Love and War
phase 1: setiap kemenangan harus dibayar setimpal oleh pengorbanan pelakunya
baca pelan-pelan aja ya, sorry if there’s any typos. more happy if you put feedbacks after reading. thankyou!
Skylight kota Bangkok selalu membuat Revi tersenyum, disamping tangannya yang selalu mengusap perut gembulnya, lelaki manis itu tetap menatap sekelilingnya dengan penuh kekaguman. Alasan dirinya ingin melangsungkan liburan bersama suami dan anaknya yang masih didalam perut, bukan semata-mata hanya karena ingin menghabiskan waktu bersama. Tapi Revi memang sedang rindu dengan kota ini, terutama rasa kangen dengan temannya.
Teman akrabnya dari kecil, Alton, yang memang tinggal disini sejak memilih berjauhan dari keluarganya yang di Inggris.
Hamim tidak tau kalau niat Revi sebesar itu, dia hanya tau jika keinginan suaminya ini sebagai bentuk nyidam. Belum lagi beberapa hari lalu mereka terlibat pertengkaran, Hamim merasa liburan kali ini bisa menjadi ajang benar-benar berbaikan.
Sebab Hamim tau kalau hatinya masih ada rasa mengganjal.
Sebab Revi juga paham bahwa keduanya masih harus banyak berbincang agar semuanya kembali seperti semula.
Tapi apa tadi… Hamim yang mencoba mengajak Revi untuk merencanakan kegiatan selama disini justru dijegal dengan omongan bahwa dia ingin menghabiskan sedikit waktunya untuk temannya.
Sebenarnya Hamim tidak masalah, namun apa harus Revi mengabaikan pesannya sampai dirinya tidak sadar kalau Hamim cemburu?
Iya, Hamim cemburu.
Seorang Hamim Adiputra adalah manusia yang susah untuk berbagi, baik soal kepemilikan barang ataupun orang yang dia sayang.
Mereka sekarang masih berjalan di sekitar Siam Square, melihat banyak anak muda dengan dandanan khasnya berlalu-lalang. Belum lagi hari ini adalah weekend, tentunya daerah itu semakin ramai oleh orang lokal maupun turis seperti keduanya.
Perutnya masih diusap perlahan, bibirnya mencebik kesal karena Hamim hanya membiarkan lengannya digandeng oleh Revi tanpa wajahnya mau menoleh ke arah suaminya.
Revi jadi ingin cepat-cepat sampai hotel. Pesanan mobil online mereka masih menuju kesana, tepatnya di titik seberang British Council sehingga keduanya butuh waktu beberapa menit untuk berjalan di sisi tersebut.
Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya mobil pesanan mereka datang. Revi langsung dibantu Hamim untuk masuk kemudian diikuti oleh dirinya sendiri.
Di dalam mobil tidak banyak perbicangan, hanya sang supir yang beberapa kali bertanya “sudah berapa kali kesini” dengan bahasa Inggris seadanya. Mereka juga menjawab dengan sopan, setelahnya tidak ada obrolan lagi.
Revi jengah, apa Hamim memang tersinggung dengan ucapannya tadi? Dia tidak bermaksud untuk cuek pada suaminya, dia hanya senang berkunjung kesini setelah sekian lama hanya menetap di Jakarta.
Terdiam cukup lama, mata Revi hanya fokus pada navigasi mobil. Revi bisa melihat bahwa jarak hotelnya sudah tidak jauh lagi. Dilain sisi, tangannya dengan perlahan meraih tangan kiri Hamim untuk digenggam dengan cukup erat sampai jemari mereka bertautan. Hamim yang merasakan itu menunduk sejenak, matanya melirik sejenak pada suaminya yang masih tidak menoleh ke arahnya. Tatapannya juga beralih pada perut Revi yang sudah terlihat cukup besar untuk ukuran hamil dua bulan.
Hamim tersenyum kecil, hatinya merasa hangat melihat perkembangan anaknya yang baik didalam sana. Dia senang menatap perut menggemaskan itu. Dengan begitu, tangan kanannya yang kosong langsung meraih perut Revi dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang.
Otomatis, tangan kiri Revi yang mengusap perutnya juga ditimpa oleh tangan Hamim. Jari mereka bersentuhan samar, keduanya hanya ingin menyayangi anak mereka dengan cara yang sama.
Bibir Revi yang cemberut perlahan membentuk senyum tipis.
Meskipun Hamim marah padanya, setidaknya dia masih ingat kalau anaknya butuh disayangi.
Meskipun Revi diam disampingnya, setidaknya dia tau bahwa kehamilannya nyata dan perlu dilindungi.
Helaan nafas pasrah terdengar di telinga Revi, Hamim sepertinya ingin membuka obrolan… tapi yang lebih muda tidak berusaha mendesak, dia menunggu sampai suaminya memilih waktunya sendiri.
Mulut Hamim tidak kunjung bicara, jujur saja agak membuat Revi gregetan.
“Hamim…”
“Iyaa?”
Jeda sebentar dipakai Hamim untuk menoleh pada suaminya. Senyum Hamim tersemat disana, tentu saja disambut Revi dengan genggaman tangannya yang semakin erat.
“We need to talk, buat semua hal yang bikin kita nggak nyaman. Aku kangen sama kamu. Aku kangen, Mim…. aku ngambil liburan ini biar bisa lebih ngehabisin waktu sama kamu. So, can you just being nice to me? Bukan hanya untuk aku, tapi untuk anak kita.”
Ibarat diberikan pertanyaan berat, Hamim hanya bisa mengerjapkan matanya tanpa bisa menjawab apa-apa.
Revi rindu padanya.
Revi ingin membuat waktu bersama ini menjadi kenangan yang baik.
Revi juga meminta agar Hamim mencurahkan kasih sayangnya kepada anaknya yang ada didalam perut.
Dengusan kecil keluar dari bibir yang lebih tua membuat Revi sedikit menyipitkan matanya.
“Kamu masih menganggap saya cemburu sama temen kamu?”
“Is that true, right? Before that, aku juga pengen lebih banyak ngobrol sama kamu setelah 3 hari kemarin kita terlibat sedikit pertengkaran.”
Ternyata Revi paham, Revi sangat memahami dirinya.
“Saya nggak secemburu itu, tapi kamu janji liburannya sama saya. Saya juga pengen menghabiskan waktu sama kamu lebih banyak. Kamu juga bilang kemarin minta dijenguk adeknya… it’s very long time since I touched you, right? Dan iya, saya juga kangen sama kamu. Kangen sekali….”
Hamim memberi jeda sejenak sebelum membuka mulutnya kembali dan mengeluarkan kalimat lain.
“But you know, kadang hati saya juga nggak bisa bohong. Ternyata omongan kita beberapa hari lalu masih berdampak sampai sekarang. Saya tau kalo liburan ini kamu rencanakan sekalian untuk bikin kita baikan. I know what you are thinking, Rev… but what can I do? Emosi saya masih disini, belum sepenuhnya pulih meskipun saya mencoba dengan keras.”
Hamim sampai mendesah pasrah, tatapannya yang semula terfokus pada wajah suaminya perlahan beralih. Dia tatap jendela kaca mobil yang memantulkan tatanan kota Bangkok diluar sana. Bibirnya dikulum sendiri sebelum mengeluarkan kata lagi.
“I miss you, I wanna see you as long as I can. But my feeling, tidak bisa mereda semudah itu. Mungkin saya yang salah karena terlalu banyak berpikir, tapi kamu harus tau… kalo saya sayang sekali sama kamu. Sayang sekali sama anak kita. Saya sayang sekali sama apa yang kita punya sekarang.”
Ucapannya berhasil membuat Revi terdiam, tangannya yang masih menggenggam tangan Hamim semakin mengerat disana. Kepala Hamim menoleh kembali ke arah Revi, disana bisa Revi lihat bahwa tatapan mata yang lebih tua begitu sendu.
“Kamu bilang saya harus baik sama kamu. Saya juga minta hal yang sama. Can you just being nice to me after all things that I do for you, Rev? Because it’s never been healed until now, it would never, sayang.”
Mulut Revi yang biasanya berbicara asal-asalan akhirnya hanya bisa terdiam. Tatapan Hamim padanya begitu penuh permohonan.
Permohonan untuk berubah.
Permohonan agar diberikan kesempatan supaya dirinya bisa merasakan artinya dimengerti oleh orang yang dia cintai.
Permohonan yang mengisyaratkan kalau kalimat itu adalah peringatan terakhir baginya.
Tawa getir hadir di bibir yang lebih muda, tatapan Hamim sudah turun ke arah genggaman tangan mereka. Lelaki yang lebih tua bisa merasakan bahwa tangan Revi semakin erat meremas tangannya.
Seperti orang yang ketakutan akan ditinggalkan sendirian.
Hamim yang menyadari kegelisahan suaminya secara perlahan membalasa genggaman Revi. Pandangannya menyorot kesana dengan telinga yang masih sibuk mendengar tawa getir suaminya.
Revi menoleh lagi pada Hamim.
“I thought, kesederhaan kamu dalam menyikapi sesuatu sudah cukup buat aku kagum. Ternyata cara kamu dalam menahan sakit hati lebih buat aku merasa nggak ada apa-apanya dibanding yang selama ini kamu lakuin, Mim.”
Bibir Revi agak bergetar, jalan diluar masih diselingi ramainya kendaraan tapi didalam mobil yang menyusuri kota Bangkok itu ada dua manusia yang berusaha memperbaiki segalanya.
“Aku nggak pernah bermaksud bikin kamu kesakitan, tapi nyatanya semua sikapku berbanding terbalik sama mauku.”
Revi terdiam lagi sambil terus menatap Hamim. Perutnya yang sudah membuncit perlahan diusap sendiri oleh tangan satunya. Senyum tipis hadir ketika dia menunduk, bergantian melihat perutnya yang sudah membesar lalu menuju genggaman tangan mereka.
“Aku senang hidup sama kamu, aku juga senang bisa punya buah hati sama Mas Hamim. Did you being glad for that, Mamas?”
