Di Antara Percakapan yang Kehilangan Arah
Tentang seseorang yang kembali, hari-hari yang berubah, dan perasaan yang masih berusaha memahami.
Ada sesuatu yang pernah kupikir akan terasa sederhana: bertemu kembali dengan seseorang yang pernah begitu kurindukan.
Setelah sekian lama tidak saling menyapa, setelah melewati hari-hari dengan banyak hal yang tidak sempat diceritakan, akhirnya seseorang itu kembali. Dan anehnya, kebahagiaan yang kurasakan saat itu begitu besar.
Seolah-olah ada bagian dari hari-hariku yang akhirnya menemukan tempatnya kembali.
Aku pikir, setelah itu semuanya akan terasa seperti dulu. Kita akan kembali bertukar cerita, membicarakan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting, menertawakan sesuatu yang mungkin hanya kita berdua pahami, dan menghabiskan waktu dengan percakapan yang rasanya tidak pernah kehabisan bahan.
Untuk beberapa waktu, memang begitu rasanya.
Aku kembali terbiasa menunggu kabarnya. Kembali punya seseorang yang ingin kuceritakan tentang hari-hariku. Bahkan hal-hal paling sederhana terasa menyenangkan ketika ada seseorang yang bisa menjadi tempat untuk membagikannya.
Sampai akhirnya, tanpa benar-benar kusadari, ada sesuatu yang mulai terasa berbeda.
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kalimat menyakitkan yang tiba-tiba mengubah segalanya. Tidak juga ada perpisahan yang perlu ditakuti. Hanya beberapa kebiasaan kecil yang perlahan tidak lagi kutemukan.
Sapaan pagi yang biasanya datang, kini sesekali tidak ada. Cerita sebelum memulai hari menjadi semakin singkat. Percakapan malam yang dahulu bisa berjalan panjang, sekarang terkadang hanya berhenti pada sapaan sederhana.
Kita masih berbicara. Masih saling bertanya tentang hari masing-masing. Masih membalas pesan yang datang. Hanya saja, entah sejak kapan, percakapan kita mulai kehilangan arah.
Aku bercerita, kamu menjawab. Kamu bercerita, aku menanggapi. Setelah itu, tidak banyak hal yang bisa diteruskan. Seolah-olah setiap cerita selesai tepat setelah disampaikan, tanpa ada percakapan lain yang tumbuh darinya.
Lucu juga, bagaimana dua orang yang sebelumnya bisa membicarakan begitu banyak hal, sekarang terkadang harus berpikir cukup lama hanya untuk menemukan sesuatu yang bisa dibicarakan.
Dan aku tidak tahu harus menyebutnya apa.
Mungkin hanya sedang kehabisan topik. Mungkin sedang sama-sama sibuk dengan kehidupan masing-masing. Atau mungkin memang ada masa ketika seseorang tidak punya cukup energi untuk hadir seramai biasanya.
Aku tahu kamu sedang lelah.
Kamu pernah menjelaskan bahwa ada waktunya kamu ingin sendiri. Ada saat ketika pikiranmu terlalu penuh, dan kamu memilih untuk tidak membawa semua itu ke dalam percakapan kita. Bukan karena ada sesuatu yang salah denganku, melainkan karena kamu tidak ingin kelelahanmu memengaruhi caramu memperlakukanku.
Aku mengerti. Setidaknya, aku sedang berusaha untuk benar-benar mengerti.
Aku tidak ingin kehadiranku menjadi sesuatu yang harus kamu penuhi ketika kamu bahkan sedang kesulitan mengurus dirimu sendiri. Aku tidak ingin kamu merasa harus selalu punya cerita, selalu punya waktu, atau selalu menyediakan energi hanya agar aku tidak merasa ditinggalkan.
Kamu juga punya hari-hari yang melelahkan. Punya urusan yang mungkin tidak selalu bisa kuceritakan atau kupahami sepenuhnya. Dan aku tahu, tidak setiap waktu seseorang bisa menjadi versi dirinya yang paling bersemangat.
Namun, ternyata memahami keadaan seseorang tidak serta-merta membuat perasaan kita berhenti merasa kehilangan.
Get where words stay’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Aku bisa mengerti mengapa kamu lebih banyak diam, tetapi tetap merindukan percakapan kita. Aku bisa memahami ketika kamu membutuhkan waktu sendiri, tetapi tetap merasa ada jarak yang tidak tahu bagaimana cara mendekatinya.
Mungkin itulah bagian yang paling sulit kujelaskan.
Aku tidak sedang marah karena kamu tidak selalu punya waktu untukku. Aku juga tidak sedang meminta agar semuanya kembali seperti semula. Hanya saja, ada bagian dari diriku yang sesekali bertanya-tanya, apakah memang begini rasanya ketika dua orang sedang melewati hari-hari yang melelahkan, atau ada sesuatu yang perlahan berubah di antara mereka?
