AUTOBIOGRAFI
Kata orang tuaku, menjadi dewasa itu tidak enak. Saat aku masih duduk di bangku SD, aku sangat tidak setuju dengan pernyataan itu. Aku yang dulu selalu merasa bahwa menjadi dewasa itu menyenangkan, namun persepsi itu berubah perlahan ketika aku sudah mulai mengalami tahap pendewasaan tersebut. saat ini aku berusia delapan belas tahun. Namaku Cheryl Adeline Andie, dan saat ini aku adalah mahasiswa aktif jurusan Psikologi di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Jika aku menoleh ke belakang, perjalanan hidupku yang berarti ini bermula dari sebuah peristiwa empat belas tahun lalu saat aku masih berusia empat tahun. Lewat tulisan ini, aku ingin menceritakan kisah perjalanan yang telah kulalui.
Kisah ini berawal ketika aku pergi ke Bali bersama keluarga besar dari pihak ibu. Tujuan awal kami sebenarnya sederhana, yaitu menjemput kakak sepupu yang hampir menyelesaikan masa magangnya di sana. Namun, setelah berdiskusi, keluarga kami sepakat untuk menjadikan momen tersebut sebagai liburan bersama. Kami menginap di daerah Bedugul, di mana udara pegunungan di sana ternyata sangat dingin bagi anak seusiaku. Aku bahkan tidak mandi selama tiga hari karena airnya terasa sedingin es. Aku juga kedinginan hebat hingga kesulitan untuk tidur nyenyak.
Pengalaman yang paling membekas terjadi pada hari keempat, saat kami berkunjung ke Pantai Tanah Lot. Pemandangan di sana sungguh indah. Sayangnya, karena masih kecil dan belum memiliki ponsel, tidak ada foto yang bisa aku ambil sendiri. Ketika aku sedang asyik bermain air di tepi laut, ibu memanggilku untuk berfoto. Ayah sudah bersiap memegang kamera. Ayah dan ibuku berdiri menghadap ke laut lepas, sedangkan aku berdiri membelakangi lautan. Tiba-tiba, air pasang datang dan menarik tubuhku ke arah laut dengan sangat cepat.
Aku berteriak kencang meminta pertolongan. Dengan sigap, ibuku langsung berlari dan menopang tubuhku dari belakang. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya ibuku tidak menahanku dari belakang. Sejak peristiwa menakutkan itu, aku sedikit trauma dengan pantai. Namun itu merupakan salah satu kenangan terindah yang aku alami selama 18 tahun hidupku. Di sisi lain aku selalu bersyukur atas besarnya kasih sayang orang tua dan perlindungan Tuhan yang selalu menyertaiku.
Saat masih di Sekolah Dasar, keseharianku hanya berangkat sekolah, belajar dan bermain bersama teman, pulang sekolah, belajar, lalu tidur. Hal ini sudah seperti siklus yang berulang terus-menerus. Pada usia tersebut, aku sempat mengikuti kursus balet, piano, menggambar, menyanyi, memasak. Banyak hal baru yang kucoba, tetapi yang bertahan hanya mengikuti paduan suara di gerejaku. Masa SD merupakan salah satu masa yang paling melekat dalam hidupku, menjadi anak kecil yang masih belum tahu banyak tentang dunia luar. Aku rindu menjadi anak seusia itu.
Get Cheryl A Psy’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Memasuki masa Sekolah Menengah Pertama (SMP), aku menemukan kegemaran yang bertahan hingga sekarang, yaitu membaca. Aku bergabung dengan klub literasi sekolah bernama Sahabat Perpustakaan, yang kini telah berkembang menjadi sebuah organisasi besar. Aku juga mengikuti klub praktik Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Di sana, kami mencoba banyak hal seru, mulai dari membuat telur asin, membuat es puter, hingga mengolah barang bekas menjadi kerajinan tangan. Pada masa itu pula, aku mulai aktif melayani di gereja. Aku bergabung dengan sebuah komunitas dan mendapatkan banyak teman baru. Pada usia lima belas tahun, aku bahkan sudah dipercaya menjadi pengurus salah satu komunitas di gereja. Dari pengalaman SMP ini, aku belajar bahwa ilmu tidak hanya datang dari ruang kelas, tetapi juga dari orang-orang di sekitar kita.
