Sitemap
aprodhite arienna

aprodhite arienna

TWO’s BETTER THAN ONE, INNIT?

11 min readSep 21, 2026
Press enter or click to view image in full size

Note: Alpha!Max, Alpha!Franz, Omega!Charles has a vagina, minor pls dnfi, TW // Harshwords🔞

Kamar apartemen pribadi yang biasa dihuni Charles jika merasa lelah untuk berkendara lebih jauh ke apartemen satunya terasa sunyi, hanya menyisakan dengung rendah dari pendingin ruangan yang berusaha melawan panasnya Jakarta di luar sana. Charles Everette terbaring telungkup di atas tempat tidur king-size miliknya. Wajahnya terbenam di bantal, napasnya berat dan teratur, menandakan kelelahan yang luar biasa setelah seharian berkutat dengan maket dan revisi desain di kantor arsitek yang dibangun Papihnya. Punggung rampingnya yang terbungkus kaos tipis naik turun perlahan.

Pintu apartemen terbuka dengan bunyi klik yang halus. Dua sosok pria dengan postur tubuh dan wajah yang identik melangkah masuk. Maxion Caldero dan Franzio Caldero. Setelah mendapat pesan dari sang Omega, tanpa babibu mereka segera berkendara menyusul si Cantik.

Max dan Franz adalah dua Alpha dominan yang telah mengenal Charles selama 5 tahun, 3 tahun mereka berteman dan akhirnya sekarang memasuki usia 2 tahun berpacaran. Jangan tanya kenapa mereka membutuhkan waktu 3 tahun, Charles tipikal orang yang tidak peka. Max, mata biru yang lebih gelap dibanding kakak kembarnya, dengan aura intelektual yang tajam, membawa aura dingin namun posesif. Sementara Franz, dengan otot-otot yang tercetak jelas di balik kaos ketatnya, membawa energi yang sedikit lebih hangat namun tetap agresif. Rambut pirang gelap mereka sedikit berantakan membuat mereka semakin terlihat memanjakan mata memandang.

Mereka saling melirik, sebuah pemahaman tanpa kata terjalin di antara si kembar. Mereka tahu Charles mengirim pesan bahwa dia terlalu lelah untuk pulang ke apartemen bersama, namun bagi seorang Alpha, rasa lelah kekasih mereka adalah undangan untuk memberikan "perawatan" khusus untuk Omega mereka.

Max melangkah lebih dulu, jemarinya menyentuh bahu Charles dengan lembut namun menekan.

"Kamu kira kita bakal biarin kamu tidur sendirian malam ini, Sayang?" bisik Max, suaranya rendah dan bergetar di telinga Charles.

Charles tersentak. Dia mencoba mengangkat kepalanya, matanya mengerjap bingung.

"Max? Franz? Kok kalian disini?!"

Franz tertawa, suara beratnya bergema di ruangan itu saat dia merangkak naik ke tempat tidur, mengurung Charles dari sisi lain.

"Ya nyusul lah, Schatz. Jangan lupa dimana pun kamu, aku sama Max pasti bakal bareng kamu, kamu harus inget, kamu itu punya kita, termasuk lubang-lubang kecilmu yang manis ini."

Charles mencoba bergeser, namun lengan kekar Franz sudah mengunci pinggangnya, menarik tubuh ramping itu hingga menempel pada dada bidang sang Alpha.

"Franz, mon bebé, plss? I’m so drained today, like actually. Aku baru aja nyelesaiin proyek gede. Can i sleep first?" rintih Charles, meskipun suaranya mulai melemah saat aroma maskulin yang kuat dari kedua Alpha itu mulai memenuhi indra penciumannya.

"No, Princess. Justru karena kamu capek, kita di sini mau bantu kamu biar rileks," Max berkata sambil mulai menarik kaos tipis Charles ke atas, memperlihatkan kulit punggung yang putih dan halus. "Lihat ini, tegang banget otot-otot kamu. Kamu itu butuh dimanja, Charlie."

"Gak perlu, aku... anghhh!" Charles memekik saat Franz memberikan gigitan kecil namun tajam di tengkuknya, tepat di area kelenjar Omega-nya.

"You Know? Kamu gak bisa nolak kita berdua sekaligus, kan?" Franz berbisik, lidahnya menjilati bekas gigitannya. "Bau Omega kamu udah mulai berubah. Kamu udah terangsang, Princess. Jangan bohong."

"Aku enggak... ngggh... jangan di situ," Charles mengerang, tubuhnya mulai bereaksi. Sebagai seorang Omega terutama memiliki 2 alpha, sensitivitasnya jauh lebih tinggi. Gesekan pakaian dalam yang tipis terhadap klitorisnya mulai menciptakan percikan panas yang tidak bisa ia abaikan. Memeknya menjadi basah kuyup.

