Sitemap

dua lima.

15 min readJul 8, 2026

--

“Hah? Kelahiran 2001?”

“Hah? Angkatan 19?”

“Mudanya.”

“Ih, terlihat kayak masih semester 6.”

Ya, itu respon yang aku dapat dari beberapa orang baru yang aku temuin selama setahun belakangan ini. Cukup senang mendengarnya sambil melihat ekspresi mereka yang terkejut, tapi di sisi lain, dalam hatiku berkata,

“Memangnya 2001 sudah setua itu, ya?”

Aku pun mulai memikirkan kenapa mereka mengira aku terlihat seperti kelahiran setelah 2001, kemudian aku melihat foto diriku yang sekarang dengan foto terakhir kali ngumpul bareng teman-temanku, baik itu teman kuliah maupun teman sekolah. Di situ aku menyadari satu hal, yang sebenarnya aku sudah tahu tapi tidak terlalu aku perhatikan.

Penampilanku versi saat ini berbeda banget dari versi beberapa tahun yang lalu.

Di saat temanku yang cowok masih mempertahankan dan menyesuaikan penampilannya seperti cowok pada umumnya, penampilanku malah berubah drastis, mulai dari atas sampai bawah.

Berbicara mengenai penampilan dengan versi yang berbeda, aku teringat penampilan diriku versi waktu sekolah, saat di MTs dan MA, rambutku masih style gundul — atau mungkin bahasa kerennya cukur tentara (?). Karena adanya aturan sekolah yang melarang siswa berambut panjang. Sedangkan saat kuliah, rambut sudah bisa dipanjangkan, meski masih ada aturan kampusku yang melarang mahasiswa berambut gondrong — setidaknya bisa dipanjangkan sedikit.

Sebenarnya di tahun 2020, saat semester 2, rambutku sempat gondrong, karena saat itu COVID19 sudah masuk di Indonesia, dan kuliah jadi full online satu semester, jadinya tidak cukur selama 6 bulan. Terus semester berikutnya, kuliah sudah mulai hybrid (kadang online dan kadang offline menyesuaikan kondisi) karena kampusku lebih banyak praktikum, dan aku sudah ditegur dosen, jadinya aku ke barbershop for the first time dan mencoba haircut baru, yaitu Taper Cut di sekitar September 2020, kemudian semester berikutnya (Februari 2021) barber-nya menyarankan Comma Hair, katanya kurang lebih sama seperti Taper Cut, cuma sedikit lebih panjang (seingatku begitu sih). Aku langsung suka dengan haircut seperti itu, karena merasa diriku terlihat berbeda aja daripada saat masih gundul. Dari situ aku mencoba untuk potong rambut setiap 6 bulan sekali untuk melihat secocok apa looks aku dengan rambut seperti itu, dan sepanjang apa rambut itu terlihat cocok denganku. Aku juga sempat meminta papaku untuk membelikan kupluk karena terkadang rambutku masih awut-awutan karena belum mengerti hairstyling.

Lalu, aku mulai mencoba menyesuaikan penampilanku yang lain seperti aksesoris, saat semester awal aku mencoba membeli kalung yang bahannya tali prusik plus ornamen taring dengan harga kisaran 10–15 ribu di salah satu mall, belum berani membeli yang rantai titanium seharga sekitar 50 ribu karena takutnya terlihat terlalu mencolok dan tidak cocok untukku, apalagi duitku saat itu masih dari orang tua. Begitu pun dengan gelang, aku membeli dengan bahan tali yang sama seperti kalung dengan harga yang paling murahnya 5 ribu, aku memilih yang layer-nya banyak dan membeli beberapa agar terlihat ramai. Aku memakainya di lengan kiri dan kanan, karena merasa aneh kalau aku yang kurus ini cuma pakai satu layer bahkan tidak memakai apapun di tanganku. Tidak memakai jam tangan juga karena malas membelinya, pernah punya tapi antara rusak dan hilang, jadi mending beli gelang.

Press enter or click to view image in full size
Potret tampilan diriku, 4 Juni 2021.

