Sitemap

Alam Dirusak, Malah Nyalahin Cuaca 🌧️🔥

5 min readOct 11, 2026

--

Di saat perhatian kita pelan-pelan mulai teralihkan ke isu lain, kenyataannya bumi kita ternyata belum benar-benar pulih. Di balik langit yang tampak tenang, bara api Karhutla masih diam-diam menggerogoti hutan kita dan merampas udara bersih warga di sana. Sampai detik ini, mereka masih harus terbangun di bawah kepingan asap tebal, bernapas dalam sesak, dan menyaksikan rumah bagi jutaan nyawa perlahan berubah menjadi abu.

Bencana Lingkungan Apa Saja yang Sedang Terjadi?

Bukan hanya karhutla, banjir Sumatera yang sempat terjadi di akhir tahun 2025 kemarin pun belum mendapat penanganan yang maksimal. Pada saat itu, beberapa wilayah di Sumatera memang diguyur oleh curah hujan yang ekstrim. Namun, hal ini diperparah dengan adanya perambahan hutan dan alih fungsi lahan hutan menjadi kebun sawit, serta deforestasi ilegal yang membuat kerusakan pada ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Air yang melimpah tak bisa lagi tertahan dan langsung menghantam pemukiman di hilir.

Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyebut setidaknya tujuh perusahaan yang diduga memicu degradasi ekologis masif di sana salah satunya PT Agincourt Resources (Tambang Emas Martabe) dan PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL). Ada pula PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) yang diduga sebagai pemilik dari gelondongan kayu masif yang turun saat banjir tersebut. Bahkan setelah kerusakan yang hebat, pemerintah tetap tidak menetapkan peristiwa ini sebagai bencana nasional.

Untuk karhutla sendiri, kejadian ini tidak hanya disebabkan oleh El Nino saja tetapi juga akumulasi dari kejahatan negara korporasi. Dari sisi penegakan hukum, sampai 17 September 2026, polisi menetapkan 162 orang dan 95 korporasi sebagai tersangka karhutla. Alasan di balik pembakaran tersebut adalah untuk membuka lahan sawit dengan biaya operasional yang lebih murah. Sejalan dengan WALHI juga menemukan ribuan titik hotspot yang tersebar di konsesi Perkebunan kelapa sawit. M.Jeffry Cecep Rahardja (Eksekutif Daerah WALHI Kalimantan Selatan) mengatakan bahwa narasi tersangka perorangan oleh kepolisian tidak boleh mengalihkan tanggungjawab kepolisian untuk memastikan penegakan hukum bagi korporasi.

Selain itu, di Pulau Obi, adanya ekspansi pertambangan nikel oleh PT Vale merusak biodiversitas dan mencemarkan mata air yang biasa digunakan warga sehingga berdampak bagi kesehatan mereka. Salah satu warga dari pulau tersebut pun menyampaikan bahwa mereka menghadapi tekanan sosial ketika menyampaikan persoalan lingkungan di wilayahnya.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Dampak dari bencana-bencana tersebut terhadap rakyat adalah terganggunya kesehatan rakyat. Kebakaran hutan yang terus menerus dapat menyebabkan infeksi pernapasan akut (ISPA) dan asma. Anak-anak, orang tua, ibu hamil, dan orang-orang dengan penyakit kronis adalah kelompok yang paling rentan untuk terhadap efek ini. Polusi udara dari kebakaran hutan juga menyebabkan iritasi mata dan kulit. Partikel asap yang masuk ke mata dapat menyebabkan rasa sakit, kemerahan, dan infeksi, sementara paparan jangka panjang dapat menyebabkan infeksi kulit.

Akibat dari kebakaran hutan ini tidak hanya dirasakan oleh manusia saja, melainkan flora dan fauna pun turut merasakannya. Karena, kebakaran hutan dapat menghancurkan habitat alami untuk spesies flora dan fauna. Banyak hewan yang kehilangan rumahnya dan sumber makanannya akibat dari terganggunya sistem ekosistem. Selain itu, kebakaran dapat menghancurkan spesies tanaman yang sulit untuk beregenerasi sehingga, menghilangkan keanekaragaman hayati. Proses pembakaran hutan juga mengakibatkan peningkatan emisi gas rumah kaca. Proses pembakaran hutan menghasilkan gas Metana dan karbon dioksida. Gas-gas inilah yang berkontribusi pada pembentukan pemanasan global serta perubahan iklim.

Get Fact News’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Sementara dampak dari bencana alam lainnya, seperti banjir adalah munculnya korban jiwa, terhambatnya aktivitas warga dan sulitnya mencari keberadaan air yang bersih, sehingga bisa menyebabkan kondisi kesehatan masyarakat yang terdampak memburuk. Apapun jenis bencana alamnya, semuanya memberikan dampak yang dirasakan oleh masyarakat. Kemudian berdampak pula pada kondisi kesehatan psikologis masyarakat. Hilangnya rumah, barang-barang, dan dampak ekonomi yang dirasakan dapat menyebabkan stress dan gangguan psikologis bagi korban. Hal ini dapat memengaruhi kesejahteraan mental kualitas hidup mereka dalam jangka panjang.