Max mengusap perut Charles, turun ke bawah hingga tangannya menyentuh bagian intim sang Omega. Dia bisa merasakan basahnya kain yang membungkus area sensitif itu.

"Oh, look this baby. Baru disentuh dikit udah becek. Memek kamu udah rindu kita berdua, ya?" seperti biasa Max dengan dirty talk yang membuat bertambahnya gairah mereka.

"Kalian berdua... brengsek bangethh," Charles mendesah, kepalanya terkulai lemas. Perlawanannya mulai terkikis oleh gelombang nafsu yang dipicu oleh feromon kedua Alpha tersebut.

Franz menarik Charles dengan kasar, membalikkan tubuhnya sehingga kini sang Omega menghadap mereka.

Max yang tidak mau kalah, mulai mencondongkan wajahnya ke arah leher Charles, menghirup bau Omega yang memabukkan, bau lavender dan vanilla bercanpur aduk, Max merasa mabuk kepayang. Beberapa detik kemudian Max mulai menjilat leher Charles, mengigit dan memberikan tanda kepemilikan pada leher Charles disetiap yang bisa ia jangkau.

“Ngghh, Maxie!! Jangan ditandain semua plshh. Aku besok masih kerja." Charles tidak bisa menahan desahannya, sensasi saat digigit juga membuatnya mabuk.

Franz awalnya menonton namun semakin bertambahnya gairah terlebih melihat adik kembarannya yang bringas membuatnya tak sabar.

Dia kemudian merobek celana dalam Charles dengan satu tarikan kuat, memamerkan memek yang basah dan berwarna pink, tersembunyi di antara pangkal paha pria cantik itu.

"Cantik banget, Sayang. Pink dan menggairahkan," puji Franz, matanya berkilat lapar.

"Aku... aku pengen mandi dulu pls. Aku ngerasa kotor banget dan keringatan sehabis kerja," Charles mencoba mencari alasan untuk mengulur waktu, meski napasnya sudah tersengal.

Max tersenyum tipis, sebuah senyum predator.

"Ide bagus. Aku sama Franz bisa mandiin kamu, Sayang. Sampai bener-bener bersih... dan sampai kita berdua puas isi kamu."

Max segera menggendong tubuh Charles seolah dia tidak memiliki berat badan, membawanya menuju kamar mandi mewah yang dilengkapi dengan shower besar dan bathtub marmer, diikuti Franz dari belakang. Charles hanya bisa mengerang saat punggungnya bersentuhan dengan dinding dingin mewah kamar mandi, kontras dengan panas yang membakar di bagian bawah tubuhnya.

Air hangat shower mulai mengalir membasahi tubuh mereka bertiga. Max dan Franz melepas pakaian mereka dengan cepat, menyisakan mereka bertiga dalam keadaan telanjang. Dua batang kontol Alpha yang besar, panjang dan berurat sudah menegang sempurna, menunjuk ke arah Charles yang tampak begitu rapuh di tengah-tengah mereka.

"Lihat diri kamu, Schat. Gemetar cuma karna ngeliat kontol kita berdua," ejek Franz sambil menyiramkan air hangat ke dada Charles, lalu menggosokkan sabun ke seluruh lekuk tubuh sang Omega.

"Sshhh... ahh... pelan, Franz," Charles mendesah, memejamkan mata saat tangan kasar Franz memijat bahunya, sementara Max mulai mengulum puting Charles dengan rakus.

"Coba bilang ke kita, Cha. Apa yang kamu pengen? Kamu pengen dikasarin, kan? Kamu pengen kita isi semua lubangmu itu, kan? Pengen kita isi sampai penuh dan peju kita merembes keluar dari lubang kamu?" Max bertanya di sela-sela isapannya, tangannya mulai bermain di memek Charles.

"Iyahh angghh... aku pengen... ah! Please, masukkin... aku udah gak tahan!" Charles akhirnya menyerah. Dia melengkungkan punggungnya, membuka kakinya lebar-lebar, memamerkan memek yang kini sudah sangat basah oleh cairan pelumas alami.

"Gua masuk duluan, lu ngalah dulu, gantian karna minggu lalu, lu udah duluan. Gua pengen rasain ketatnya memek Cha." ujar Franz. Max memutar bola matanya malas namun tetap menurut.