“I did. Selalu bersyukur bisa dikaruniai anak yang ada di perut kamu. Saya merasa bahagia juga hidup sama kamu sampe sekarang.”
Revi mengangguk perlahan, sekarang kedua tangannya menggenggam tangan kanan Hamim. Duduk mereka semakin berdempet dan hembusan nafas berat mengisi mobil yang membawanya ke hotel.
“Revi minta maaf ya, Mas Hamim… buat semuanya. Buat rasa egois yang masih ada, buat ucapan yang seenaknya, buat segala sakit yang kamu rasakan. Apa setelah ini kamu masih mau meneruskan hidup sama aku?”
Jujur, Revi gelisah.
Hamim bisa menjatuhi hukuman perceraian padanya kapan saja, melihat latar belakang hubungan mereka yang kacau-balau pada awalnya.
Tapi Revi lupa, Hamim adalah segala bukti nyata manusia yang bisa dipegang omongannya. Hamim tidak sepicik itu untuk meninggalkan segala hal yang sudah dibangun, apalagi sekarang mereka sudah menjadi calon orang tua.
Kehidupan mereka kedepannya pasti tidak selalu mulus, kebahagiaan masih tetap harus ditumbuhkan, tapi Hamim masih mau disini.
Hamim masih mau membersamai Revi sampai waktu yang tidak bisa dia jangkau.
Senyum tipis Hamim tersemat ketika Revi semakin merapatkan badannya. Hamim sadar kalau hari ini Bangkok masih mengedarkan hawa dingin setelah hujan tadi siang, meskipun suasana tetap ramai diluar sana.
Hamim sudah memutuskan, permintaan maaf Revi bisa diterima.
“Saya juga minta maaf kalo selama ini tanpa sadar mengekang kamu. Kamu bisa ngomong apa aja sama saya, Rev…. tapi please dengan nada bicara yang enak didengar. Coba bedain posisi dimana kamu mau bercanda dan ngobrol serius sama saya. Bisa ya, sayang?”
Hati Revi langsung lega tanpa beban, dirinya bergeser semakin memutus jarak diantara keduanya. Hamim yang berada di sisi kanan mobil juga ikut bergeser sampai sisi tubuhnya menempel pada pintu mobil.
“Bisa, terimakasih masih mau berbaik hati sama aku. Habis ini kita sampai di hotel, janji nggak marahan lagi ya…. aku kangen sama kamu soalnya…”
Revi memeluk lengan kirinya, Revi menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, Revi juga mengusalkan wajahnya di lengan atas Hamim sampai empunya tersenyum miring.
“Kayak kucing, Marevi.”
“Iya, aku kembarannya Rebella. Mamas Hamim lupa ya?”
Mata Hamim yang semula memancarkan tatapan sendu sudah mulai mengerling geli mendengar ucapan suaminya lagi.
Hamim menoleh ke arah suaminya, tangan kanannya perlahan menuju perut Revi dan mengusap disana.
“Adeknya nakal nggak hari ini, sayangku?”
‘Sayangku’
Revi tidak salah dengar, Hamim benar-benar mengucapkan kata keramat itu. Setelah 2 tahun lebih mereka menikah, akhirnya Hamim perlahan meruntuhkan jiwa idealisnya sendiri.
‘Sayangku’ katanya.
Revi yang mendengar langsung terkekeh kecil, merasa salah tingkah dengan ucapan suaminya. Hamim masih tidak sadar, dirinya hanya mampu mengernyitkan dahi dengan heran ketika Revi menepuk lengan kekarnya yang dijadikan tumpuan kepala Revi.
“Aku salting….”
“Hmm?”
“Kamu nggak sadar sama omonganmu sendiri?”
“Saya memangnya ngomong apa? Saya cuma tanya adek bayi nakal atau enggak hari ini.”
“You said ‘sayangku’ before, Mas Hamim…”
Hamim mengerjapkan matanya sejenak, benarkah dirinya mengluarkan kata itu?
“Did I, Rev?”
“Iyaa! Panggil aku begitu terus dong, biar kayak suami beneran.”
“Selama ini emang kita apa? Main nikah-nikahan?”
“Gatau. Menurutmu aja gimana.”
Dengusan kecil Hamim terdengar setelahnya, membuat Revi tersenyum manis.
Senang rasanya bisa berbincang dengan Hamim seperti sedia kala.
“Sudah mau sampai hotel, Mamas.”
“Iyaa, habis ini mau tidur langsung?”
“Hmm…. kemarin aku dengar dari dokter, kalo aktivitas seksual diperbolehkan selama main aman.”
Hamim mendengar ucapan itu dengan seksama.
Apa sebegitu rindunya Revi padanya sampai tidak mau berbasa-basi lagi.
“Then?”
“I told you that I miss you so much…. Kamu nggak kangen sama aku?”
“Saya tadi bilang kan kalo belum nyentuh kamu semenjak hamil, jadi ya nggak mungkin saya bilang nggak rindu.”
“RINDU RINDU! BAHASAMU KAYAK ABG LABIL!”
