Sudut yang tak akan membuatku gelisah
Aku selalu berharap mimpi burukku tak kambuh tepat saat menenggak kopi di depanmu
Segelas kopi tak lagi hampa sebab yang kutatap bukan lagi layar, melainkan raut wajahmu yang tampak gelisah mencari topik pembicaraan yang akan membuatku merasa lega dengan segala yang terlintas di kepalamu yang kadang berantakan. Kau tak minum kopi, tapi aku tetap memesan kopi dengan rasa yang lebih kuat agar dudukku nyaman bersama denganmu yang tak pernah ada dalam jangkauan.
Kupikir hidup adalah serangkaian realitas rumit yang akan selalu memberi kejutan. Bagaimana bisa dalam duka-duka yang membara muncul gelagat aneh dalam gelas kopi yang kupegang erat di tangan. Aku duduk di sampingmu tanpa tanya, seolah kau memang hendak menerima hadirku dengan nyaman. Aku bertindak lugu, bagai anak 12 tahun yang meminta mainan kepada ibu.
Get Dill’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Bertemu denganmu bagai jembatan antara kehampaan dan antusiasme. Berpikir untuk mengakhiri semuanya dengan segera, tapi diberikan energi untuk kembali menerka rasa. Bagaimana bisa?
Sayup suaramu kudengar penuh tawa, saat kupegang erat layar ponsel yang sengaja kucari namamu di dalamnya. Ah, bukankah ini seperti mimpi bahagia yang datang saat mimpi buruk seringkali menghantam setiap malam dengan cuma-cuma? Apakah ini pertanda bahwa hidup memang sebuah mamang yang selalu mencari makna di dalamnya? Seperti saat kulihat senyummu bahkan saat kau tak pernah benar adanya di depan wajahku.
Hei, tolong, sudut kafe yang menjadi tempat favoritku tak pernah usang menjadi tempat istimewa. Sebab itu, saat aku dan kau duduk tepat di posisi itu, bolehkah kuminta kau untuk menetap lebih lama? Aku gelisah. Kupotong ketakutan-ketakutan akan mimpi buruk yang mungkin datang tanpa syarat. Tentang perpisahan, tentang kepergian, tentang kesendirian. Terlebih, tentang jantungku yang tak lagi merasa gugup saat melihat segala hal yang membuatku terikat.
Kopi yang selalu istimewa semoga tak mewujud luka, sebab kepergianmu (sekali lagi). Barangkali aku tak pernah menolak, hanya takut. Takut bahwa mimpi buruk di hari lalu akan menjadi nyata dan bukan fakta bahagia yang mengiringinya. Sedangkan saat aku duduk disampingmu, tak sedikitpun gugup menggelayut dalam detak nadiku. Tapi, aku merasa aman.
Dill.





