Unlearning
Saat tubuhmu sudah belajar bahwa sentuhan bermakna kekerasan. Belajar untuk menerima yang berarti sebaliknya adalah sebuah siksaan lain.
Aku baru menyadari saat ada yang bertanya: “apa trauma terbesarmu?” Dan aku tak serta merta berpikir tentang hubungan gila yang pernah kujalani. Tapi saat bagaimana tubuhku bereaksi pada kehadiran orang lain.
Saat mereka memelukku tapi aku tidak bisa membalas. Saat aku bingung bereaksi apa tentang sebuah uluran tangan. Saat tubuhku menegang hanya karena usapan di puncak kepala.
Karena aku belajar bahwa tangan lain yang mengarah padaku, dapat berarti luka baru setelahnya.
Aku sudah terbiasa dengan teriakan yang memekakkan telinga. Maka aku menutupinya dengan musik yang tak kalah kerasnya.
Tapi luka di tubuhku adalah hal lain yang tak bisa kuceritakan.
Memar adalah hal biasa. Aku sering terluka. Jatuh, tersandung, terpeleset, dan lain sebagainya. Pukulan, tamparan, tarikan pada telinga, cubitan kecil yang rasanya bukan main. Karena aku tahu rasanya, aku sering kali menahan tangan yang sudah terangkat itu. Saat dia hampir menyakiti saudara-saudaraku.
Mereka punya aku. Dan aku hampir tak peduli bahwa ini mungkin tak akan berarti sebaliknya.
Saat aku terluka karena hal di luar sana, dia mungkin berpikir aku akan bercerita. Bagaimana caranya? Kalau porsi terbesar dari rasa sakitku, dialah penyebabnya.
Get Belle’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Aku sudah terbiasa menenangkan diriku sendiri. Memadamkan tangisku sendiri. Mengobati lukaku sendiri. Menceritakannya berarti menggali kembali apa yang sudah kukubur di kedalaman hati.
Saat aku beranjak dewasa, sentuhan darinya bermakna sedikit lebih lembut. Tapi tubuhku menolak. Lalu dia akan berkata bahwa aku menghindarinya. Bahwa aku juga akan dipeluk oleh suamiku saat aku menikah nanti. Bahwa aku tak boleh sebegitunya padanya.
Dia tak tahu bahwa tubuhku juga punya ingatan. Ah, dia memang seorang pelupa. Tidak heran.
Ah, dia memang tak pernah melihat apa yang dia lakukan. Karena aku diam. Karena aku menutupinya dengan menyembunyikan tubuhku. Memar yang sudah berubah warna, bekas cakaran, bekas cengkeraman, baret kecil hingga besar, luka berdarah yang tertutup dengan sendirinya.
Hanya luka di hatiku yang tak pernah sembuh dari sikapnya.
Dia pernah terkaget melihat bekas luka yang ada tepat di bawah leherku. Yang hanya bisa terlihat jika aku memakai pakaian kerah v karena posisinya cukup rendah. Aku menderita karena luka itu berhari-hari, tapi aku tak berbicara sepatah katapun tentangnya.
Bagaimana bisa aku menceritakan lukaku, pada manusia yang memberikanku lebih banyak?
Mungkin hatinya akan tersakiti saat aku mengatakan itu tepat di hadapannya. Tapi hatiku sendiri sudah jauh lebih lama merasa sakit. Jadi rasa sakit di hatinya tak berarti apa-apa.
-lla
311026