Revi tertawa sendiri dengan ucapannya, Hamim hanya sanggup menggelengkan kepala. Tanpa mereka berdua sadari, supir yang mengendarai mobil itu ikut tersenyum melihat sepasang sejoli yang asyik berbagi cerita. Even he doesn’t know the languages that they used to, but he understand… two person behind him are falling in love so deeply.
Dari sini Revi mengerti, bahwa yang namanya mimpi yang ditinggalkan akan terus menjadi ingatan buruk meskipun sebagian dari mereka mengatakan baik-baik saja.
Dari sini Hamim juga mengerti, bahwa seorang anak yang tidak diberikan hak untuk memilih akan selalu mencari celah agar dirinya bisa bebas dengan caranya sendiri.
Mereka akhirnya belajar, tidak ada pribadi yang benar-benar sempurna.
Hanya ada hati yang ditekan habis-habisan sampai keduanya mampu menganggap bahwa semuanya akan menemukan hasil yang baik di masa depan.
Helaan nafas Revi terdengar ketika dirinya berhasil mencapai dapur yang ada didalam kamar hotelnya untuk mengambil air putih. Dalam kondisi hamil begini, kelelahannya ternyata cukup terasa. Dirinya bahkan berlari kecil untuk masuk kedalam kamar sampai Hamim menegurnya.
Tapi, dirinya baik-baik saja. Hamim tidak perlu khawatir.
Keduanya tidak ada dalam satu tempat sekarang, Revi masih didapur dan Hamim tetap di ruang depan. Lelaki yang lebih berdiri di dekat jendela sambil menatap langit yang perlahan semakin gelap.
Revi tau kalau pikiran Hamim masih berkelana, dengan itu dirinya beranjak dari dapur untuk menghampiri suaminya.
Kemeja warna hitam emas menjadi pemandangan pertama Revi ketika melihat punggung suaminya. Cara berdiri Hamim begitu gagah, Revi jadi tersenyum sendiri mengingat kalau suaminya ini masih sama seperti dulu.
Masih menjadi sahabat baiknya.
Masih menjadi orang pertama yang diajak berbincang ketika gundah.
Hamim masih menjadi manusia paling dipercaya oleh Revi.
Kakinya berjalan pelan sambil tangannya menyangga perutnya yang sudah menyembul lucu, Revi ingin menggapai Hamim dan memeluknya dari belakang.
Rasanya dia ingin diberi kehangatan yang nyaman malam ini oleh suaminya.
Mungkin juga, anak didalam kandungannya ingin segera bertemu dengan sang bapak.
Lamunan Hamim didepan jendela besar otomatis terhenti ketika merasakan rengkuhan tangan yang disayang.
Senyumnya muncul lebih lebar kali ini karena dia bisa merasakan Revi yang mengusalkan wajahnya di punggung tenggap itu. Gumaman halus juga terdengar sebagai tanda bahwa Hamim memang dipeluk dari belakang oleh lelaki mungil yang sekarang tengah hamil muda.
Tangan Hamim terulur lalu menepuk-nepuk tangan Revi yang ada di pinggangnya.
“Sudah minum?”
“Sudah… haus banget aku tadi, kayak abis lari maraton.”
Hamim tersenyum miring lagi, suaminya ini sering membuatnya pusing tapi celetukannya selalu berhasil membuat dirinya tersenyum.
“Adeknya diajak lari-lari berarti ya?”
“Heem, mantul-mantul gitu ya jadinya terus aku capek!”
“Ngomong apasih kamu, Revi…”
Revi hanya mampu mendengus atas balasan Hamim, kepalanya semakin menempel di punggung suaminya, pastinya dengan jarak perut yang aman karena dia masih ingat kalau anaknya memperhatikan mereka.
“Kamu kenapa bengong disini, Mim? Masih ada yang dipikirkan ya?”
“Lima puluh persen benar, lima puluh persen salah.”
“Stop main teka-teka njir! Adeknya udah pengen dijenguk bapak!”
Hamim terkekeh geli, Revinya ini tidak sabaran ya sekarang.
Lelaki yang lebih tua masih betah menikmati pemandangan kota Bangkok dari lantai 12 hotel yang mereka tempati, sekaligus menyamankan diri atas pelukan hangat Revi diikuti dengan usapan tangannya diatas punggung tangan suaminya.
“Tiga minggu lagi, kita harus ke Inggris. Buku saya belum bisa terbit sampe sekarang di Kanada. Saya mikir aja, kalo bukti yang mau saya kasih ke Mommy kamu belum ada sampe sekarang, terus nanti saya gimana kalo sudah sampai Inggris?”
Revi terdiam mendengar tutur kata suaminya.
Kalimat Hamim berisi kekhawatiran, bukan hanya untuk dirinya tapi untuk suaminya juga.
“Memangnya belum deal ya kerjasamanya sama penerbitan di Inggris?”
“Sudah, sayang. Tapi diundur, saya belum dikabari lagi sama Dias.”
Revi ingat kembali, Dias adalah saudara kembar Hamim yang setia membantunya.
Revi menghembuskan nafas pelan, sebenarnya hatinya sedikit berat mendengar ucapan itu. Semua yang dilakukan Hamim sudah lebih dari cukup menurutnya.
