Bisa Saja
Lagi-lagi di siang hari yang panas ini aku melakukan kegiatan rutin di tiap minggu, yaitu mencuci baju-baju kotorku di laundry self service sekaligus coffeshop di dekat kosku itu. Seperti biasa juga, aku selalu sendiri sambil menatap layar laptopku yang tak jarang seringkali aku hindari tatapannya. Entah kenapa mataku yang rabun ini enggan menatapnya. Mungkin ada semacam monster atau air liur anjing yang menyelimutinya.
Get Atha Fathi’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Segelas es americano yang ku minum siang ini juga cukup memadamkan api yang ada di tenggorokan. Keren yah kebakaran di tenggorokanku bisa cepat sekali teratasi, beda situasi dengan kebakaran di Tanah Kalimatan. Padahal kalau dipikir-pikir api kebakarannya juga dihasilkan bersama-sama, seperti kerja kelompok Mata Kuliah Kebijakan Publik Global di semester 6 lalu. Ya mungkin saja apinya tidak terlalu suka es americano dan lebih suka es kopi susu gula aren yang ada di sekitar Jalan Kaliurang itu.
Andai saja tugas akhir ini bisa kutuntaskan dalam satu kali kedipan mata. Kalau saja bisa begitu, pasti Mamaku akan mengacungkan seribu jempol yang Ia punya kepadaku. Terkesan seperti bocah Taman Kanak-Kanak yang baru saja menghabiskan Makan Bergizi Gratis, namun bedanya aku tidak merasakan gejala lupa ingatan saja. Kira-kira kandungan apa yah, yang ada pada makanan tersebut?. Entahlah, mungkin juru masaknya sudah sejahtera hingga Ia juga ikutan lupa ingatan.



