puan;
puan itu ibarat anak kecil,
tidak boleh ditegur dengan nada tinggi,
apabila mereka sedang marah dan emosi,
nasehatilah mereka dengan lemah lembut,
puan mudah meneteskan air mata,
dan sering dilanda mood yang tidak menentu.
jangan ukur gejolak dengan kerasnya intonasi,
sebab tak setiap amarah lahir dari ketiadaan rasionalisasi,
adakalanya emosi merupakan bahasa dari akumulasi,
atas letih yang tak terucap,
luka yang tak teridentifikasi,
dan perasaan yang kehilangan artikulasi.
ketika suasana batinnya dilanda turbulensi,
jangan hadir sebagai otoritas yang memaksakan koreksi,
melainkan sebagai ruang aman bagi regulasi emosi,
tempat ia tak perlu menyembunyikan rapuh demi mempertahankan prestasi.
Get gndtgh19’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
sebab air mata bukan selalu manifestasi kelemahan,
dan perubahan suasana hati tak selalu berarti ketiadaan kematangan,
setiap manusia punya ambang toleransi
dan cara berbeda dalam mengelola tekanan,
maka kelembutan sering kali lebih efektif
daripada konfrontasi yang melahirkan pertahanan.
jika ia sedang marah, jangan buru-buru menghakimi,
jika ia sedang menangis, tak perlu tergesa-gesa mengintervensi;
dengarkan sebelum menyimpulkan,
pahami sebelum memberi evaluasi,
sebab nasihat yang baik bukan sekadar benar secara substansi,
tetapi juga hadir pada waktu dan cara yang dapat diterima oleh hati.
namun, kasih bukan berarti meniadakan batas,
dan kelembutan bukan alasan membiarkan luka terus membekas,
dua manusia tetap perlu belajar berkomunikasi secara setara dan pantas,
agar kasih tak sekadar menjadi tempat bernaung,
tetapi juga ruang bertumbuh dengan bebas.
sebab,
kasih bukan tentang memperlakukan seperti anak kecil,
melainkan memahami bahwa setiap manusia;
kala emosinya, tetap layak didengarkan tanpa direndahkan,
dinasihati tanpa disakiti,
dan rangkul tanpa harus terlebih dahulu menjelaskan seluruh lukanya. )n.