“Mim… apa aku boleh berpendapat?”
Hamim yang mendengar itu ingin sekali berbalik badan tapi Revi menahannya agar tetap di posisinya.
“Jawab aja, kalo boleh… aku sangat berterimakasih.”
“Boleh, selalu boleh.”
Hamim lebih mengusalkan wajahnya lagi ke punggung Hamim sampai kemeja yang dikenakan suaminya itu sudah kusut di bagian belakangnya.
“Sebenernya aku oke-oke aja dan sangat gapapa kalo nggak ke Inggris. I mean… nanti aku bisa bilang ke adekku kalo dokter kandunganku belum izinin aku buat penerbangan jauh.”
Get nis’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Jeda sebentar, Hamim masih diam dengan maksud ingin mendengar ucapan suaminya lebih jauh.
“Aku gamau kamu debat lagi sama Mommy…. kalo sama Daddy masih bisa ditoleransi, tapi Mommy? She’s just like me. Keras kepala dan terlalu tau apa yang dia inginkan. Nava yang kakakku aja kadang gabisa ngobrol sama Mommy. Resha sama Asher emang cuek dan bodoamatan, tapi aku? Terus kamu, gimana? Kita udah melakukan banyak hal yang buat Mommy nggak nyaman. Balik lagi, semua karena aku dan kamu juga jadi kena imbasnya.”
Hamim menukikkan alisnya mendengar ucapan suaminya, dia bisa menerka kalau Revi sekarang mulai menyalahkan dirinya sendiri lagi.
“Mommy sudah beda dari dulu, Revi. Mungkin memang masih keras kepala, masih sanggup mengatur apapun yang pengen dia tangani. Tapi mommy sudah mulai sadar.”
Revi yang mendengar itu, otomatis merasakan jantungnya yang berdetak sedikit kencang.
“Waktu tau kamu hamil, Mommy sangat bahagia. Saya bilang ke Mommy dulu kalo kamu mau chat waktu itu, setelahnya… Mommy chat saya dan berucap terimakasih. Jujur aja, Rev… saya ya masih selalu ingat sama ucapan Mommy kamu. Siapa yang bisa nggak trauma ketika tiba-tiba datang ke rumah besar orang terpandang disana lalu dihalau berbagai ucapan yang mengharuskan saya melepas apa yang sudah saya punya?”
Emosi Hamim hampir naik tapi Revi langsung merengkuhnya lebih erat sehingga dia sadar kalau tidak boleh menggunkan egonya dulu.
Semuanya sudah dipilih.
Pilihan Hamim tidak bsia diubah dan tentunya dia tidak ingin menempatkan Revi pada posisi yang kurang menguntungkan.
“Mommy kamu cuma nggak suka sama tulisan saya, saya tau. Makanya dia pake berbagai macam alasan buat bikin saya percaya kalo dalam sebuah rumah tangga harus ada satu yang menuntun, bukan berjalan berdampingan. Sedangkan kamu awalnya tidak direstui mimpinya, dengan adanya saya datang kesana langsung bikin Mommy seperti kamu dapet jackpot.”
Hamim terkekeh samar, dia masih ingat betapa bodohnya mereka berdua dimanipulasi sebegitunya oleh orang yang selalu dipanggil Ibu.
“Bahkan Mommy kamu nggak tau kalo tulisan kita beda genre kan?”
Revi yang mendengar itu hanya sanggup mengangguk, sebab Mommnya tidak mau mengerti pada awalnya.
Mereka hanyalah korban.
Revi mulai merasakan matanya sedikit memanas, tapi dia tidak ingin menangis. Anaknya yang didalam perut tidak boleh merasakan kesenduan kedua orang tuanya.
“Maka dari itu, saya mau terbitkan tulisan saya. Biar bisa dia bandingan sama tulisan kamu. Kenapa kok nggak pake tulisan yang lama? Nggak bisa, karena yang sekarang kerjasama dengan penerbitan Inggris. That means, lebih meyakinkan karena Mommy kamu bisa tau sendiri hasilnya setelah berhasil terbit. Saya yakin kalo tulisan saya nggak berdampak apapun buat Mommy, nggak seperti Ally... adiknya. Kamu juga bukan Ally, mimpi kalian boleh sama tapi kalian beda.”
Revi tau sekarang, Hamim melakukan ini bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk dirinya sendiri.
Supaya tidak dipandang sebelah mata.
Supaya segala persepsi buruk bisa sirna.
Supaya dirinya bisa lebih lega setelah mengalami keterpukuran yang begitu banyak.
Revi jadi ingat betapa gigihnya Hamim waktu masih kuliah. Dikenal banyak orang, sering dimintai tanda tangan karena semuanya mengenal nama pena sang “Tinta Hitam”.
Tangan Revi sebelah kanan beralih untuk mengusap perut penuh otot milih suaminya, berusaha memberikan sentuhan langsung tanpa batasan tangan yang lain.
