“Ciye-ciye” di Dunia Kerja: Ketika Profesionalitas Kalah oleh Drama dan Rendahnya Kecerdasan Emosional
Dalam empat tahun masa kuliah di sebuah kampus seni, saya tumbuh dalam lingkungan yang cair secara sosial. Sebagai mahasiswa teater, saya terbiasa menjalin relasi intens dengan teman-teman laki-laki tanpa batas-batas kaku seperti yang sering dijumpai di lingkungan lain. Kami hidup nyaris dua puluh empat jam bersama: kuliah, latihan, makan, bahkan tidur di ruang yang sama karena tuntutan produksi.
Hubungan semacam itu membuat saya terbiasa menormalisasi kedekatan tanpa asumsi romantis. Kami bekerja, berkarya, dan bertumbuh bersama sebagai sesama manusia, bukan sebagai laki-laki dan perempuan yang harus saling menjaga jarak. Dalam ruang teater, tubuh dan emosi bukan alat rayuan, melainkan instrumen kerja. Kami menjadi genderless being dalam konteks kreatif — manusia yang saling mempercayai, bukan menafsir perasaan satu sama lain.
Namun pengalaman itu terasa seperti utopia yang runtuh ketika saya masuk dunia kerja, tepatnya industri media televisi. Ironis, karena saya pikir dunia kreatif justru akan melanjutkan atmosfer kolaboratif itu. Nyatanya, yang saya temui adalah lingkungan kerja yang sibuk menertawakan kedekatan, memelihara drama, dan menormalisasi perilaku tidak profesional lewat candaan receh.
Setiap interaksi antar lawan jenis sering diwarnai komentar seperti “ciyee”, “pasti ada sesuatu”, atau gurauan lain yang mereduksi profesionalitas menjadi gosip. Walau saya tidak menjadi korban langsung dari budaya semacam itu, atmosfer kerja yang dibangun di atas candaan dan asumsi tersebut sangat menguras energi. Fokus kerja sering terganggu karena batas antara relasi pribadi dan profesional menjadi kabur.
Get Penata Arsip’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Dalam jangka panjang, budaya “ciyee-ciyee” itu bukan cuma menyebalkan, tapi juga beracun. Ia membentuk lingkungan yang tidak aman bagi pekerja — terutama perempuan — yang hanya ingin dihargai karena kompetensi, bukan kedekatan.
Fenomena ini bisa dibaca lewat teori Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence) dari Daniel Goleman (1995). Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional mencakup kemampuan memahami dan mengelola emosi diri serta orang lain dengan sehat. Orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu dekat tanpa salah tafsir, bekerja sama tanpa baper, dan menjaga batas tanpa menjauhkan.
Sayangnya, dunia kerja kita sering gagal di sini. Ketika ruang kerja gagal menumbuhkan kecerdasan emosional, yang muncul justru budaya gosip, baper, dan ketegangan yang tidak produktif. Situasi ini bukan sekadar persoalan etika kerja, tetapi juga mencerminkan kemunduran sosial di kalangan pekerja muda: bahwa kedekatan dianggap ancaman, bukan bentuk kolaborasi sehat.
Dalam pengalaman saya pribadi, kelelahan bukan datang dari beban kerja, melainkan dari atmosfer sosial yang tidak profesional. Ketika interaksi sederhana harus diartikan sebagai potensi romansa, ruang kerja kehilangan makna sebagai tempat bertumbuh.
Maka, keputusan untuk mengundurkan diri bukanlah bentuk pelarian, melainkan kesadaran untuk menjaga integritas diri. Bagi saya, pekerjaan yang ideal bukan hanya tentang upah atau jabatan, tetapi tentang lingkungan yang menghargai kedewasaan emosional, profesionalitas, dan ruang aman bagi setiap individu untuk berkembang tanpa takut disalahartikan.
Kecerdasan emosional seharusnya menjadi dasar dari setiap ruang kerja modern — terlebih di industri kreatif yang menuntut empati dan kolaborasi tinggi. Karena tanpa itu, dunia kerja kita hanya akan jadi panggung gosip, bukan ruang kolaborasi.







