Kenapa Saya Mulai Serius Mempertimbangkan Properti di Pinggiran Jakarta, Bukan di Tengah Kota
Cerita di balik pergeseran cara pandang banyak orang soal “lokasi ideal” untuk berinvestasi rumah
Beberapa tahun lalu, kalau ada yang bilang mau beli rumah di Parung, reaksi kebanyakan orang di sekitar saya biasanya sama: “Kok jauh amat?” Waktu itu, standar properti “bagus” masih sangat kaku, harus dekat tol dalam kota, harus di tengah hiruk-pikuk Jakarta Selatan, titik.
Tapi belakangan, saya mulai memperhatikan sesuatu yang berubah. Semakin banyak teman, termasuk beberapa yang bekerja di posisi cukup mapan, mulai menimbang opsi tinggal atau berinvestasi di kawasan yang dulu dianggap “pinggiran”. Dan semakin saya gali alasan di baliknya, semakin masuk akal.
Harga Properti di Tengah Kota Sudah Bukan Lagi soal “Mahal atau Murah”
Ini bukan cerita baru, tapi tetap relevan untuk diulang: harga tanah di Jakarta Selatan sudah berada di titik yang membuat sebagian besar orang, bahkan dengan penghasilan menengah ke atas, harus berpikir dua-tiga kali sebelum membeli rumah pertama mereka di sana.
Masalahnya bukan cuma soal harga per meter yang tinggi, tapi juga soal apa yang sebenarnya kita dapatkan dari harga itu. Banyak yang akhirnya sadar, dengan budget yang sama, mereka bisa dapat rumah jauh lebih luas, lingkungan lebih tenang, dan fasilitas yang justru lebih lengkap di kawasan penyangga seperti Bogor bagian selatan.
Konsep Kota Mandiri yang Mengubah Cara Saya Melihat “Pinggiran”
Yang membuat saya mulai berubah pikiran adalah ketika saya mempelajari lebih jauh soal konsep kota mandiri yang sekarang banyak diterapkan developer di kawasan berkembang. Bukan sekadar cluster perumahan biasa, tapi kawasan yang benar-benar dirancang punya semuanya sendiri, sekolah, rumah sakit, ruang komersial, sampai ruang terbuka hijau, dalam satu area terintegrasi.
Salah satu yang menarik perhatian saya adalah kawasan bernama Grand Duta City Parung, yang membangun konsep kota mandiri di lahan seluas 200 hektare di koridor selatan Jakarta. Idenya sederhana tapi cukup masuk akal: kalau kawasan itu sendiri sudah lengkap, penghuninya tidak perlu lagi bolak-balik jauh ke kota hanya untuk kebutuhan dasar sehari-hari.
Ditambah lagi, posisinya diklaim hanya sekitar 20 menit menuju CBD Jakarta Selatan lewat akses tol, yang membuat kekhawatiran soal “jauh dari kota” jadi terasa kurang relevan lagi dibanding dulu.
Soal Skema Pembayaran yang Ternyata Lebih Fleksibel dari yang Saya Kira
Hal lain yang saya pelajari adalah soal skema pembayaran. Saya sempat berasumsi kalau kawasan berkembang seperti ini pasti menawarkan harga sangat rendah tapi dengan skema pembayaran yang kaku. Ternyata tidak sepenuhnya benar.
Get Granada Hills Ciwidey’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Beberapa proyek, termasuk yang saya sebutkan tadi, punya opsi pembayaran yang cukup variatif, mulai dari kerja sama dengan sejumlah bank untuk KPR reguler, sampai program tanpa uang muka untuk kondisi tertentu. Tentu saja, seperti skema serupa lainnya, ini bukan berarti tanpa konsekuensi, karena biasanya cicilan bulanan jadi sedikit lebih besar. Tapi setidaknya, ini memberi opsi bagi orang yang belum sempat menabung besar di depan tapi sudah punya penghasilan stabil untuk mencicil.
Apakah Ini Berarti Semua Orang Harus Pindah ke Pinggiran?
Tentu tidak sesederhana itu. Properti tetaplah keputusan yang sangat personal, tergantung kebutuhan mobilitas, pekerjaan, dan gaya hidup masing-masing orang. Buat sebagian orang, tinggal dekat kantor tetap jadi prioritas nomor satu, apa pun risikonya dari sisi harga.
Tapi buat yang punya fleksibilitas kerja, terutama dengan makin banyaknya pola kerja hybrid sekarang, saya rasa opsi seperti rumah cluster Parung terbaik ini layak masuk pertimbangan, terutama kalau tujuannya adalah mencari keseimbangan antara harga, kualitas hidup, dan potensi kenaikan nilai properti jangka panjang.
Penutup
Saya sendiri masih dalam tahap riset, belum memutuskan apa-apa. Tapi proses menggali informasi ini membuat saya sadar, standar lama soal “lokasi ideal” untuk rumah mungkin sudah waktunya dipertanyakan ulang, terutama di kota sebesar dan sepadat Jakarta.
Kalau ada yang tertarik menggali lebih jauh soal detail kawasan yang saya sebutkan di atas, termasuk siteplan, tipe unit, dan simulasi cicilannya, informasi lengkapnya bisa dicek langsung di situs resmi Grand Duta City Parung.
Kalau kamu punya pengalaman atau pertimbangan serupa soal memilih antara tinggal di tengah kota atau kawasan penyangga, saya penasaran mau dengar cerita atau sudut pandangmu juga.
Nama Project: Grand Duta City South of Jakarta
Alamat: Jl. Raya Parung №47, Jabon Mekar, Kec. Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16330
Developer: Duta Putra Land
Situs/Website: https://granddutacitysouthofjakarta.com
Nomor Telpon: 0813–1742–034