Sebelum memasukkan kontolnya, Franz membungkuk mengarahkan wajahnya di antara paha Cha, mejulurkan lidahnya mencoba menjilat memek Cha untuk penetrasi. Lidah Franz yang aktif tidak henti mengulum memek Cha, memainkan klitoris dan memaju mundurkan lidahnya. Charles menggelinjang merasa keenakan, jarinya cepat-cepat meremas rambut Franz dan mulutnya tak henti mengeluarkan desahan keras. Hingga dirasa akan crot, Franz sengaja menarik wajahnya menjauh, dan membuat Charles protes, namun Franz abai.

Franz tidak membuang waktu. Dia mendorong Charles hingga bersandar pada dinding shower, mengangkat satu kaki Charles dan menyampirkannya di bahunya. Hingga dengan 1 sentakan kasar memasukkan kontol besarnya ke dalam lubang memek Charles.

"AAAAHHH!" Charles berteriak, nafasnya tersengal-sengal. Rasa penuh yang luar biasa menyerangnya.

"Anghhh so big!! Franz, itu dalem banget engga kuat ahh, panasss!"

"Ssttt, nikmatin aja, Baby. aku tau kamu suka rasa penuh dan sesak kayak gini," Franz mulai bergerak, melakukan hentakan-hentakan pendek yang menghantam serviks Charles dengan keras.

Plok. Plok. Plok

Suara cairan yang teraduk antara kulit dan lendir memenuhi ruanganan yang lembap itu.

Max tidak tinggal diam. Dia melihat Franz yang sangat telaten memaju mundurkan kontolnya pada memek Charles. Kemudian dia meminta Franz mengarahkan Cha untuk membelakanginya. Dia membungkuk menatap anus sempit Charles, awalnya jari Max mencoba bermain dilubang anus Charles namun dia segera melepasnya dan menjilat lubang anusnya, sama seperti Franz yang memberikan penetrasi sebelum kontolnya masuk.

Dirasa cukup, Max lalu menambah perintah agar Charles mengalunkan kedua tangannya pada leher Franz dengan kedua kakinya memeluk pinggang lebar Franz agar memudahkan Max. Kemudian Max mulai mendorong kepala kontolnya masuk ke anus Charles. Kedua tangan Max memegang erat pinggir pinggang Charles dan menjaga Charles agar tetap seimbang dalam posisinya.

"Max! Bentar... ahh! Jangan dua-duanya langsung!" Charles terengah-engah, tubuhnya terguncang hebat karena serangan ganda dari depan dan belakang.

"Jangan manja, Schat. Kamu itu milik kita berdua. Kamu diciptain buat nampung peju kita berdua, kamu pasti bisa, Baby." Max berbisik, lalu mendorong kontolnya masuk sepenuhnya ke dalam anus Charles dengan beberapa kali dorongan kuat.

"NGGGHHH! OH GOD! AH! AH!" Charles menjerit, matanya memutar ke atas. Dia merasa seperti terbelah dua. Rasa sesak di memeknya dan tekanan keras di anusnya menciptakan stimulasi yang hampir melumpuhkan sarafnya.

Plak! Plak! Plak!

Suara kulit bertemu kulit bergema disertai tamparan Max pada pantat Charles menggema di sepanjang kamar mandi. Bola zakhar Franz menampar permukaan memek Charles setiap kali dia menghujamkan kontolnya ke depan. Sementara itu, Max melakukan gerakan memompa yang ritmis dan dalam dari belakang, membuat tubuh Charles terdorong maju mundur.

Get aprodhite arienna’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

"Gimana rasanya, Princess? Kerasa penuh? Kerasa sesak?" Franz bertanya dengan suara serak, keringat bercampur air shower mengalir di otot-otot perutnya yang keras.

"Penuh bangettthh... ahh... penuh! Aku ngerasa... aku bakal gila! Fasterhh pls, Franz! Max! Please lebih cepet!" Charles kini benar-benar menjadi binal dan hilang jati diri. Dia tidak lagi meminta mereka berhenti, kedua tangannya semakin erat memeluk leher Franz dan sesekali meremas rambut Franz.

"Liat, Franz. Lacur banget pacar kita ini. Tadi bilangnya sih capek, sekarang malah minta lebih, doyan kontol ya, Cha?" Max tertawa rendah, mempercepat tempo gerakan pinggulnya. Charles tidak merasa terhina malah kalimat tersebut membuat libidonya semakin naik.

“Ngghh iyahh, aku lacur kalian! Hancurin aku ahhh!" Max dan Franz menyeringai mendengar mulut kotor kekasih mereka.

"Aku pengen isi kamu sampai penuh, Cha. Aku pengen peju kita berdua penuhin rahim kamu."