Akhirnya penampilan itu bertahan sampai aku berada di semester akhir, yaitu September 2023, dengan tambahan kacamata yang aku beli di Agustus 2022 saat sedang PKL di Jogja — belinya online pula. Mataku tidak minus atau plus, memang karena mau gaya-gayaan. Sebelumnya pernah juga beli kacamata pas semester pertama, tapi anehnya aku malah membeli yang frame gold dengan kuping kucing kecil di kiri dan kanannya, hih, memang sih aku maunya selalu terlihat berbeda, tapi kok jatuhnya malah rebel, ya — sudah ketua kelas, penampilannya terlalu nyentrik, rebel pula.

Beberapa hari sebelum sidang skripsi atau istilahnya semhas (seminar hasil), aku sempat melihat kembali rambutku yang sudah mulai panjang sambil berkata dalam hati, “Terakhir cukur beberapa bulan yang lalu nih. Kalau mau cukur Comma Hair lagi nanggung sih, soalnya sudah mau selesai juga.”

Aku mulai mencoba searching di Google dan TikTok mengenai haircut yang kira-kira cocok untuk aku. Saat itu sempat kepikiran mau mencoba Wolfcut, tapi rambut aku saat itu masih belum panjang banget, ditambah lagi aku masih belum tau dan terbiasa hairstyling. Sempat ragu juga takutnya tidak cocok, karena yang aku lihat hasilnya cocok dengan muka mereka, sedangkan aku merasa medium ugly. Lalu aku coba cari Wolfcut tapi modelnya cewek, cocok banget, tapi lupa kalau aku medium ugly.

Kemudian aku mencoba searching haircut lain yang kira-kira mendekati Wolfcut, tiba-tiba aku kepikiran mencoba Mullet. Karena aku melihat kurang lebih style-nya sama, hanya beda di panjangnya saja, sama seperti anggapanku tentang perbedaan Taper Cut dengan Comma Hair.

Di situ keputusanku sudah bulat. “Kalau misalkan aku sudah semhas tanpa cukur dan tidak ditegur dosen, aku akan mencoba Mullet, terus mencoba memanjangkannya hingga jadi Wolfcut”, kataku dalam hati.

Hari ujian semhas tiba, ternyata salah satu penguji — di mana dia merupakan ketua pengujiku, sekarang sudah almarhum — menegur rambutku, tapi untungnya aku tidak disuruh cukur dulu, dan ternyata ketika aku ujian, lampu di Lab Komputer tempatku semhas malah mati (untungnya bukan listrik, karena proyektor masih bisa menyala), jadinya aku ujian dengan keadaan gelap, dan rambutku tidak terlalu diperhatikan, hehe.

Sesuai dengan rencanaku, setelah semhas dan mengurus tanda tangan serta berkas wisuda, aku langsung ke barbershop langganan, lalu mencoba konsultasi tentang mencoba haircut baru dengan barber yang sampai sekarang sudah saling kenal, dan akhirnya dia menyarankan Mullet Jay Jo. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan, dan aku langsung suka sama hasilnya.

Press enter or click to view image in full size
Potret tampilan diriku ketika wisuda, 7 Oktober 2023.

Jujur awalnya aku merasa aneh, karena ketika melihat hasilnya aku merasa seperti bukan diriku yang dulu, tapi dalam hatiku berkata, “Ah, memang karena first time aja sih, lama-lama jadi terbiasa, kok, apalagi kan aku memang ada keinginan mau mencoba eksplorasi beberapa penampilan baru.”

Ya, kalau diingat-ingat, memang dari masa sekolah aku selalu berkeinginan untuk mencoba memanjangkan rambutku, tapi karena aturan sekolah, jadi mau tidak mau harus kupatuhi. Di saat aku terkena razia rambut yang kesekian kali, di situ papa aku sempat berkata padaku, “Kalau kamu mau mencoba panjangkan rambutmu, tunggu saja sampai selesai kuliah.” Dan yap, aku sudah semhas, beberapa hari lagi wisuda, jadi aku sudah bisa lebih mengeksplorasi penampilan aku.

Berbulan-bulan aku masih suka dan bertahan dengan haircut itu, meskipun ada aja yang bilang “Ihiy, rambut Mullet, bikin kepelet”. Aku selalu tertawa kecil dan bilang, “Ahahahah, apa sih?” dan dalam hatiku berkata, “Yaudah lah, mau gimana lagi, mentang-mentang sekarang lagi tren kata-kata begitu”.