Press enter or click to view image in full size

Lalu bagaimana penanganan pemerintah akan kasus-kasus ini?

Berdasarkan informasi dari akun Youtube ‘Bambang Widjojanto’, meskipun bencana banjir tersebut sudah berlalu 8 bulan lamanya, masih terdapat wilayah di Aceh yang belum mendapatkan pemulihan dan rekonstruksi yang seharusnya datang dari pemerintah. Aulianda Wafisa (Direktur LBH Banda Aceh) mengatakan bahwa penanganan pemerintah sangat lambat dan pembangunan tidak disesuaikan dengan kondisi wilayah yang rawan bencana. Sehingga, masih banyak warga yang tinggal di kamp pengungsi dan belum direlokasi sampai sekarang ini.

Penanganan masalah karhutla juga sama parahnya dan belum diakui sebagai bencana nasional. Kebakaran hutan dan lahan disertai kabut asap di Kalimantan telah terjadi setidaknya selama empat bulan terakhir. Umi Ma’rufah (Pengampanye Hutan dan Kebun Walhi Nasional) mengatakan bahwa ”Akar masalah karhutla bersifat struktural. Karhutla terus berulang karena negara masih menangani api sebagai peristiwa musiman, bukan menyelesaikan akar persoalan tata kelola lahan dan penguasaan ruang.” Di lapangan, tim pemadam juga kewalahan memadamkan api karena keterbatasan sarana dan prasarana.

Kesimpulan

Rangkaian bencana ekologis seperti karhutla, banjir di Sumatera, hingga tambang di Pulau Obi menunjukkan bahwa isu lingkungan saat ini membutuhkan penanganan yang jauh lebih serius dan menyeluruh. Tingginya aktivitas pembukaan lahan, deforestasi, serta ekspansi industri tidak hanya merusak ekosistem alam, tetapi juga memberikan dampak langsung yang berat bagi masyarakat sekitar. Dimulai dari gangguan kesehatan, kehilangan tempat tinggal, hingga tekanan ekonomi dan psikologis.

Sayangnya, langkah pemulihan dari pemerintah dan penegakan hukum terhadap korporasi dirasa masih belum maksimal serta terkesan lambat. Ke depannya, dibutuhkan komitmen yang lebih tegas dari negara untuk membenahi tata kelola lahan, mempercepat bantuan bagi korban, serta menyelesaikan akar masalah lingkungan secara mendasar. Sebagai rakyat, ayo kita terus suarakan permasalahan ini dan jangan menutup mata.

Referensi

Agungnoe. (2025, December). Bencana banjir bandang sumatra, pakar UGM sebut akibat kerusakan ekosistem hutan di hulu DAS. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/id/berita/bencana-banjir-bandang-sumatra-pakar-ugm-sebut-akibat-kerusakan-ekosistem-hutan-di-hulu-das/

Bambang Widjojanto. (2026, September 20). Penanganan bencana aceh belum tuntas. bingkas? [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=al556QDNvXs

Jejakin.Com. (2024). Dampak kebakaran hutan bagi lingkungan & kesehatan. Jejakin.Com. https://www.jejakin.com/id/blog/impact-of-forest-fires

Santoso, B. (2025, December 3). Banjir dahsyat sumut, benarkah ulah korporasi raksasa asing dan astra di baliknya? Suara.Com. https://www.suara.com/news/2025/12/03/193303/banjir-dahsyat-sumut-benarkah-ulah-korporasi-raksasa-asing-dan-astra-di-baliknya

SINDOnews. (2026, October 9). 3 Bulan dikepung ASAP! Karhutla kalimantan makin luas, ribuan hektare lahan ludes [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=qxP3sWKjq7k

Sucipto. (2026, October 6). Empat bulan terjebak ASAP, warga kalimantan tuntut akar masalah karhutla diselesaikan. Kompas.Id. https://www.kompas.id/artikel/empat-bulan-terjebak-asap-warga-kalimantan-tuntut-akar-masalah-karhutla-diselesaikan

WALHI. (2026, August 5). Diseminasi liputan jurnalis ungkap dampak tambang nikel: Warga, jurnalis, dan CSO soroti kerusakan lingkungan hingga minimnya transparansi. Walhi.Or.Id. https://www.walhi.or.id/diseminasi-liputan-jurnalis-ungkap-dampak-tambang-nikel-warga-jurnalis-dan-cso-soroti-kerusakan-lingkungan-hingga-minimnya-transparansi

WALHI. (2026b, August 25). Karhutla sebagai kejahatan negara-korporasi. Walhi.Or.Id. https://www.walhi.or.id/karhutla-sebagai-kejahatan-negara-korporasi

--

--

Fact News
Fact News

Written by Fact News

Dept. Kajian Strategis BEM Kema Fapsi Unpad 2026 Kabinet Aura Rohara