Janganlah Kamu Berkecil Hati
Dedicated to me, or whoever in the same current situation.
Sungguh saya merasa bahwasanya ada begitu banyak hal yang masih belum saya ketahui di dalam isi dunia ini.
Bagaimana bisa saya boleh merasa tenang ketika saya salah dalam menyampaikan sebuah pemahaman. Rasanya terlalu berat kalau tahu ada sesuatu yang kurang disorot ataupun lupa untuk diungkapkan.
Tapi dari apa yang saya upayakan, nampaknya orang lain tidak menerapkan usaha yang sama.
Mereka, tak peduli mau itu guru, siswa, orang-orang hebat yang saya ketahui. Bisa salah dalam mengungkapkan sebuah hal. Kenapa saya bisa tahu? Karena saya mengamatinya tak sesuai dengan pemahaman yang saya ketahui. Lantas apa sebenarnya makna asli dari "Anda itu salah"?
Teman saya pernah mengatakan bahwa "Gana kamu itu terlalu serius", saya tak menggubris itu dan di beberapa kesempatan saya membantahnya. Tapi kalau dipikirkan kembali, apa makna dibalik kata itu? Kenapa dia bisa mengatakan bahwa saya itu orangnya terlalu serius yang padahal saya sendiri tidak merasa bahwa saya sedang serius. Lagipula, kata "serius" sendiri tidaklah berkonotasi negatif. Barangkali ketika ditambah "terlalu" akan mulai terdengar kurang beres (Baiklah, mungkin akan terdengar negatif).
Saya mendapati bahwa selama ini ia sebenarnya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya adalah orang yang terlalu serius dalam menanggapi sebuah topik, (Saya punya alasannya). Karena saya sudah melakukan observasi ketika melakukan sebuah kegiatan-kegiatan pada tahun ini dan pada tahun sebelumnya (Saya Gap year) yang saya temukan ialah justru saya lebih serius dalam melakukan aktivitas daripada di masa saat ia menyatakan hal itu (Ia mengungkapkannya berulang kali setiap kita berdiskusi, dan pada kegiatan lain). Sederhananya begini: kenapa tidak bilang "Gana kamu itu berlebihan!".
Itu lebih organik untuk menunjukkan situasi di mana saya memang sedang berlebihan dalam bereaksi, mungkin saja teman saya ini tidak enak untuk menegur secara terus terang karena takut saya sakit hati. Tapi apakah ini justru memperbaiki situasi yang tidak akan berubah dan berujung pada peristiwa di mana dia menyebutkan bahwa saya itu orangnya terlalu serius berulang kali. Saya tidak berubah dan Ia juga tidak berubah (Ada alasan mengapa saya menyertakan dia tidak berubah disini pada akhir teks ini) .
Get G The Comedian’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Keambiguan dalam bertutur kata di lingkungan sosial, boleh jadi membuat kita selama ini—sering tertipu dengan maksud dari apa yang sebenarnya mereka rasakan. Mereka lebih memilih untuk mencari opsi kosakata yang lebih menenangkan atau kelihatannya netral, yang sebenarnya justru semakin mendistorsi pesan asli mereka. Lagi-lagi pemahaman soal bahasa menjadi PR besar untuk kita semua agar dapat memahami apa yang ingin kita sampaikan, terlepas ada rasa yang perlu disimpan dalam menjaga hubungan pertemanan.
Saya pribadi tidak akan marah ketika ada orang yang terus terang memberikan perspektifnya tentang bagaimana ia melihat saya bersikap ataupun berbicara. Tapi mari kita lihat realita yang sebenarnya terjadi apabila anda mengucapkan perspektif anda yang menilai bahwa sikap saya itu buruk di dalam beberapa hal: Di depan saya akan bersabar dan berusaha untuk hati-hati dalam meresponnya. Hanya saja, ada fakta pahit bahwa penerimaan masukan buruk itu tidaklah membuat kita senang melainkan ada rasa sakit di dada yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan kalau boleh ditambahkan ialah saya yang dikritik sendiri tidak merasa bahwa saya sebenarnya seperti itu apalagi bermaksud seperti apa yang ia katakan.
Saya berbicara berdasarkan apa yang saya alami, bahwa memang benar kritik dan teguran tidaklah mudah untuk didengar apalagi diterima. Ada riset yang mengungkapkan bahwa rasa sakit untuk menerima kritikan 4x lebih besar daripada rasa senang mendengar pujian. Maka sah-sah saja kalau kita tidak memiliki hubungan yang cukup harmonis dengan model keluarga yang cenderung terus terang dengan sikap kita dibandingkan dengan teman yang selalu memuji setinggi langit (Syukurnya saya jarang dipuji = saya tidak punya banyak teman, tapi saya mengambil rujukan dari teman-teman kakak saya yang selalu memujinya cantik).
Teks ini tidak memiliki maksud spesifik selain hanya karena saya ingin mencurahkan isi kepala saya. Saya pribadi sedang berpikir bahwa perspektif kita akan selalu berubah seiring waktu dan akan semakin mengevaluasi pola pikir yang kita adopsi sejak kita mulai berpikir. Dengan kata lain, saya tidak melihat bahwa pemikiran orang lain itu benar secara absolut, begitu pula dengan pemikiran saya, yang artinya saya tidak harus "terlalu" khawatir untuk menanggapi sebuah tugas-tugas yang perlu diberikan perhatian dengan lebih moderat dan tidak "berlebihan". Saya menilai bahwa setiap interaksi yang kita bawa baik itu soal presentasi, diskusi, atau bahkan berargumen—ada titik-titik gangguan atau noise yang memicu kesalahan dalam menyampaikan pesan. Yang harus diperbaiki dari kesalahan itu adalah dengan melakukan evaluasi setelahnya dan bukan evaluasi disaat itu juga. Dan sebenarnya yang diperlukan pada saat kita merasa ada titik kesalahan dalam menyampaikan sesuatu adalah koreksi singkat untuk meluruskan niat yang uniknya memerlukan keberanian yang masih jarang dilakukan. Kita merasa bahwa diri kita akan dipersepsikan kurang kredibel (Walau memang benar) dan itu tidak mengenakkan, sebetulnya motif ini juga akan kembali kepada hakikat diri kita yang ingin disukai dan ingin diterima.
Jadi terkhusus untuk teman saya yang mengucapkan "Gana kamu terlalu serius", ada baiknya kita belajar bahasa bersama. Karena: Language is thinking itself.
NOTE:
Tulisan ini ditulis pada tanggal 31 Desember 2025 dan disunting kembali pada tanggal 31 Maret 2026, pukul 23.05 WIB (WAKTU INDONESIA BAHAGIA)
Oh iya jangan lupa bikin quote dulu: "Jangan membandingkan diri dengan orang lain"
Dikarenakan tulisan saya yang kurang emosional jadi saya gamau bandingin sama orang yang lebih jago nulis, setidaknya ini gamake AI.






