Tentang Kuliah, Himpunan, dan Mahasiswa
Halo, nama gue Billy Rizky Ramadhan, but you can call me anything you want. Dan ini, adalah beberapa kalimat yang gua yakini setelah melalui separuh proses kuliah gua dengan kesempatan dan privilege menjadi Ketua Himpunan mahasiswa.
Tulisan ini ditulis waktu aku semester 6, semester yang umumnya di jurusanku adalah semester kosong dan hampa, karena kebanyakan kegiatan non-akademik sudah mulai demissioner atau lepas jabatan dan regenerasi. Dan itulah yang kebetulan terjadi padaku. Akan tetapi, disini aku engga akan bahas tentang masa depan, biarlah itu menjadi misteri yang harus kulewatkan sendiri. Aku akan bahas tentang masa lalu, masa itu, dan bagaimana harapan dititipkan pada masa depan setelah kepengurusanku.
1. Kenapa sih, ada orang yang mau menjadi Ketua Himpunan?
Tepat sekali, itulah pertanyaan yang memulai semua perjalanan ini. Ucapan terima kasih selalu kuberikan kepada Ketua Himpunan sebelumku, yang selalu kurepotkan setiap harinya. Karenanya, aku memberanikan diri untuk menjelajahi map baru ini dengan segala side quest-nya.
Pada awalnya, aku tidak terlihat. Jarang hadir di perkumpulan orang-orang, dan memiliki kehidupanku sendiri bersama teman-teman yang lain. Pun divisiku di himpunan ketika itu adalah Medinfo (Media dan Informasi). Ini memperkuat intensi ku untuk tetap berada di bayang-bayang himpunan. Tidak ada orang yang mengetahui dahulu aku adalah seorang Ketua OSIS.
Di satu malam, aku memiliki kesempatan untuk berbincang dengan Ketua Himpunanku. Namun, entah mengapa terlintas suatu hal yang menarik perhatianku tentang perilaku manusia di himpunan ini. Jujur saja, pada masa itu himpunan ini seperti kehilangan arah, tidak memiliki tujuan, apalagi visi dan misi. Dan sebab hal tersebut, aku bertanya tentang satu-satunya pegangan semua organisasi yang ada dibawah matahari, yaitu Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Melihat kembali kejadian tersebut, rasanya agak aneh. Mengapa bisa seseorang yang bukan siapa-siapa menanyakan hal terpenting dalam birokrasi organisasi. Hal inilah yang menjadi dasar adanya rumor dan background checking diriku. Hingga pada akhirnya, rumor yang tersebar adalah bahwa “Billy ingin menjadi Ketua Himpunan” dan “Eh, dulu si Billy tuh Ketua OSIS tau.”
Lantas, setelah aku menanyakan file itu, aku pun bertanya kembali tentang judul poin ini. Sebetulnya, beliau tidak memberikan jawaban pasti. Beliau hanya memberikan kisi-kisi bahwa Ketua OSIS dan Ketua Himpunan adalah hal yang sangat bertolak belakang, terkait dinamika dan cara penyelesaiannya. Hingga hari ini, aku mempercayai hal tersebut karena rasa penasaranku sendiri. Jawaban yang beliau berikan menyerupai kalimat ini.
“Cobain aja dulu, nanti kamu baru bakal bisa ngerasain gimana sih jadi Kahim itu. Beda banget sama OSIS, karena di perkuliahan, kamu bakal ketemu manusia-manusia yang dinamis.”
2. Dimana Kesempatan Bertemu dengan Keahlian dan Keberanian, hingga Dibantu dengan Keberuntungan
Singkat cerita, terbitlah 10 nama calon kandidat Kahim. Alhamdulillah-nya, namaku tidak ada di daftar tersebut. Akan tetapi, tepat pada malam penutupan setelah wawancara, entah mengapa terdapat pengumuman bahwa adanya 1 tempat yang diberikan untuk siapapun yang ingin mendaftar. Dan disitulah keberanian serta aksi nekat muncul. Pada hari itu juga, aku dikontak oleh Sekjen sebelumnya, bertanya apakah ingin mencalonkan diri. Pada akhirnya, aku pun mencalonkan.