“Aku bangga sama kamu, Mas Hamim. Aku beruntung ketemu kamu sejak sepuluh tahun yang lalu. Makasih ya, udah mau bertahan sampe sekarang sama aku. Banyak bantuin aku juga, bikin keluarga kita jadi dekat meskipun cuma Ibu yang cantik dan Mommy. Tapi kamu juga deket sama Nava sih, jadi yaa… okeee.”
Revi menghela nafasnya pelan sebelum dia melepaskan rengkuhannya.
Badan Hamim dibawa untuk menghadap dirinya, perut gembul itu langsung terlihat ketika Hamim menunduk sebentar, lalu mata mereka saling bertatapan lagi untuk sekedar menyampaikan rasa sayang.
Hamim tersenyum kecil lalu dia mengambil bagian dengan merengkuh pinggang Revi, memeluknya cukup erat tapi tidak menyakiti anaknya. Revi juga dengan senang hati mengalungkan tangannya di leher Hamim.
Jarak mereka sangat dekat, bahkan Hamim bisa mencium samar dahi suaminya yang masih mendongak menatapnya.
“Aku juga pengen ngelakuin banyak hal buat kamu, buat membenahi yang masih retak. Tapi malah kamu duluan yang ambil langkah.”
Kekehan kecil Revi mengundang senyum miring suaminya.
“Tapi aku juga nggak tau mau ngelakuin apa, aku nggak terbiasa mengambil langkah banyak selain keputusan besar untuk tinggal disini. Itu pun udah bertahun-tahun lalu waktu aku masih muda. Waktu itu orang rumah sebenernya nggak setuju, tapi aku maksa! Cih, emang Revi ini egois sejak bayi.”
Hamim sudah tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya.
“Thanks to Oliver yang udah stay di Bath sejak sekolah. Aku jadi kenal dia karena dia main terus sama Eimar tengil. Dia cerita kalo asalnya dari Jogja, terus bilang kalo makanan Jogja enak-enak jadi dulu aku nekat pindah ke Indo sendiri dan larinya ke Jogja dulu buat pertama kalinya. Kamu belum pernah aku ceritain, kan?”
“Belum, saya taunya kamu langsung di Jakarta. Kamu dulu kok bisa berangkat sendiri, sayang?”
“Duitku banyak, njir! Ngeremehin aku ya kamu ini.”
Iya, Hamim tau. Uang saku Revi saat sekolah tidak mungkin sedikit, mengingat darimana keluarganya berasal.
Turunan bangsawan Inggris.
Keluarganya masih berkerabat dengan pihak kerajaan.
Belum lagi Revi juga berteman dekat dengan Prince kedua Britania waktu itu.
“Duit saya juga banyak, Oma saya kan tinggal di Kanada. Jadi dari dulu selalu dapat kiriman uang lewat Ibu.”
“Lah iya juga, kamu juga tajir melintir. Kenapa kamu pura-pura jadi orang biasa aja pas dateng ke rumahku dulu?”
“Biar lebih dramatis. Sounds romantic juga kalo ada di dalam novel gitu. Lebih mendalami karakter, biar Mommy kamu lihat kalo saya sungguh-sungguh sama anaknya meskipun saya dari kalangan yang cuma mengandalkan kerja keras aja. Ya nggak, Rev?”
“Monyet! Nggak suka aku kalo ngomong terus tiba-tiba kamu pindah mode jadi penulis senior gini.”
Hamim tertawa keras, sudah cukup overthinkingnya, melihat Revi marah-marah lebih menyenangkan.
Badan yang lebih muda dipeluk lebih erat sampai Hamim bisa menyandarkan kepalanya diatas kepala Revi. Tangan kiri Hamim kembali mengusap perut menggemaskan suaminya.
“Sudah besar ya, sudah kelihatan kalo kamu lagi hamil. Nggak mau kasih tau pembaca kamu juga kabar baik ini, sayang?”
“Aku sampe lupa… kita kebanyakan cek-cok sih sampe lupa sekitar!”
“Kan sekarang sudah baikan, Marevi.”
Cup.
Hamim kecup sejenak kening suaminya, langsung membuat Revi semakin nyaman di pelukannya.
“Tapi aku masih heran, kenapa Mommy iyain pas aku bilang mau nikah sama kamu?”
“She knows.”
“Tau soal apa?”
“Mommy tau kalo anaknya jatuh di orang yang nggak salah. Pasti Mommy sudah suruh orang untuk cari tau dulu tentang saya. Latar belakang, pekerjaan, sampai materi yang saya punya.”
“Tapi kenapa Mommy gatau kalo kamu punya kembaran?”
“Rev, saya udah pisah sama kembaran saya sejak umur 14 tahun. Even mommy kamu ngulik latar belakang keluarga saya sampe di penjuru Indo juga nggak akan ketemu. Since then, he’s never coming back.”
“Itu juga alasan kamu pengen kuliah s2 di Kanada?”
“Nggak sepenuhnya benar, tapi nggak sepenuhnya salah. Saya ada kantor penerbitan disana, nggak cuma satu tapi dua. Sekarang semua dihandle sama Dias, he helped me a lot. Tapi saya kadang kasian aja, saudara kembar saya itu terlalu bengal tapi harus ditekan habis-habisan juga. Makanya saya mau kesana. Mau bantuin, tapi waktunya belum ada ya.”