Delapan bulan kemudian, panjang rambutku sudah hampir mencapai bahu, aku kembali ke barbershop langganan itu untuk request haircut baru lagi, Wolfcut! Haircut yang aku inginkan saat itu, tapi aku tambahin request potong poni hingga atas alis, karena sadar jidat aku lebar.

DAN HASILNYA AKU SUKA BANGET!!! TERNYATA COCOK! PONINYA JUGA GAK ANEH DI AKU! Mau di-style poni di depan, poninya dibuat belah tengah, kemudian rambut belakang diikat hingga jadi style Man Bun tapi poninya gak diikat, HASILNYA TERNYATA COCOK SEMUA! BAGUS! SUKA!

Akhirnya sudah 2 tahun aku mempertahankan ini, lucunya lagi setiap aku potong rambut dengan style yang sama, ada beberapa orang yang bilang rambut aku mirip Dora.

Press enter or click to view image in full size
Potret tampilan diriku sebelum dan setelah potong rambut yang katanya mirip Dora, 18 Juni 2026.

Aku juga sudah mulai mencoba membuat beberapa penyesuaian lain dengan penampilan aku, dimulai dari kalung. Aku mencoba checkout kalung titanium berwarna hitam, belum berani yang warna silver karena masih takut tidak cocok. Setelah berbulan-bulan memakainya dan merasa cocok, aku pun checkout aksesoris lain seperti gelang, yang sebelumnya gelang tali prusik yang sudah dipakai selama 4 tahun lebih dan tidak pernah dilepas, kemudian aku ganti dengan gelang rantai titanium, tentunya aku beli yang 3-layer agar terlihat ramai, dan pada akhirnya mencoba checkout cincin. Setelah memakainya dan melihatnya dicermin kemudian coba ambil beberapa foto selfie, dalam hatiku berkata, “Ah, keren juga ternyata aku pake beginian.”

Lalu aku mulai kepikiran untuk mencoba eksplorasi outfit seperti baju dan celana, karena sadar dengan penampilan aku dulu yang sangat rebel, mau terlihat berbeda tapi baju dan celana tidak match dan memakai apa yang ada di lemari, kalaupun match palingan outfit-nya full hitam kayak orang berduka, dan sadar juga beberapa baju yang aku pakai selama ini ada yang sudah bertahun-tahun bahkan 1 dekade lebih. Jadi aku mengalihfungsikan baju-baju itu yang sebelumnya aku pakai nongkrong menjadi baju rumah, kemudian mencoba checkout beberapa baju dengan warna beragam dan cerah karena mau eksplorasi, bahkan aku checkout baju warna pink. Aku juga sempat checkout beberapa baju dari grup musik yang gak terlalu aku ikuti, tapi karena desainnya menarik, jadi ya kenapa tidak.

Kemudian aku mencoba untuk matching outfit dengan beberapa referensi dari media sosial, dan itulah yang membuat diriku menjadi versi yang sekarang.

Outfit colorful dan rambut panjang tapi bondol, biasanya cowok kalau rambutnya panjang, ya dipanjangin sampai melebihi bahu, tapi aku selalu potong rambut sampai seleher atau sedagu.

Jujur, kenalan aku yang barber pun bilang kepadaku, “Bisa-bisanya kamu tahan dengan rambut panjang”. Ya, memang cowok kalau sudah tidak mau gondrong, entah karena sudah bosan atau gerah, pasti bakal potong haircut pendek seperti cowok pada umumnya, tapi aku masih bisa bertahan dengan rambut seperti ini, karena aku selalu berpikir, “Kalau cewek bisa mempertahankan rambut panjangnya selama bertahun-tahun, masa’ cowok gak bisa?”.

Ditambah lagi, sejak 2024 aku mulai mencoba warnai rambut, yang pada akhirnya jadi kebiasaan setahun sekali, dan untungnya orangtuaku tidak melarang untuk melakukannya.

Dan juga, beberapa bulan belakangan ini aku mencoba membiasakan pakai sepatu lagi, setelah selama kuliah aku sering pakai sendal — hehe, maaf, tidak baik untuk ditiru — karena kuliah aku kebanyakan praktikum dan kalau masuk lab harus buka alas kaki, jadinya lebih memilih pakai sendal dan malah jadi kebiasaan. Tapi kali ini, saya sampaikan saya akan membiasakan pakai sepatu.

Untuk saat ini, aku sudah nyaman dengan versi diriku yang sekarang, aku pernah dengar kalau penampilan mempengaruhi kepercayaan diri seseorang ketika bertemu orang lain, dan itu terbukti dengan penampilan aku, selain untuk kenyamanan dan kepercayaan diri, ini juga bisa jadi identitas aku agar mudah dikenali orang lain. Dan dari situ aku menyadari satu hal:

“Setiap orang pasti glow up pada waktunya, asalkan tau cara menjaga dan merawat diri.”

Mungkin sampai situ saja untuk pembahasan mengenai penampilan, sekarang aku mau membahas apa yang telah aku alami selama setahun belakangan ini.

Menjelang pertengahan 2025, aku memutuskan untuk mencoba beberapa hal baru, seperti masuk komunitas sosial dan masuk ke ranah seni, setelah 2 tahun cuma berdiam diri di rumah dan stay di lingkungan yang itu-itu saja.

Get Fiq’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Setelah lulus kuliah di Oktober 2023, tidak seperti teman lainnya yang langsung mencari kerja bahkan sudah punya kerjaan tetap semenjak kuliah, aku memilih untuk merenung selama setahun dan memikirkan bakal jadi apa diriku nanti, sambil mencoba mengambil beberapa kerjaan freelance dari kenalan yang ada agar tidak dicap ‘pengangguran full-time’.

Di situ aku sempat memikirkan lingkungan kerja mana yang kira-kira cocok untukku, setelah melihat banyak fenomena dunia kerja yang aku lihat di media sosial — sepertinya di sini aku malah terpengaruh standar TikTok, deh.

Sempat takut masuk ke lingkungan baru karena takut mendapat lingkungan yang toxic dan tidak sefrekuensi, mengingat diriku yang dulu pernah jadi korban bullying di sekolah — salah satu penyebab aku jadi korban bullying adalah fisikku yang kurus dan terlihat culun. Dan saat aku kuliah, aku merasa cepat akrab dan nyaman dengan lingkungan kampus. Maka aku tidak mau hal baik itu tidak aku dapatkan dan malahan hal buruk terjadi lagi padaku.

Itulah yang membuat aku belum mau masuk ke lingkungan kerja. Aku terlalu memilih-milih, tidak mau jadi orang kantoran, karena takut ketika jadi orang kantoran aku malah mendapatkan jobdesk palugada yang tidak sesuai dengan fokus aku.

Aku sempat mendengar cerita dari teman aku, dia awalnya masuk sebagai Web Developer (seingatku), namun lama-kelamaan dia mendapat jobdesk graphic design, bahkan sampai 3D design.

Memang aku lulusan Multimedia, di mana cakupannya aku rasa terlalu luas, dari graphic design, video editing, animasi, bahkan ada mata kuliah pemrograman seperti pemrograman website, aplikasi Android, game, bahkan machine learning — by the way machine learning itu cabang dari bidang Artificial Intelligence (AI).

Ada juga temanku yang sekarang kerja di bagian administrasi, di mana itu tidak ada kaitannya dengan kuliahku. Bukan bermaksud merendahkan atau apapun, tapi kembali ke alasan aku tadi, khawatirnya aku tidak mendapat jobdesk yang sesuai dengan yang fokus aku.

Aku sangat berharap bisa masuk ke industri kreatif, entah itu di agensi maupun urus event besar, karena selama 4 tahun aku kuliah Multimedia, dari beberapa tugas project itulah yang membuatku punya bayangan bakalan masuk ke ranah mana.

Tapi apalah diriku yang relasinya kurang, dan lucunya aku malah nekat mengirim CV ke perusahaan yang secara standar itu tinggi banget, perusahaannya di Jakarta pula, jadinya saingan terlalu banyak. Aku mencoba apply di agensi kreatif yang saat ini jadi salah satu media terbesar di Indonesia, tapi belum sampai sejam sudah masuk notifikasi kalau CV aku ditolak. Lalu aku mencoba apply di bidang esports, karena sudah pasti ada posisi ranah kreatif seperti fokusku sekarang, tapi apa daya tidak ada balasan.