Ketika memasuki jenjang SMA, aku berpindah ke sekolah baru. Di sana, aku melihat banyak hal yang mengejutkan, seperti kenakalan remaja yang terlihat jelas dan aksi perundungan yang terjadi tepat di depan mataku. Walaupun aku termasuk orang yang mudah beradaptasi, aku sempat merindukan sekolah lama ketika baru duduk di kelas sepuluh. SMA Petra memang berada di bawah naungan yayasan yang sama dengan sekolah sebelumnya, tetapi lokasi yang berbeda membuat lingkungannya pun sangat jauh berbeda. Seiring berjalannya waktu, aku bertemu dengan banyak teman unik yang membuat hari-hariku menjadi lebih berwarna.
Aku berniat bergabung dengan OSIS, tetapi tidak lolos seleksi. Tentu aku merasa kecewa, tetapi aku tidak mau menyerah. Aku pun mendaftar ke organisasi majalah dinding (mading) dan diterima. Aku juga sempat menjadi penyiar radio sekolah selama kurang lebih dua bulan. Berkat keaktifanku, aku terpilih menjadi ketua mading pada periode tersebut dengan meraih suara terbanyak. Aku sangat terkejut sekaligus terharu atas kepercayaan yang diberikan kepadaku.
Di luar sekolah, aku juga aktif dalam pelayanan dan menjabat sebagai Badan Pengurus Harian (BPH) di dua komunitas gereja sekaligus. Aku juga aktif menjadi fasilitator kegiatan sekolah minggu. Aku sangat menyukai anak-anak dan mempelajari tumbuh kembang mereka menjadi salah satu alasanku memilih jurusan Psikologi. Alasan lainnya adalah teman-temanku sering menyebutku sebagai pendengar yang baik. Aku merasa bahwa mendengarkan orang lain dengan tulus merupakan salah satu kelebihanku.
Masa kelas dua belas menjadi momen yang cukup mengharukan karena kami bersiap untuk berpisah. Namun, masa tersebut justru menjadi masa yang paling tidak terlupakan. Satu angkatan terasa seperti keluarga besar yang sangat kompak. Perpisahan memang menyedihkan, dan aku sering bertanya-tanya mengapa kami baru akrab dengan teman dari kelas lain ketika waktu berpisah sudah semakin dekat. Setelah melewati berbagai proyek, ujian tulis, dan ujian praktik, aku akhirnya berhasil lulus. Hingga kini, aku selalu memegang satu prinsip hidup: ‘Beranilah mencoba, lakukan yang terbaik, dan biarkan Tuhan yang mengurus sisanya.
Kini, aku adalah mahasiswa aktif di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Saat memasuki dunia perkuliahan, aku tidak menyangka bisa bergaul dengan cepat. Selama masa orientasi, aku mendaftar menjadi koreografer yel-yel bersama empat teman lainnya. Sejak saat itu, kami berlima menjadi sangat dekat dan selalu berkomunikasi erat. Setelah itu, kami berkenalan dengan tujuh anak laki-laki yang unik. Sebagian satu kelas denganku, sedangkan sebagian lagi berbeda kelas. Karena merasa cocok, kami membentuk satu lingkaran pertemanan yang hangat hingga sekarang. Aku sangat bersyukur hari-hari kuliahku ditemani oleh mereka dan aku berharap persahabatan ini dapat bertahan lama.
Seluruh pengalaman tersebut membuatku siap menghadapi masa depan. Cita-citaku adalah menjadi seorang psikolog yang dapat membantu banyak orang. Aku juga ingin membanggakan orang tua dengan membuktikan bahwa aku bisa meraih kesuksesan. Pada semester pertama ini, aku bertekad meraih IP maksimal agar dapat mempertahankannya pada semester berikutnya. Semua ini kulakukan demi membuat orang tuaku bangga dan demi masa depanku sendiri. Perjalananku baru saja dimulai. Tunggu aku di masa depan dan saksikan aku menjadi sosok yang sukses nantinya. Albert Einstein pernah mengatakan, “Belajarlah dari masa lalu, hiduplah untuk hari ini, dan berharaplah untuk esok hari. Yang terpenting adalah jangan pernah berhenti bertanya.





