Sitemap
Azani Gooniyah

Azani Gooniyah

Dear diary, I’m trying to survive on earth.

Nadin

2 min read3 days ago

Aku akan bercerita tentang Nadin, seorang anak perempuan yang beberapa hari lalu kutemui ketika aku mengunjungi Kampung Cahaya bersama kolega-kolega di kantor yang juga menjadi volunteers.

Saat itu sesi melukis dengan cat air di atas sampah kemasan UBC yang sudah dibersihkan, kami melukis di bagian aluminium foilnya.

Ketika aku sedang mendampingi Suci, yang mungkin umurnya 3 atau 4 tahun, Nadin sudah selesai melukis. Ia mendekatiku dan berkata, “aku sudah selesai,” lalu aku mengangguk dan memintanya untuk menunggu sembari kuinfokan pada pria yang bertugas untuk mengumpulkan lukisan, namanya Mas Fajar. Tak lama kemudian, Mas Fajar mengambil dan memuji lukisan Nadin, ia juga tak lupa memfoto Nadin dan lukisannya.

Nadin kemudian bertanya padaku, “kakak namanya siapa?” kujawab dengan senyuman, “Azani, kamu?”

Ia menjawab malu-malu, “Nadin.”

“Cantik namanya.” Ujarku yang kemudian merangkulnya sambil sesekali memperhatikan Suci.

“Aku punya hadiah sesuatu untuk kakak.”

“Apa?” jawabku penasaran, kupikir ia hanya bercanda.

Nadin merogoh saku celananya.

“Kakak merem dulu!”

Aku memejamkan mata, menuruti permintaan Nadin.

“Buka matanya!”

Get Azani Gooniyah’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Lalu di depan mataku, ada tangan kecil Nadin dengan mainan lucunya, suatu karakter untuk dipajang.

Aku tersenyum girang, “terima kasih! Ini benar untuk aku?” ucapku memastikan ia tidak akan menyesal.

Ia mengangguk.

“Kakak terima ya, terima kasih ya sayang.”

Ucapku pada Nadin.

“Sama-sama, kakak simpan ya, jangan hilang.”

Aku mengangguk, lalu Suci mulai meminta perhatianku kembali yang sempat teralihkan darinya. Aku kembali mendampingi Suci melukis.

Beberapa tahun ke depan, Nadin, Suci, dan banyak anak-anak lainnya yang saat ini tidak tahu apa-apa akan bertanya-tanya, mengapa hidupnya berbeda dengan yang lain?

Apakah karena dirinya pemalas? Atau orang tuanya pemalas? Padahal mereka bekerja dari pagi hingga sore, bahkan malam, walau mungkin pekerjaannya tidak begitu menghasilkan. Tapi tidak pantas untuk disebut pemalas.

Setidaknya, mereka tidak mengemis.

Anak-anak itu akan bertanya, kenapa untuk makan sehari tiga kali saja menjadi suatu kemewahan, kenapa hal dasar seperti pendidikan saja harus menjadi suatu privilege, kenapa bekerja dari pagi hingga malam tidak cukup untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak, ah… jangankan tempat tinggal layak, menstrual pads saja akan menjadi suatu kemewahan untuknya, padahal itu adalah kebutuhan dasar wanita. Kenapa sulit sekali untuk memutus rantai kemiskinan ini? Siapa yang harus bertanggung jawab jika bukan pemerintah?

Apa ini salah anak-anak seperti Nadin dan orangtuanya? Atau karena memang kemiskinan struktural ini tidak pernah benar-benar dibenahi?

Semoga kelak Nadin, Suci dan anak-anak lainnya dapat mengemban pendidikan setinggi-tingginya, memutus rantai kemiskinan dan menjadi sosok yang berpengaruh untuk negeri ini.

Press enter or click to view image in full size

--

--

Azani Gooniyah
Azani Gooniyah

Written by Azani Gooniyah

Dear diary, I’m trying to survive on earth.