalah mantera,” tulis Sutardji. “Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.”
  9. Soal O Amuk Kapak (1981), Seno Gumira Ajidarma (1995) berpendapat bahwa “Sajak-sajak dalam ‘O’ dan ‘Amuk’ bisa dimengerti dalam konteks kata-kata yang menolak beban pengertian, tapi dalam ‘Kapak’ sajak-sajak Sutardji nampaknya sudah mempercayai kembali.”
  10. Maklumat di Hari Jumat: Ada saatnya kita mesti pandai berdamai dengan masalah lalu. Caranya bukan dengan melupakan, tetapi dengan menerima terlebih dahulu, lalu memaknai ulang masa-masa itu. Kadang, manusia terlalu fokus hanya pada apa yang sudah tiada, tetapi lupa mensyukuri apa yang masih ada.

(30 Oktober 2026)

Get Agoy Tama’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Terima kasih telah membaca. Publikasi independen ini terwujud berkat apresiasi dan dukungan pembaca sepertimu. Untuk terus menikmatinya, dukung kerja kreatif ini dengan membeli buku-buku saya, mengundang saya berbicara, atau bekerja sama dalam kolaborasi.

Press enter or click to view image in full size
Beli enam buku puisi elektronik saya (pdf)

Beri 10–50 kali tepukan untuk apresiasi sehangat pelukan, ikuti perlahan sebagai jabat tangan perkenalan, dan silakan bergabung agar terus terhubung.

Tentang Penulis

Agoy Tama (Indra Yogatama, S.S.), lahir di Malang 10 April 1995. Perajinkata & Penyair. Merajin kutipan, puisi, dan buku. Saya berbagi “arsip temuan” atau jurnal kutipan kreatif di sini ⟶ s.id/mulaiberkarya.

Monetisasi puisi dan keterampilanmu dengan produk digital serta tingkatkan pendapatan pasif dengan bangun aset digital bersama penerbit digital @ruangrasaproject.

Buku Terbaru!

Press enter or click to view image in full size
Pesan buku terbaru saya berjudul 30

30 — Buku puisi (cetak) yang merekam beberapa sudut kehidupan Agoy Tama dalam 30 tahun terakhir.

Ikuti medsos saya untuk info selengkapnya: instagram.com/agoytama

--

--

Agoy Tama
Agoy Tama

Written by Agoy Tama⁠

Perajinkata™ + Penyair Digital. Merajin kutipan, puisi, dan buku. Sarjana Sastra Universitas Negeri Malang 2021. Memonetisasi puisi @ruangrasaproject.