"Iyaaa! Buat Cha hamil! Isi memek Cha sama benih kalian berdua! Cha pengen ngandung anak kalian! Kasih Cha bayi-bayi kalian!" teriak Charles histeris. Kata-kata kotor ala Cha kalo sange berat itu memicu adrenalin Max dan Franz hingga ke puncak.

Max dan Franz mengubah posisi mereka. Max memutar tubuh Charles dan mengarahkan tubuhnya sehingga kini Charles berada di atasnya, kedua tangannya menumpu pada pundak Max. Posisi ini membuat lubang-lubang Charles terbuka lebar, mengundang serangan yang lebih brutal. Kemudian Max memasukkan kontolnya yang masih tegang pada memek Charles.

Sementara Franz mengarahkan kontolnya pada anus Charles. Max mencium bibir menggoda Charles, bermain-main dengan lidahnya dan sesekali menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

"Sucking this little lips while my brother destroys your anal... what a view," gumam Max menambah kesan dominan.

Shlick. Squelch. Slap.

Suara persetubuhan itu semakin liar. Franz menghantam anal Charles dengan kekuatan penuh, tanpa ampun. Setiap hantaman membuat tubuh Charles berguncang hebat. Memeknya semakin menjepit kontol Max dengan sangat ketat, menciptakan hisapan yang membuat sang Alpha mengerang nikmat.

"Fuck, Schatje! Kamu ngejepit kontol kayak takut gak bakal dientot lagi, sialan! Kamu pengen aku keluar sekarang, ya?" Franz menggeram, mempercepat gerakan thrusting-nya.

"Ahhh! Iyaaahh! Crotin semuanya pleasee!" Charles meracau, air liurnya menetes saat dia merasakan kenikmatan yang hampir tak tertahankan.

"Gantian aku yang kasih dosis lebih brutal buat kamu, Yang," Max berbisik. Dia melakukan thrusting yang lebih dalam, mengincar titik paling sensitif di dalam rahim Charles.

"OH! OH! DI SITU! MAX, NGHHH DI SITU!" Charles berteriak, tubuhnya mengejang. Dia merasakan stimulasi yang begitu hebat hingga seluruh otot memeknya berdenyut-denyut, mencoba lebih-lebih untuk mencengkeram kontol Max.

Franz di belakang tidak mau kalah. Dia menggunakan jari-jarinya untuk meremas bokong Charles, menariknya agar semakin dekat sehingga tidak ada celah sedikitpun di antara mereka.

"Aku bisa ngerasain memekmu makin sempit, Yang. Kamu pengen bayi banget, ya? Kamu pengen kita kosongin semua peju kontol kita ke rahim kamu?" Max semakin menggoda Charles, raut wajah Charles sudah sangat memerah, dengan air liur yang menetes, dimasukin dua kontol sekaligus memang membuatnya hilang akal.

"Iya! Max! Aku mau cum! Aku mau keluar!"

"Belum saatnya, Sayang. Kamu harus tampung semua peju kita dulu," Franz memerintah, memperlambat gerakannya sejenak untuk menyiksa Charles dengan rasa penasaran yang menyiksa.

"Jangan... jangan berhenti... please..." Charles memohon, suaranya serak dan penuh gairah.

Max dan Franz saling melirik. Mereka tahu saatnya hampir tiba. Mereka meningkatkan kecepatan secara bersamaan. Serangan ganda yang sinkron, menghantam depan dan belakang dengan kekuatan maksimal.

Plak! Plak! Plak! Squelch!

"Max, gua mau keluar! Gua bakal isi Cha sekarang. Terima pejuku, Schat!" teriak Franz.

"Sial! Gua juga mau keluar, jadi wadah bayi kita, Yang!" Max menambahkan.

Dengan satu hentakan terakhir yang paling dalam, Max menghujamkan kontolnya hingga pangkal, tepat saat Franz melakukan hal yang sama di lubang anal. Pada saat yang bersamaan, kedua Alpha itu mencapai puncak.

"AAAAHHHHHH!"

Charles menjerit kencang, tubuhnya melengkung kaku. Dia merasakan banjir cairan hangat yang menyembur deras di dalam memek dan anusnya. Peju panas milik Max dan Franz memenuhi rongga tubuhnya, meluap keluar dari celah-celah yang tidak mampu menampung banyaknya volume air mani tersebut.

Di saat yang sama, Charles mencapai orgasmenya sendiri. Cairan bening menyembur dari memek kecilnya, membasahi lantai marmer kamar mandi. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya terputus-putus, sementara kedua Alpha itu masih tetap menempel, membiarkan sisa-sisa ejakulasi mereka mengalir perlahan.

