Apakah Tomohon Sudah Ramah bagi Pejalan Kaki?
Tomohon memiliki trotoar dan regulasi pejalan kaki. Namun, parkir, hambatan lalu lintas, aksesibilitas, dan konektivitas masih menjadi pekerjaan rumah.
Kota yang tumbuh bukan hanya tentang kendaraan yang semakin banyak, tetapi juga tentang apakah manusia masih mempunyai cukup ruang untuk berjalan
Pagi hingga malam di Tomohon selalu punya cara sendiri untuk membangunkan dan beraktivitas sebagai suatu kota.
Udara relatif sejuk. Jalan mulai dipenuhi kendaraan. Orang-orang bergerak menuju pasar, sekolah, kantor, tempat ibadah, rumah sakit, pertokoan, atau sekadar mencari sarapan.
Di antara semua itu ada kelompok yang sering luput dari perhatian: mereka yang berjalan kaki.
Mereka tidak membutuhkan bahan bakar. Tidak membutuhkan tempat parkir. Tidak membuat suara mesin. Tidak membayar pajak kendaraan.
Mereka hanya membutuhkan satu hal yang kelihatannya sederhana: ruang untuk berjalan dengan aman. Namun, di sebuah kota yang terus tumbuh seperti Tomohon, ruang sederhana itu ternyata tidak selalu sederhana.
Trotoar ada. Di beberapa tempat bahkan cukup lebar.
Tetapi trotoar bisa tiba-tiba berubah menjadi tempat parkir.
Ada yang terputus.
Ada yang rusak.
Ada yang terhalang aktivitas usaha.
Ada pula ruas jalan yang membuat pejalan kaki harus menyeberang dengan mengandalkan keberanian dan keberuntungan, karena fasilitas penyeberangan belum memadai.
Lalu muncul pertanyaan yang sebenarnya sederhana, tetapi tidak mudah dijawab:
Apakah Tomohon sudah menjadi kota yang ramah bagi pejalan kaki?
Jawabannya, untuk saat ini, tampaknya belum.
Bukan berarti Tomohon tidak melakukan apa-apa. Justru sebaliknya. Pemerintah kota telah membangun sejumlah trotoar, menata ruang publik, memasukkan pedestrian dalam dokumen pembangunan dan melakukan penertiban.
Tetapi kota ramah pejalan kaki bukan sekadar kota yang memiliki trotoar.
Ia adalah kota yang membuat manusia merasa bahwa berjalan kaki merupakan bagian yang wajar, aman dan bermartabat dari kehidupan sehari-hari.
Dan di titik inilah persoalan Tomohon menjadi menarik.
Kota Kecil, Kendaraan yang Terus Bertambah
Tomohon bukan metropolitan.
Luasnya tidak membuat orang harus berjalan berjam-jam untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Pusat kegiatan kota juga relatif terkonsentrasi.
Justru karena itulah berjalan kaki seharusnya menjadi bagian penting dari kehidupan kota.
Namun pertumbuhan ekonomi, pendidikan, perdagangan, pariwisata dan aktivitas masyarakat ikut membawa konsekuensi: kendaraan semakin banyak memenuhi ruas-ruas jalan utama.
Jalan yang sama harus menampung kendaraan pribadi, kendaraan dinas, angkutan, aktivitas perdagangan, parkir, kendaraan keluar-masuk bangunan, pejalan kaki dan berbagai kegiatan lainnya.
Ruang yang terbatas akhirnya diperebutkan. Dan dalam perebutan itu, pejalan kaki sering berada pada posisi paling lemah.
Mobil masih memiliki badan jalan.
Sepeda motor masih bisa mencari celah.
Pedagang mempunyai ruang usaha.
Sementara pejalan kaki?
Kadang hanya tersisa pinggir jalan.
Trotoar Ada, Tetapi Apakah Bisa Dipakai?
Pertanyaan tentang ramah pejalan kaki tidak seharusnya dimulai dari berapa kilometer trotoar yang telah dibangun.
Pertanyaan pertama justru:
Apakah trotoar itu benar-benar bisa digunakan untuk berjalan?
Pada Juli 2026, Wali Kota Tomohon melakukan inspeksi sepanjang jalan protokol mulai dari Kakaskasen hingga pusat kota. Dalam inspeksi itu ditemukan sejumlah persoalan, termasuk trotoar yang digunakan tidak sesuai fungsinya serta beberapa bagian trotoar yang rusak dan berpotensi membahayakan pejalan kaki.
Temuan tersebut menarik karena menunjukkan persoalan pedestrian bukan sekadar persoalan desain.
Ia juga persoalan disiplin ruang.
Trotoar yang dibangun dengan anggaran pemerintah dapat kehilangan fungsi ketika digunakan sebagai tempat parkir, tempat menaruh material, perluasan usaha atau kegiatan lainnya.
Get Donny Turang’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Bagi pengendara, mungkin hanya beberapa meter ruang.
Bagi pejalan kaki, beberapa meter itu bisa berarti harus turun ke badan jalan.
Dan di situlah risiko dimulai.
Ketika Pejalan Kaki Turun ke Jalan
Bayangkan seorang ibu membawa anak kecil.
Ia berjalan di trotoar.
Beberapa meter kemudian trotoar terhalang kendaraan yang parkir.
Ia harus turun ke badan jalan.
Anaknya berada di sebelahnya.
Sebuah sepeda motor melintas.
Tidak terjadi kecelakaan.
Kita kemudian menganggap semuanya baik-baik saja. Padahal kota yang baik bukan kota yang membuat orang selamat karena pengendara kebetulan berhati-hati.
Kota yang baik adalah kota yang merancang ruang sehingga orang tidak perlu mempertaruhkan keselamatannya untuk melakukan perjalanan sederhana.
Hal yang sama berlaku bagi lansia.
Bagi anak sekolah.
Bagi orang yang membawa belanjaan.
Bagi ibu dengan kereta bayi.
Dan terutama bagi penyandang disabilitas.
Bagi pengguna kursi roda, trotoar yang tiba-tiba berakhir bukan sekadar ketidaknyamanan.
Itu adalah jalan yang benar-benar terputus.
Kota Ramah Pejalan Kaki Bukan Sekadar Trotoar
Secara konsep, kota ramah pejalan kaki membutuhkan lebih dari sekadar jalur beton di sisi jalan.
Jalur itu harus menerus.
Aman.
Nyaman.
Terhubung dengan tujuan sehari-hari.
Memiliki fasilitas penyeberangan.
Mempunyai pencahayaan yang memadai.
Bebas dari hambatan.
Dan dapat digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, anak-anak dan lansia.
Pedoman nasional tentang jaringan pejalan kaki juga menempatkan jalur pejalan kaki sebagai bagian dari sistem ruang kota, bukan sekadar elemen tambahan jalan. Permen PU Nomor 03/PRT/M/2014 secara khusus mengatur perencanaan, penyediaan dan pemanfaatan prasarana serta sarana jaringan pejalan kaki di kawasan perkotaan.
Dengan kata lain, ketika sebuah kota membangun jalan, pertanyaannya bukan hanya:
Bagaimana kendaraan bergerak?
Tetapi juga:
Bagaimana manusia bergerak?
Tomohon Pernah Diteliti dari Mata Pejalan Kaki
Persoalan ini sebenarnya bukan hal baru.
Pada 2018, Denny M. A. Mamuaja, Semuel Y. R. Rompis dan James A. Timboeleng melakukan penelitian mengenai tingkat kenyamanan pejalan kaki di kawasan pusat Kota Tomohon.
Hasilnya menarik.
Selengkapnya:
Artikel lain:







