Terserah Apa Kata Mereka
Mengikuti hal-hal yang sewajarnya berjalan di muka umum. Bersekolah kemudian bekerja, kemudian menikah, kemudian pensiun, dan lanjut menjalani hari tua.
Hmm yeah, terutama dalam hal bekerja, secara umum kebanyakan dari kita memilih atau ingin bekerja dengan gaji tetap pada sebuah perusahaan, mengincar perusahaan besar dan jabatan supaya mendapat gaji yang lebih besar pula.
Oh tidak bukan hanya itu, namamu jadi lebih terpandang dan lebih dihargai tetangga jika berhasil mencapai itu, beuhh keren lahh.
Tapi saking tingginya berekspetasi sampai kesandung realita yang sebenarnya. Untukmu yang berada diposisi itu, setidaknya dirimu sudah lebih beruntung dari kebanyakan orang.
1. Permainan Lama
Banyak standarisasi dalam hidup, apa lagi yang beredar di sosial media dan menjadikannya trend yang mungkin banyak diikuti banyak orang, hmm ya oke lah mereka punya pilihan mau ikuti atau tidak.
Mengikuti standar sosial yang sekarang agak ngeri-ngeri juga sih, aku kurang mengikutinya tapi aku yakin di luar sana tau lahh.
Bekerja di kantor dan mengenakan seragam, kesannya keren sih setidaknya lebih bersih (katanya), apalagi dapat bekerja di perusahaan negeri (BUMN) beuhh terjamin lah hidupmu.
Atau dengan menjadi seorang PNS, segera daftar CPNS saat pendaftarannya dibuka yang katanya dibuka secara besar-besaran. Banyak tuh yang ikutan mendaftar.
Bagus sih, tapi pernah kah terpikirkan kenapa seperti itu?
Kenapa banyak sekali yang menginginkannya? Yeahh mungkin karena gaji stabil dan kehidupan yang sudah pasti terjamin.
Tidak, bukan maksudku menjelekan hal itu, tidak ya. Justru bagus, hanya saja orang-orang terutama yang usianya masih muda atau yang masih umur 20an mungkin tidak sampai berpikir lebih jauh (aku yakin tidak semua, tapi tidak banyak).
“Tidak berpikir jauh? Apa maksudmu?”
Aku bisa saja salah, tapi kamu boleh pertimbangkan.
Jika semua orang menjadi pegawai, entah itu di perusahaan, kantor negeri atau toko usaha swasta, pemikiran itu akan membuatmu menjadi konsumen. Lalu siapa yang menjadi produser? yupp pemilik toko, toko itu bahan bakunya dari mana? pikirkan lah sendiri.
Toko penjualan pun fokusnya ya menjual, siapa yang membuatnya? perlu dari pabrik. iya kalau pabriknya ada, kalau tidak ada? impor dari luar? Ketergantungan jadinya.
Kenapa tidak membuatnya sendiri? Berinovasi membuat hal baru dan menerapkannya secara masif mungkin tidak diajarkan di bangku pendidikan (di negara kita saat ini).
Kenapa ku katakan begitu? Iya aku sudah merasakan 12 tahun sekolah + 4 tahun kuliah, mungkin sekolah atau kampus lain berbeda. Tapi ya kalaupun ada yang kamu maksud, paling hanya sebatas proyek pada mata pelajaran itu. Selebihnya kalau mau lebih berkembang, kamu sendiri yang lanjutkan. Ya kan? Dan itupun kalau didukung.
2. Produksi Atau Impor
Oh iya, jika semua orang senang bekerja dengan seragam rapi dan bersih, siapa yang menjadi petani?
Generasi selanjutnya yang seharusnya meneruskan. Dari kecil kita terdoktrin kalau pekerjaan itu kurang menjamin, tapi ya kalau diseriusin hasilnya pun tidak main-main.
Justru itulah yang penting, masa iya kita impor bahan-bahan makanan terus menerus? Produksi dalam negeri masih tidak mampu memenuhi semua kebutuhan.