Akhirnya aku berusaha untuk berlindung di balik status ‘freelance’, agar ketika suatu saat aku dipanggil interview kerja, aku tidak mendapatkan pertanyaan “ngapain aja sebelumnya”.

Satu setengah tahun berlalu, dua bulan setelah aku mengambil ijazah — aku baru mengambilnya karena rencana awalnya setelah semhas mau istirahat dulu sebulan karena capek dan akhirnya malah jadi satu setengah tahun — tiba-tiba ada notif dari satu grup WhatsApp, ternyata itu grup aku dan teman-teman SMP aku. Satu orang mengajak untuk ngumpul di rumahnya. Ah, sudah lama aku tidak muncul di perkumpulan itu. Memang biasanya kalau sudah fokus dengan lingkungan baru, aku perlahan-lahan bahkan langsung menghilang dari lingkungan lama.

Sebenarnya aku udah malas muncul, tidak ada masalah apapun, memang karena sudah tidak ada urusan sama sekali, jadinya ya buat apa muncul lagi. Namun pada akhirnya aku memutuskan untuk datang, hanya karena penasaran bagaimana reaksi mereka melihat diriku setelah bertahun-tahun menghilang.

Ada yang terkejut melihat penampilanku yang berbeda, karena rambut bondol dan kacamataan. Ada juga yang kaget karena aku tiba-tiba muncul tanpa berkabar terlebih dahulu, memang sengaja, biar mereka kaget aja. Kami pun bercengkrama mengenai apa yang telah dan sedang kami lakukan selama ini.

Beberapa hari kemudian, salah seorang dari teman yang ngumpul saat itu chat aku di WhatsApp, mengajakku untuk masuk ke komunitas sosial yang dia dirikan, dan memintaku untuk menjadi video editor untuk video recap di media sosial. Aku sempat mengiyakan meskipun masih ragu bersosialisasi karena merasa canggung ketemu orang baru, apalagi aku orangnya introvert. Beruntungnya dalam komunitas itu ada beberapa teman sekolah yang sempat aku kenal meski belum pernah ngobrol sama sekali.

Dia lalu menjelaskan bahwa komunitas ini bertujuan untuk berbagi ke beberapa target, seperti ojol (ojek online), tukang becak, pengangkut sampah, panti asuhan, dan lain-lain. Aku boleh ikut berbagi selama aku ada waktu luang, dan tugasku adalah mengedit video dokumentasi dari kegiatan berbagi tersebut dengan bantuan narasi dari teman yang lainnya, menjadi sebuah video recap. Yang lebih bagus lagi, aku dibebaskan untuk mengedit dengan style apa pun yang aku mau.

Datanglah aku ke kegiatan itu dengan rasa canggung dan malu-malu, mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan itu, berusaha untuk menjawab setiap pertanyaan meskipun sadar setiap jawaban yang keluar selalu dry text, ketika mau menyambung pembicaraan malah bingung mau bertanya apa karena aku kurang suka basa-basi. Lebih memilih untuk banyak diam di awal bertemu karena tidak tahu orang yang aku temui seperti apa, setiap orang sifat dan sikapnya berbeda-beda, aku tidak mau first impression orang ke aku jelek duluan, makanya aku memilih untuk diam dulu. Biasanya butuh beberapa kali bertemu baru aku mulai mencoba untuk mengeluarkan celetukan-celetukan dan berusaha mencari celah yang cocok untuk masuk, kalau pun ada yang mancing untuk mengeluarkan jokes yang ‘sedikit berbahaya’, biasanya aku langsung lepas.

Selepas kegiatan berbagi, aku diberikan link berisi seluruh footage kegiatan. Awalnya aku belum ada bayangan sama sekali mau buat bagaimana, karena aku belum pernah mengedit video recap sebelumnya, padahal udah 5 tahun lebih aku berkecimpung di video editing. Akhirnya aku mencoba untuk mengedit sesuai dengan apa yang ada di pikiranku dengan segala pengalaman yang aku punya, mulai dari menjahit satu footage ke footage yang lain agar nyambung satu sama lain, menyesuaikan dengan voice over narasi, kemudian kasih subtitle, dan mencari backsound yang cocok. Aku pun mencoba improve dengan membuat animasi dari logo yang telah dibuat. Memang kebiasaan aku ketika melakukan sesuatu yang aku suka, pasti bakal ada satu unsur yang aku buat berbeda — salah satu tujuannya karena ada yang mau aku coba sih mumpung style dan konsepnya dibebaskan.

