Sitemap
Erik Jumpar

Erik Jumpar

Seorang Guru SD yang menyukai menulis, membaca dan membayangkan tokoh-tokoh dalam bacaannya hidup dengannya setiap hari. Menulis itu tempat berpiknik bagi saya.

Menunggu Tulisan Jadi Sempurna Hanya Menunda Untuk Tidak Menulis

2 min readSep 30, 2026

Menunggu tulisan menjadi sempurna hanya alasan untuk tidak menulis. Tulisannya juga tidak akan jadi kalau penulisnya menunggu tulisannya sempurna.

Press enter or click to view image in full size
Photo by Florian Klauer on Unsplash

Setiap saya memublikasikan tulisan selalu ada rasa minder. Perasaan menganggap tulisannya tidak enak untuk dilahap pembaca selalu menghantui. Saya kerap membaca berulang kali, mengedit secara serius agar kata makin tertata, tetap saja merasa masih ada yang kurang.

Padahal saya menulis di blog pribadi. Saat saya tidak menulis artinya tidak ada pengunjung yang kelak datang bertamu. Sebaliknya saat saya konsisten menulis, maka akan muncul dalam beranda Medium dan tentu saja akan ada banyak tamu yang datang bertemu dengan kata.

Lalu tulisan yang baik itu ialah tulisan yang telah dipublikasikan. Tulisan yang dipublikasikan akan memberi ruang untuk terus hidup, dilahap pemmbaca dan berkembang. Seburuk-buruknya tulisan itu di mata pembaca, tetap saja itu versi terbaik dari penulisnya. Barangkali penulis itu menulis untuk dirinya sendiri, menulis untuk menyembuhkan luka, bukan menulis untuk pembaca.

Get Erik Jumpar’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Tulisan yang baik itu tulisan yang telah rampung. Namun rampung saja tidak cukup. Tulisannya harus diedarkan lewat pelbagai publikasi. Baru layak mendapat stempel sebagai tulisan yang baik.

Percuma tulisannya sempurna bila berakhir di draft. Ia hanya menjadi sebuah ide yang dibiarkan mati di tangan penulisnya sendiri. Idenya tak dibiarkan untuk hidup di benak pembaca.

Menunggu tulisan menjadi sempurna hanya alasan untuk tidak menulis. Tulisannya juga tidak akan jadi kalau penulisnya menunggu tulisannya sempurna. Karena itu seburuk-buruknya tulisan Anda, pilihannya cuma ada satu; publikasi.

Penulis juga harus percaya dengan ide milik sendiri. Beberapa kali sebelum memublikasi tulisan terlebih dulu saya meminta saran dari Chat GPT. Sarannya kelampau sempurna. Kalau saya mengikuti sarannya, mungkin saya tidak percaya diri untuk mempublikasi tulisan tersebut.

Akhirnya saya sadar bahwa tulisan yang dipublikasikan boleh tidak sempurna. Selama penulisnya percaya diri, sah-sah saja untuk diedarkan ke publik. Setidaknya itu pula sebagai ruang untuk pembaca agar bisa mengoreksi tulisan tersebut. Sebab tulisan yang kelampau sempurna akan membuat pembaca enggan untuk berkomentar.

Jadi, menulis saja dulu. Sempurna dan tidaknya itu urusan kemudian. Lalu, sudahkah Anda menulis? Atau Anda masih terpenjara oleh pikirannya sendiri? Selalu merasa ada yang kurang dengan tulisan Anda. Kalau menunggu sempurna, maka butuh waktu agar Anda dapat menjadi penulis yang baik? Bahkan kemungkinan terburuk, Anda tidak akan menjadi penulis.

--

--

Erik Jumpar
Erik Jumpar

Written by Erik Jumpar

Seorang Guru SD yang menyukai menulis, membaca dan membayangkan tokoh-tokoh dalam bacaannya hidup dengannya setiap hari. Menulis itu tempat berpiknik bagi saya.