Jujur saja, pada saat itu aku tidak memikirkan apapun tentang diriku. Menurutku, ini bukanlah soal title, bukan soal ketenaran, apalagi soal mencari untung. Yang kuyakini adalah bahwa ini sebuah perjuangan, pengorbanan, dan seni mendahulukan urusan kelompok dibanding urusan pribadi. Ditambah lagi, aku sebenarnya tau, bahwa mereka ingin tetap memiliki peranan, namun tidak dengan tanggung jawab yang terlalu besar. Bagiku, itu adalah kesempatan. Bukan untuk menguntungkan secara materi, namun secara jiwa dan kepercayaan.
Disini lah aku belajar tentang keberuntungan. Keberuntunganku adalah dengan teman-teman yang ada, dan kondisi yang sangat menguntungkan.
“If i had to sail it all over again, i would always choose you as my crew.”
Aku bukan lah seseorang yang sangat sosial. Tetapi, kalau kata teman-temanku, aku selalu memiliki sesuatu yang bisa membuat seru keadaan. Sebelum semua perjalanan ini bahkan dimulai, ada sebagian besar teman-temanku yang sudah menitipkan arah dan nasib mereka di himpunan ini.
“Kalo kamu Kahimnya, aku lanjut Hima, Bil.”
“Kayaknya aku keluar Hima, kecuali kalo kamu Kahimnya, Bil.”
Dan akhirnya, setelah melalui semua urusan pemilihan, aku pun menjadi Kahim mereka.
Aku rasa, ceritanya tidak sesingkat dan semewah itu. Banyak juga hal dibelakang layar yang memang tidak diceritakan, yang tetap harus menjadi misteri. Seperti halnya hasil musyawarah pemilihan saat itu. Aku tidak tahu semua hal, tapi aku tahu aku sangatlah beruntung.
Beruntung karena kondisi saat itu adalah transisi, dan bukan perubahan total. Beruntung karena teman-temanku juga adalah mantan petinggi organisasi. Beruntung karena mereka, aku, kamu, dan kalian semua tetap percaya pada kemungkinan berhasil kita yang sangat kecil. Pada dasarnya, bukan aku yang hebat, tapi kalian yang selalu percaya padaku. Teman-temanku lah yang menjadi keberuntunganku untuk melewati semua ombak dalam himpunan ini.
3. Tentang “Manusia yang Dinamis” dan Seni Merawat Kepala
Masih ingat jawaban Kahimku dulu atas pertanyaan di poin satu? Ternyata benar. Memimpin mahasiswa tidaklah sama dengan memimpin teman sekelas atau adik kelas. Dinamika perasaan manusia adalah salah satu hal yang paling rumit untuk ditebak. Tapi bukan karena niatnya, melainkan cara ia dibesarkan dan cara ia melihat dunia. Disini, ego bertemu ego, dan idealisme bertemu dengan realita.
Sejujurnya, seharusnya semua hal ini tidak terjadi. Ego ku bertemu dengan kesempatan, lalu ide ku tersambung dengan realita. Aku pun sudah memikirkan, “Di OSIS dulu, satu-satunya organisasi, ya, OSIS. Teman-temanku tidak memiliki kesibukkan lain selain itu. Tetapi, di perkuliahan semuanya dinamis, apakah gue bisa bikin mereka semua memprioritaskan organisasi ini disamping semua kegiatan mereka?”
Jawabannya, tidak. Lebih tepatnya, tidak tahu. Memang manusia se-dinamis itu, dan aku hanya bisa mengecilkan ruang mereka bergerak sehingga mereka berjalan sesuai dengan arah yang aku mau.
Menjadi Kahim, bukan cuma soal sambutan dan menjaga image program studi, tetapi soal menjadi tong sampah keluh kesah disaat teman-teman yang lain sudah muak dengan rapat dan bahasan himpunan. Tentang menjadi tembok tempat segala kritik dilontarkan dan tentang menjaga suasana tetap dingin ditengah berkobarnya api perdebatan.
Dari semua pelajaran itu, aku selalu berpegang teguh pada kalimat ini:
Get billyyy’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
“Jadi Kahim tuh bukan tentang yang paling pintar, paling siap, ataupun paling kaya. Tetapi, paling rela meluangkan waktunya untuk menemani rekan-rekan yang lain dan bisa untuk menyesuaikan dirinya dihadapan semua lawan bicara.”
Menurutku, jabatan bukanlah previlege, namun juga tidak bisa dibilang sebagai beban. Jabatan adalah ujian ketahanan terhadap apapun yang bisa mengguncangkan keyakinanmu, selama satu periode penuh. Teman-teman yang bilang bahwa akan selalu bersamaku dalam kapal ini, juga merupakan manusia yang bisa lelah dan hilang arah. Dan tugasku adalah untuk tetap berdiri, bahkan ketika kapal ingin tenggelam, untuk meyakinkan mereka semua bahwa kapal ini masih layak untuk mengarungi samudera.
4. Kesunyian di Antara Keramaian, dan Keramaian di Antara Kesunyian.
Menjadi Ketua Himpunan itu aneh. Selalu dikelilingi banyak orang yang memandangmu tinggi, rapat dimana-mana, tapi di saat yang sama, juga bisa merasakan bahwa sebenarnya hidupmu sangat sepi. Terkadang, ada keputusan sulit yang pada akhirnya harus diambil sendirian. Keputusan yang bahkan aku gak tahu apakah aku layak untuk memutuskannya atau tidak.
Ada malam-malam di mana aku menatap langit kosong dan bertanya,
“Is it worth it?”
Setiap pengorbanan waktu kuliah, waktu eksplorasi, waktu bermain, dan bahkan waktu istirahat untuk sebuah organisasi yang — jujur saja — mungkin akan dilupakan orang sebulan setelah demissioner. Tapi kemudian, aku melihat mereka semua. Rekan-rekan pengurus yang rela pulang malam, mengerjakan hal-hal kecil tanpa tepuk tangan. Rekan-rekan yang menerobos hujan dikala sesuatu yang tertinggal. Dan mereka yang juga ikut berkorban untuk organisasi ini.
Di titik itu aku sadar, aku tidak sedang memperjuangkan namaku, aku sedang menjaga rumah bagi mereka. Rumah yang kuyakini bukanlah tempat, tapi orang-orangnya. Rumah yang ternyata segala isi perabotannya spesial, walau tidak sempurna.
Dan dengan penuh kebanggaan, aku melepasnya. Merasa lega, dan siap untuk dihuni kapanpun ada yang ingin berkunjung.
“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Selamat malam, salam sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati, Mas Oskar selaku Kepala Departemen IKE.
Yang saya hormati, Mas Frisky selaku Ketua Prodi Elins.
Yang saya hormati, Mas Dino selaku Pembina HMEI.
Rekan-rekan pengurus HMEI periode 2025 Kabinet Adhikara Bhakti yang saya banggakan, serta pengurus HMEI periode 2026 yang — melihat wajahnya — sepertinya masih belum siap.Hari ini, jaket himpunan dan korsa yang saya pakai rasanya sedikit berbeda. Setahun lalu, saat pertama kali memakainya sebagai Ketua, rasanya berat sekali. Berat karena amanah, berat karena ekspektasi, dan berat karena saya tahu jam tidur saya akan berkurang drastis. Tapi hari ini, saat saya harus melepasnya, rasanya justru lebih berat. Bukan karena bahannya, tapi karena kenangan yang menempel di setiap serat benangnya.
Di sini, di HMEI, kita belajar bahwa ‘Instrumentasi’ bukan cuma soal mengukur besaran fisik, tapi juga soal mengukur seberapa besar kepedulian kita pada satu sama lain. Kita belajar bahwa ‘Elektronika’ bukan cuma soal rangkaian arus, tapi soal merangkai persahabatan yang nggak akan putus meski proker sudah selesai.”