Setelah selesai edit, aku kirim videonya ke teman-teman komunitasku ini, dan ternyata mereka suka dengan hasilnya, padahal aku merasa video aku ini biasa saja. Memang setiap aku selesai mengerjakan suatu video, aku selalu merasa ada yang kurang dengan hasil kerjaanku, selalu merasa ada yang salah dan perlu diperbaiki, tapi tidak tahu apa. Untungnya mereka suka dan menghargai kerjaanku.

Sudah setahun berlalu, aku telah improve style editing video recap-nya dengan mencoba konsep typography, menambahkan beberapa sound effect yang cocok, mencoba aspect ratio yang berbeda (karena bosan dengan aspect ratio yang itu-itu saja — 9:16), dan hal lainnya yang mau aku coba.

Setelah setahun berada di komunitas itu, aku mendapatkan 3 hal yang aku senangi: aku senang karena setiap kegiatan berbagi hatiku merasa tenang, aku senang karena bisa memberanikan diri untuk bersosialisasi dengan orang lain meskipun masih lebih banyak diamnya, dan aku senang karena aku bisa mengerjakan hal yang aku suka dan diberikan kebebasan konsep.

Press enter or click to view image in full size
Potret tampilan diriku dengan rompi dari komunitas sosial yang aku ikuti, 11 Agustus 2025.

Di samping kegiatan komunitas sosial, aku mencoba masuk ke ranah seni. September 2025, sebuah rumah budaya mengumumkan program magang melalui Instagram. Sempat mikir apakah aku mau coba apply atau tidak, karena di saat itu umurku sudah 24, dan status ‘fresh graduate’-ku sudah tidak ada. Tapi dalam hatiku berkata aku harus mencoba daftar karena aku mau cari relasi di dalam, dan ada info yang harus aku cari.

Akhirnya aku mencoba apply, dan ikut program itu, berkenalan dengan orang baru lainnya, lagi-lagi dengan rasa canggung dan butuh waktu untuk beradaptasi dengan caraku seperti sebelumnya. Sempat juga berkata dalam hati, apakah aku jadi peserta magang yang paling tua di sini, mengingat di usiaku yang sekarang ini yang seharusnya mengambil pekerjaan full-time malah ambil program magang.

Bersyukur obrolanku sempat nyambung dengan beberapa orang, itupun karena beberapa topik yang direct-nya ke arah aku. Satu poin yang menarik bagiku adalah ketika ada yang menanyakan sekarang aku sudah semester berapa. Dalam hatiku berkata, “Waduh, memangnya aku terlihat seperti masih mahasiswa, ya?” kemudian langsung aku jawab, “Eh, saya sudah lulus sih,” “Oh ya? Kakak angkatan berapa?” tanyanya, “Angkatan 2019,” jawabku, “Ih mudanya!” responnya dengan nada terkejut ketika mendengarnya. “Eheh, sudah setua itu kah 2019?” tanyaku sambil tertawa kecil, “Enggak Kak, cuma Kakak terlihat kayak masih mahasiswa gitu.”

Lucu juga mendengar reaksinya, mungkin karena dia melihat penampilanku yang terlihat nyentrik dan berbeda dengan orang seumuranku pada umumnya, ditambah suaraku yang tidak berat seperti cowok pada umumnya.

Satu hal lainnya yang menarik bagiku adalah aku bisa mencari beberapa info, di mana itu merupakan salah satu tujuan aku daftar program magang ini: mau coba cari info tentang volunteer event besar. Ya, tadi aku sempat katakan kalau aku mau coba mengurus event besar, tapi relasi aku kurang. Sebenarnya bisa saja aku cari infonya melalui media sosial, cuma khawatirnya aku kelewatan dan tidak menyadari hal itu, jadinya aku gunakan cara ini, dan setidaknya dengan program magang bisa meningkatkan persentase peluang aku untuk diterima jadi volunteer — pintar juga aku ternyata HAHAHAHAHAHAHAH.