Itu masih bahan makanan, belum yang lainnya. Kamu bisa browsing sendiri apa saja dan berapa jumlah impor kita setiap tahun.
Get Fandi Ahmad’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Agak miris, padahal negeri kita dikenal akan kekayaan alamnya.
Banyak anak muda yang kurang berminat menjadi petani, artinya apa? Kalau kamu memilih jalan itu sainganmu mungkin tidak banyak, ehh bercanda bukan itu maksudku, hehe.
Pemerintah juga haduhh, mana ada mereka pikirkan itu, kebanyakan mereka cuma mikirin perutnya sendiri.
Selama bersekolah kita tidak pernah diajarkan untuk bangga menjadi seorang petani. Padahal semua makanan yang kamu makan selama ini kamu pikir itu dari mana kalau bukan hasil dari pertanian?
Iya mungkin ada yang jawab “Dari pabrik juga ada” Iya tapi bahan-bahannya dari mana coba?
Bertani tidak seburuk itu, kamu juga bisa upgrade selain menjual hasilnya ke pengepul, kamu pun bisa mengolahnya dan mengemasnya menjadi produkmu sendiri.
3. Buang Semuanya
Kalau mau membuat jalan sendiri, it’s okay, artinya kamu mau membuka potensimu, hanya saja kamu mesti siap dengan segala risikonya.
Buang jauh-jauh terlebih dahulu pemikiran kalau hanya pekerjaan berseragam saja yang bisa dikatakan sukses. Definisi sukses setiap orang itu berbeda.
Kamu tidak harus mengikuti standar sosial yang berlaku.
Tapi kamu juga harus tetap rendah hati, jangan karena kamu memilih jalan yang berbeda, jadinya kamu anggap mereka itu salah.
Memilih bertani, menjalani usaha, atau hidup dari bakat, tunjukan pada dunia kalau kamu juga bisa bersinar, bahh agak berlebihan tapi oke lahh.
Ya intinya jangan terlalu menormalisasikan standar sosial. Ada banyak pilihan di luar sana, kamu yang menentukannya.
4. Ikuti Aturan
Seperti yang ku katakan, kamu bebas memilih. Tapi kamu juga harus siap akan risikonya. Masalah uang misalnya, Tidak masalah jika harus bekerja terlebih dahulu untuk memenuhi itu.
Sambil pelan-pelan kamu menyusun rencanamu selanjutnya. Atau kalau mau begitu terus juga kalau kamu suka, tidak masalah sih.
Kamu tidak harus memaksakan mengikuti standar sosial atau anggapan umum orang-orang, kamu bebas memilih, tapi kamu juga tidak bisa memaksakan orang-orang mengikutimu.
Dan kamu juga bukan berarti mengabaikan mereka, tidak. Jalani hidup sebagai mana mestinya, menjadi manusia normal sebagai makhluk sosial.
Sebelumnya tidak ada masalah dengan kehidupan ini, sampai kehidupan media sosial online datang yang merubah perspektif itu dan menormalisasikan hal-hal yang menurut mereka benar. Bukan berarti semua orang harus mengikutinya hanya karena banyak yang seperti itu.
5. Menyesuaikan, Bukan Mengikuti
Setelah kamu tahu hal normal pada umunya, kemudian membuang jauh-jauh pemikiran itu untuk menggantinya dengan yang baru, kini waktunya untuk bergerak.
Ikuti aturan yang berlaku, jangan beranggapan “hidupku aturanku” Kamu siapa?
Tapi buatlah jalan yang kamu pilih menjadi lebih mudah, yeahh walaupun seharusnya tidak selalu mudah sih.
Tidak masalah jika prosesmu lebih lama dari yang lain.
Tidak ada tuh keberhasilan yang instan. Indomie yang katanya mie instan pun mesti dimasak terlebih dahulu.
Thank you karena sudah membaca, semoga ada hal baik yang kamu dapatkan✨