Revi menunduk lagi, kalau saja Hamim tidak terjebak dengannya pasti dirinya bisa langsung pindah kesana.
“But that’s not your fault, sayang. Semua orang yang ada di keluarga besar saya juga tau kalo saya sayang sama kamu.”
“Kamu dari sebelum nikah udah sayang sama aku?”
“As a friend, yes.”
“Hiks…. sedihnya ayah dan adek bayi ini…. sampe menikah dan kontraknya habis masih dianggap teman. Tapi gapapa ya, dek. Sekarang bapak udah jatuh hati full-fullan sama ayah!”
Hamim gemas sekali rasanya, tangannya yang semula ada di perut Revi naik menuju wajah suaminya. Dia tarik kepala Revi agar bisa mendongak menatapnya.
“Banyak omong banget kamu, Belvoir.”
“Tapi kamu sayang sama aku jadi gapapa lah ya!”
Hamim tidak kuasa menahan dirinya, langsung saja dia berikan kecupan basah berkali-kali di pipi kanan dan kiri suaminya, membuat Revi menahan geli tapi juga merasa penuh hatinya.
Kecupannya selesai beberapa menit kemudian tapi Hamim masih betah menempatkan pipinya agar menempel di pipi suaminya.
“Mim…. ini kalo adegan romantis di novel, pas pelukan gini pasti langsung hidupin lagu. Lalu dansa, doing their sweet things, sambil senyum salting! GILA, AKU YANG GILA KARENA NGEBAYANGIN!”
“Capek dansa itu, kamu lagi hamil…”
“Ya aku bayangin aja loh, Mamas… nggak mau berdansa juga. Kalo misal mau ya kamu sambil gendong aku soalnya kan Revi lagi hamil anaknya Mamas. Nanti capek, nanti lelah, gabisaaaa!”
Hhhhh kesal sekali, cerewet betul mulut suaminya itu.
“Mau duduk aja?”
“Boleh. Makasih ya sudah pengertian.”
Hamim tersenyum kecil, berusaha menggandeng tangan suaminya lalu dibawa menuju sofa besar yang ada di dekat jendela juga.
Mereka masih bisa melihat cahaya di kota Bangkok malam itu dengan jelas karena Hamim membawa Revi duduk dengan bersandar di dadanya. Hamim menjadikan tubunya sebagi tumpuan dan memangku Revi dari belakang, Revi duduk dengan nyaman sambil menikmati usapan hangat suaminya pada perutnya yang mulai membesar itu.
Revi agak memiringkan badannya, sudah seperti bayi yang didekap erat oleh Hamim. Kepalanya semak bersandar dan Hamim tidak protes apapun.
Hembusan nafas Revi mengenai lengan kanan Hamim, matanya masih melihat keluar bagaimana Bangkok begitu indah disana.
“Mas…”
“Hmm?”
“Aku tadi bilang kan kalo mau ketemu temenku disini.”
“Iyaa, jadi?”
“Pengennya jadi, tapi kamu izinin nggak?”
“Mau saya temenin saja besok?”
“Boleh kalo memang kamu nggak masalah.”
“Kalo berdua aja sama dia jadi masalah, apalagi kamu lagi hamil. Saya nggak mau bayangin kalo orang-orang lihat kamu sama dia berduaan terus akhirnya mikir kalo anak di perut kamu ini anaknya temenmu itu. Pengen nonjok rasanya, Rev.”
Aduh…. Adi yang manis…. sangat manis menurut Revi.
Revi tersenyum geli mendengar kalimat posesif suaminya.
“Nggak heran kamu novel kamu dulu best seller banget, kalo nggak stop penjualan palingan juga masih ada di peringkat atas. Otak kamu terlalu banyak berimajinasi sampe nggak sadar udah kepenuhan…”
“Wajar kalo saya waspada, kamu itu suami saya.”
“Iyaa wajar, tapi ya jangan semua kamu cemburuin. Selena udah kebal kali sama kamu.”
“Ya anak itu kalo belum saya pecat kayaknya belum stop godain kamu. Dia kalo tau kamu hamil mungkin bukan patah hati, tapi malah mau cium perut kamu. Mikirinnya aja sudah bikin saya naik darah.”
Dasar Hamim posesif mentok.
Revi memeluk lengan kanan kanan Hamim, kaki mereka berdua diluruskan agar semakin nyaman.
“Aku nggak tau kalo kamu secemburuan ini, Mamas.”
“Ya kalo nggak cemburu malah nggak normal.”
“Tapi kamu nggak perlu khawatir soal temanku, nama dia Alton. Stay di Bangkok sejak kita awal kuliah. Satu-satunya temenku dari Inggris yang masih berhubungan sampe sekarang.”
“Jadi?”
“Jadi…. eumm….. dia pindah kesini juga hampir sama kayak aku. Dia mau hidup bebas, harusnya dia udah jadi pewaris deh.”
“What do you mean, sayang?”