Aku bahkan sempat berpikir bahwa mungkin akulah yang terlalu memperhatikan perubahan-perubahan kecil itu.
Mungkin aku terlalu terbiasa dengan kabarmu sampai satu pagi tanpa sapaan terasa berbeda. Mungkin aku terlalu menikmati percakapan kita sampai ketika obrolan berhenti begitu saja, aku merasa ada sesuatu yang tertinggal. Mungkin aku hanya sedang merindukan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang sebelumnya tidak pernah terpikir akan begitu kurindukan.
Sampai pada akhirnya, aku menangis.
Bukan karena kamu melakukan sesuatu yang buruk. Bukan pula karena aku ingin membuatmu merasa bersalah. Aku hanya tidak tahu harus meletakkan perasaan ini di mana.
Ada rasa takut yang sulit kuakui: takut jika kedekatan yang baru saja kutemukan kembali ternyata tidak akan terasa sama untuk waktu yang lama. Takut jika suatu hari nanti kita masih saling menyapa, tetapi tidak lagi benar-benar tahu bagaimana cara terhubung satu sama lain.
Padahal, aku tahu kamu masih ada. Kamu masih membalas pesanku. Masih menanyakan hariku. Masih menyampaikan perhatianmu dengan cara yang mungkin sederhana, tetapi tetap berarti.
Dan mungkin aku perlu belajar melihat itu juga.
Sebab kehadiran seseorang tidak selalu harus berbentuk percakapan panjang. Tidak setiap rasa sayang harus dibuktikan dengan pesan yang datang setiap pagi atau obrolan yang berlangsung sampai larut malam. Ada kehidupan di luar percakapan kita yang tetap harus dijalani, ada tanggung jawab yang perlu diselesaikan, dan ada tubuh serta pikiran yang sesekali hanya membutuhkan istirahat.
Aku tidak ingin melupakan semua itu hanya karena sedang merindukan sesuatu.
Namun, aku juga sedang belajar bahwa perasaanku sendiri tidak harus selalu dikesampingkan demi menjadi seseorang yang pengertian. Aku boleh merindukanmu. Aku boleh merasa sedih ketika sesuatu terasa berbeda. Aku boleh berharap kita masih punya banyak hal untuk diceritakan, tanpa harus menganggap harapan itu sebagai tuntutan.
I thought having you back meant I wouldn't have to miss you anymore. I didn't know I could miss you even while you're here.
Barangkali kita memang sedang berada di masa yang sedikit lebih sunyi. Masa ketika tidak banyak cerita yang bisa dibagikan, ketika masing-masing sedang sibuk mengumpulkan kembali energi, dan ketika percakapan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.
Kalau memang begitu, aku harap kita bisa melewatinya tanpa merasa harus saling menjauh.
Aku tidak meminta kita kembali menjadi dua orang yang selalu punya bahan pembicaraan. Aku hanya ingin kita tetap punya keinginan untuk saling mengenal, bahkan ketika hari-hari sedang terasa biasa saja. Tetap tertarik mendengar cerita satu sama lain, sekalipun ceritanya hanya tentang hal-hal kecil yang mungkin tidak berarti bagi orang lain.
Sebab bagiku, bukan banyaknya pesan yang selalu ingin kurindukan. Melainkan perasaan bahwa di balik pesan-pesan itu, masih ada dua orang yang sama-sama ingin terhubung.
Aku tidak tahu apakah percakapan kita akan kembali seramai sebelumnya. Aku juga tidak tahu berapa lama masa-masa seperti ini akan berlangsung.
Untuk sekarang, mungkin aku hanya ingin belajar memahami bahwa seseorang bisa sedang lelah tanpa berarti sedang berhenti menyayangi. Dan di saat yang sama, aku ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa merindukan kedekatan bukanlah sesuatu yang perlu disesali.
Kamu boleh mengambil waktu untuk dirimu sendiri. Dan aku akan belajar memberikan ruang itu, tanpa harus berpura-pura bahwa aku tidak merindukanmu.
Semoga, setelah hari-hari yang melelahkan ini berlalu, kita masih punya banyak cerita untuk dibagikan. Semoga kita tidak hanya menjadi dua orang yang saling menanyakan kabar, lalu kehabisan kata-kata setelahnya.
Aku masih ingin mendengar cerita-cerita kecilmu. Masih ingin menceritakan hal-hal tidak penting yang terjadi sepanjang hariku. Masih ingin tertawa karena sesuatu yang mungkin tidak lucu bagi siapa pun selain kita.
Aku hanya berharap, di antara percakapan yang sesekali kehilangan arah, kita tidak kehilangan keinginan untuk saling menemukan.