Jujur saja, memimpin Adhikara Bhakti itu seperti ngerjain program PLC sekuensial. Abis ngelarin satu masalah, muncul satu lagi. Dan gak selesai-selesai. Saya minta maaf kalau selama setahun ini saya sering jadi error dalam sistem kalian.
Kepada Ketua HMEI 2026 dan kabinet barunya, Mas Fandy, estafet ini sekarang ada di tanganmu. HMEI itu unik. Di sini logika kita diuji dengan dinamika perasaan manusia. Saran saya: Jangan dibawa stres. Kalau proker macet, anggap saja itu bug kecil, tinggal di debug bareng-bareng. Kalau ada konflik, anggap saja itu noise, tinggal dikasih filter. Dan yang paling penting, jangan takut untuk gagal dalam mencobna. Himpunan ini adalah laboratorium kegagalan yang paling aman sebelum kalian menghadapi dunia nyata. Habiskan jatah gagalmu di sini, dan panen suksesmu nanti.
Akhir kata, Adhikara Bhakti pamit undur diri.
Nama kami mungkin akan hilang dari struktur organisasi, foto kami mungkin akan tenggelam di postingan instagram, tapi izinkan semangat kami tetap hidup di setiap sudut perkuliahan dan di setiap kegiatan HMEI ke depan.
Terima kasih Elins, terima kasih HMEI.Saya, Billy Rizky Ramadhan, Ketua HMEI 2025, mewakili segenap rekan-rekan pengurus HMEI 2025, officially signing out.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Dan itulah sambutan terakhirku, sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi periode 2025.
5. Apa yang Tertinggal Setelah Jaket Ini Digantungkan
Sekarang, jaket himpunan itu sudah mulai jarang kupakai. Grup-grup yang dulu berisik kini mulai sepi. Tongkat estafet sudah berpindah.
Kalau ditanya tentang apa yang aku dapat, mungkin bukan IPK yang sempurna, bukan juga tentang uang saku tambahan. Yang kubawa pulang adalah versi diriku yang baru. Billy yang lebih berani berbicara didepan publik, Billy yang paham bahwa tidak semua hal bisa dikontrol, dan Billy yang tahu bahwa keberhasilan seorang pemimpin bukan dilihat dari seberapa hebat dia, tapi seberapa hebat orang-orang yang dia pimpin setelah dia tak ada.
Ketua yang hebat bukan yang punya banyak pencapaian pribadi, tapi dia yang rela selalu “ada” untuk timnya. Kepemimpinan itu tentang membersamai, bukan meninggalkan.
Menjadi pemimpin bukan tentang selalu disukai, tapi tentang selalu siap. Kepemimpinan itu bukan jalan yang nyaman, tapi jalan yang penuh ujian. Kamu harus kuat bukan karena pujian, tapi karena banyak yang bertumpu pada arahan.
Amanah tidak akan pernah salah dalam memilih pundak.
Himpunan itu spesial, seharusnya ia menjadi “rumah” bagi para anggotanya. Dimanapun prosesnya, setinggi apapun karirnya, ketika himpunan memanggil maka “pulang” lah.
Satu tahun adalah waktu yang pendek untuk mencapai himpunan yang sempurna, tetapi adalah waktu yang cukup panjang untuk melukis memori yang tidak terhingga maknanya.
Untuk siapapun yang sedang membaca ini, entah kamu calon Ketua, sedang menjabat, atau sudah purna sepertiku, nikmatilah badainya. Karena sejatinya laut yang bergemuruh hanya memberikan hasil yang positif, lewati dan menjadi lebih kuat atau ikut mati dalam sejarah menjadi yang paling kuat. Teruntuk kru kapal terbaikku, terima kasih sudah mau berlayar bersama, meskipun kadang ombaknya tidak bisa dinalar.
Sampai jumpa di ketidaksengajaan berikutnya, semoga.