Setelah program magangnya selesai, mulailah aku mencoba ikut volunteer satu event festival, mencoba bersosialisasi lagi dengan orang baru dan lagi-lagi perlu beradaptasi. Tapi entah kenapa, diriku jauh lebih cepat cair dan lepas ketika berada di lingkungan yang ini.

Salah satu topik yang bisa kutebak di awal kenal dengan orang-orang baru ini tentu saja tentang semester dan kelahiran berapa, reaksi dan respon mereka kurang lebih sama seperti orang sebelumnya yang terkejut ketika mendengar jawabanku. Kelihatan dari cara mereka memanggil namaku yang tidak pakai kata ‘Kak’. “Oh, sepertinya mereka sempat mengira aku seumuran dengan mereka,” pikirku.

Sempat merasa aneh di awal ketika tidak dipanggil ‘Kak’ oleh orang yang tidak seumuran, namun lama-kelamaan aku sudah merasa biasa saja dan terbiasa dengan itu, karena memang aku pernah berharap mau dipanggil nama secara langsung tanpa embel-embel ‘Kak’ ketika mengobrol dengan orang yang tidak seumuran, selama jarak usianya tidak jauh berbeda, biar serasa tidak ada gap.

Ternyata kebanyakan volunteer yang aku temui di sini masih berstatus mahasiswa, yang artinya kebanyakan dari mereka usianya di bawah aku. Masih lucu ketika aku mencoba mengobrol dengan volunteer yang lainnya dan melihat reaksi mereka yang lagi-lagi terkejut ketika tau kalau aku kelahiran 2001.

Potret tampilan diriku ketika menjadi volunteer sebuah event festival, 18 Mei 2026

Jujur, seru sekali bisa mengenal dan mengobrol dengan orang-orang ini meski baru beberapa bulan, karena di satu sisi aku merasa beberapa tahun lebih muda, tapi di sisi lain aku malah merasa ketuaan.

Dan jujur, senang sekali bisa mencoba dan mengeksplor hal baru setahun belakangan ini, selain bisa bertemu orang-orang baru, setidaknya ada banyak hal yang bisa aku lakukan dan kerjakan sesuai dengan fokus aku saat ini, di tengah sulitnya mendapatkan kerjaan tetap dan masalah janji lapangan kerja. Walaupun sebagian yang aku kerja merupakan bagian dari kegiatan volunteer, tapi setidaknya aku bisa dapat beberapa kerjaan freelance dari situ.

Aku juga merasa bersyukur akhirnya aku bisa lebih sibuk lagi, dua tahun setelah lulus kuliah aku merasa hampa karena kegiatanku hanya mengerjakan kerjaan freelance dan berkumpul dengan teman kuliah yang hanya bisa beberapa bulan sekali.

Memang saat ini aku masih berlindung di balik status ‘freelance’ dan mencoba volunteer untuk menutupi waktu menganggur, tapi aku masih dapat bayaran dari masing-masing kegiatan itu, meskipun tidak sepadan dengan gaji tetap seorang karyawan full-time. Sekarang pun aku masih berusaha dan berharap bisa mengejar beberapa mimpi serta cita-cita yang aku inginkan.

Aku sadar, rezeki bukan hanya berupa uang, tapi bisa juga berupa hati yang senang dan tenang karena berada dengan orang-orang baik.

Sekarang aku sudah memasuki usia 25 tahun, sudah masuk quarter-life, quarter-century, atau apalah istilahnya. Aku minta maaf karena diriku masih belum menjadi apa-apa. Orang-orang seusiaku kebanyakan sudah punya kerjaan tetap, sudah punya penghasilan tetap, dan bisa merealisasikan rencana dari apa yang mereka punya.

Di saat teman-teman seusiaku sudah bisa menggunakan uangnya untuk mengganti motor dan merenovasi rumahnya, aku masih menggunakan uangku untuk membeli outfit yang colorful dan cocok untukku.

Aku sadar, aku masih merasa terlalu santai di saat keadaan negara sedang tidak baik-baik saja, namun aku masih dalam tahap mencari jati diri, masih mau mengeksplor hal baru, dan mengejar apa pun yang aku impikan dari dulu.

Tuhan, aku mohon, berikan aku kekuatan untuk tetap bertahan dan waras, di saat orang seusiaku tiba-tiba menjadi komis-

--

--

Fiq
Fiq

Written by Fiq

Just writing down something that's on my mind.