“Hmm, jadi dia masih keturunan kerajaan langsung. Ya gitu deh… But he choose to live in normal life.”
What the hell…
Revi tersenyum samar sedangkan Hamim sudah melongo.
“Shit!”
“Ya shit! You don’t have to be shocked, Mamas!”
“Menurutmu aja, Marevi? Thinking about two people that share the same brain, kalian beneran udah gila. Tapi dia lebih gila. He’s not human at all.”
“Hidup bergelimang harta dan tahta nggak semenyenangkan itu, Mas Hamim…”
“I know, ya saya nggak pernah merasakan jadi bingung sedikit.”
“Dia nggak pake identitas asli kok, he knows the rules.”
Hamim hanya sanggup mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kalo keluargamu yang di Kanada, what the things that they do for life?”
“Oma punya bisnis properti sama growing up perusahaan lain juga yang bikin Oma jadi cukup sering jadi donatur pendidikan. Dias ya ngurusin kantor penerbitan, sekaligus bantu Oma. Hmmm apalagi yang pengen kamu tau?”
“Ibu kamu disini punya usaha catering cukup besar juga, tapi disana malah bisnisnya lebih banyak. Your family di Kanada…. dari pihak Ibu atau Ayah kamu, Mamas?”
Hamim tersenyum kecil tapi matanya menerawang jauh. Pertanyaan simple yang mampu membuat dia terdiam beberapa detik.
Kepalanya yang ada diatas kepala Revi semakin ditempelkan, kecupan hangat juga disematkan sambil dirinya mengusap perut suaminya.
“Dua-duanya, sayang. Maaf ya belum pernah ngajak kesana, soalnya pasti langsung ingat yang dulu-dulu.”
“Gapapa, aku cuma pengen lebih kenal sama keluarga kamu. Kedepannya kamu ada rencana berkunjung kesana nggak?”
Hamim mengangguk samar, sepertinya sudah cukup dia menutupi banyak hal dari suaminya.
“Disana… sangat menyenangkan. Mungkin, setelah dari Inggris kita kesana. Do you wanna come?”
“Sebentar ya… jadi kita tetep ke Inggris?”
“Gamau jadi pecundang, memangnya kita salah apa sampe nggak bisa kesana?”
Revi merengek kecil, nada tegas Hamim membuat perutnya hampir merasakan mulas.
“Yaudah iya nanti aku bilang ke Resha ya… tapi kamu harus jagain aku terus, kan aku lagi hamil…”
“Nggak lagi hamil aja saya jagain kok, sayang.”
Hamim cium lagi rambut suaminya yang sudah sangat kering karena belum keramas sejak kemarin. Tidak masalah, Revinya masih wangi.
“Aku mau.”
“Mau apa hmm?”
“Mau ikut ke Kanada kalo kamu memang pengen berkunjung. Kita berdua aja atau sama ayah dan ibu?”
“We’ll see later ya, sayangku.”
‘Sayangku’ lagiiiiiii.
Revi rasanya ingin ditelanjangi sekarang karena mendengar Hamim mengucapkan kata itu seketika membuatnya horny.
Sialan memang.
“Mandi yuk, Mamas? Mandi bersama adek bayi dan sayangmu ini. Mau tidak?”
Revi mendongakkan kepalanya, menatap dagu Hamim sebagai balasan. Hamim yang melihat itu hanya sanggup tersenyum kecil, dibawanya wajah Revi agar semakin mendongak dengan dirinya yang masih bersandar di dada Hamim. Lelaki yang lebih tua sepertinya juga sudah mampu menahan cinta kasihnya sehingga memilih menyematkan kecupan panjang di bibir suaminya.
Sedikit dilumat karena Revi juga betah berciuman dengannya.
Mata mereka sama-sama tertutup, di gedung hotel salah satu kebanggaan kita Bangkok, mereka memadu kasih diatas kecupan hangatnya.
Hamim menjauhkan wajahnya tapi Revi masih mendongakkan kepalanya. Lelaki yang lebih tua tersenyum geli melihatnya, dia bantu Revi agar kepalanya kembali pada posisi normal.
Pelukan Hamim semakin erat seiring dengan bahu yang lebih muda dikecupi dengan hangat.
“Sudah hamil malah lebih nakal, mau mandi bersama banget?”
“Heum, mau duduk berdua di bath-up sama Mamas. Masih banyak yang belum kita ceritakan lagi, jadi mau sambil ngobrol banyak sama Mas Hamim. Mau dipeluk, mau diusap-usap.”
Hamim tersenyum miring mendengar ucapan manja itu.
“Sebagai suami yang baik dan kita lagi liburan, jadi oke. We’ll do it.”
“Mamas sekalian jenguk adek, oke? Boleh ya?”
Revi sudah menengok ke belakang agar bisa menatap wajah suaminya, bahkan tangannya sudah menyapu pipi Hamim dengan usapan lembut.
Siapa yang bisa menolak?
Hamim menganggukkan kepalanya, sebab dirinya juga terpesona dengan Revi yang sedang hamil anaknya.
“Let’s meet adek bayi ya, sayangku.”
@mielrosee tbc.