Hening sejenak, hanya terdengar suara air shower yang masih mengalir dan napas mereka yang memburu.

Franz perlahan menarik diri, membuat suara ‘pop’ yang basah saat kontolnya keluar dari anus Charles. Benang-benang lendir dan peju kental berwarna putih susu mengikuti, berlomba keluar dan turun di paha dalam Charles. Max juga menarik diri dari memek Cha, meninggalkan lubang yang terbuka lebar dan berdenyut, masih mengeluarkan peju putih yang meluap.

Charles merosot ke lantai, terduduk lemas dengan mata sayu. Dia tampak benar-benar habis, namun ada senyum puas di wajahnya.

Max berlutut di depannya, mengusap rambut Charles yang basah dengan lembut. Franz mencium kening Charles.

"Masih ngerasa capek, Arsitek kecil?"

Charles tersenyum lemah, menyandarkan kepalanya di dada Max.

"Kalian berdua ihhh... errr monster. Aku kayaknya gak bisa jalan deh besok."

Franz tertawa, mengecup kening Charles lagi dan menariknya ke dalam pelukan hangat.

"Itu tandanya kita ngelakuin kewajiban kita dengan baik, Yang. Sekarang, yuk kita bersihin kamu dulu sebelum pindah ke tempat tidur buat ronde kedua."

"Hah? Ronde kedua?!" Charles memekik, namun dia tidak mencoba melarikan diri saat kedua Alpha itu kembali mengangkatnya dengan posesif.

"Iyalah. Kamu pikir udah selesai? Belum dong, kita bakal pastiin kamu benar-benar 'keisi’, Sayang," bisik Max dengan nada nakal yang membuat Charles kembali merasa panas di bagian bawahnya.

Di bawah guyuran air hangat, mereka bertiga berbagi keintiman yang kasar namun penuh cinta. Charles, meskipun awalnya menolak, kini sepenuhnya terhanyut dalam dominasi kedua kekasihnya. Dia tahu kalo hidupnya penuh dengan tekanan pekerjaan, di pelukan Max dan Franz, dia menemukan tempat di mana dia bisa menjadi sepenuhnya Omega—lemah, manja, dan sangat dicintai.

Mereka menghabiskan waktu lama di bawah shower, saling menjilati dan menciumi setiap inci kulit yang masih terasa sensitif. Max mengusap sisa peju yang masih menempel di paha Charles dengan lidahnya, sementara Franz memberikan pijatan lembut di punggung yang tadinya tegang.

"Cha sayang, aku kepikiran deh pengen kamu hamil kali ini," gumam Max sambil menatap perut rata Charles.

"Brilliant. Ngebayangin kita punya bayi yang punya ciri khas dari kita bertiga, kayaknya lucu." tambah Franz.

Charles hanya bisa mendesah, dan memutar bola matanya malas. Menarik nafas sejenak dari rasa penuh yang masih tertinggal di dalam dirinya. Kelelahan fisik yang tadinya menyiksa kini berubah menjadi rasa kantuk yang nikmat, dibalut dengan kepuasan seksual yang absolut.

Sambil berjalan kembali menuju tempat tidur, Charles membisikkan sesuatu yang membuat kedua saudara kembar itu tersenyum lebar.

"Tapi lain kali... jangan terlalu kasar di awal dong. Pas akhir sakit tau, perih!"

Max dan Franz saling pandang, lalu tertawa bersama. Mereka tahu kalo permainan ini baru aja dimulai, dan malam masih sangat panjang untuk mengeksplorasi setiap sudut gairah sang Omega mereka.

Begitu mereka sampai di tempat tidur, Max mendorong Charles sekali lagi hingga terbaring telentang. Kali ini, tidak ada perlawanan. Charles membuka kakinya lebar-lebar tanpa diminta, sebuah undangan terbuka bagi kedua Alpha yang kini sudah kembali menegang.

"My bunny, Charles," bisik Franz.

"Dan kita berdua punya kamu," sahut Max.

Sesi selanjutnya dimulai dengan lebih lambat namun lebih intens, dengan setiap sentuhan yang lebih terukur, setiap ciuman yang lebih dalam, dan setiap hantaman yang lebih penuh makna. Mereka menghabiskan sisa malam itu dalam simfoni desahan, rintihan, dan suara basah dari persetubuhan yang tak kunjung usai, hingga akhirnya mereka bertiga tertidur saling berpelukan, terlelap dalam aroma feromon yang bercampur menjadi satu, menciptakan ikatan yang tak terpatahkan antara dua Alpha dan satu Omega yang sangat mereka jaga dan cintai.

--

--