Sitemap
Hadrian Christanta

Hadrian Christanta

Simple law college student..

Kembali ke Akar Hermeneutik: Perpustakaan sebagai Sanctuarium: Berpikir Mendalam di Era Digital

6 min readOct 21, 2026

oleh: Hadrian Christanta

Perpustakaan merupakan persemayaman (sanctuarium) yang sakral bagi peradaban manusia untuk merawat pengetahuan dan pikiran. Ia tidak sekadar ruang informasi publik. Di setiap sudut perpustakaan, terdapat keteduhan tempat halaman-halaman buku berbisik. Setiap lembar halaman mengajak manusia menembus luasnya cakrawala pengetahuan yang terasa jauh. Tidak jarang muncul suatu pameo yang mengatakan “buku adalah jendela dunia”. Namun, sebuah jendela tidak akan pernah berdiri kokoh tanpa ada struktur yang menopang. Jika buku adalah jendela, perpustakaan adalah rumah.

Perpustakaan berperan penting dalam sejarah peradaban manusia (Kurniati, 2023:103). Peradaban lahir dari representasi budaya yang timbul atas pengalaman, gagasan, keyakinan, dan kebiasaan manusia sebagai homo socius. (Putri, dkk., 2025:24–25). Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang selalu menciptakan makna dalam kehidupannya. Antropolog Clifford Geertz memandang budaya sebagai sistem simbol dan makna yang tidak hanya berupa kumpulan kebiasaan manusia, tetapi rangkaian makna yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari (Sobur, 2017). Melalui berbagai simbol, manusia memberi arti pada pengalaman hidupnya sekaligus memahami dunia di sekitarnya.

Cassirer (dalam Agustiano, 2011:3–4) juga mengibaratkan manusia sebagai “animal simbolicum” yang berarti manusia tidak menemukan dan mengenal dunia secara langsung, namun melalui simbol. Pemahaman atas simbol-simbol diinterpretasikan manusia melalui budaya membaca dengan cara menerjemahkan lambang-lambang visual menjadi ide, gagasan, dan perasaan. Sayangnya, masyarakat Indonesia belum berhasrat menjadi bangsa berbuku (Sukri, 2019). Masyarakat Indonesia saat ini hidup dalam lautan informasi yang tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pengetahuan. Alih-alih memperluas cakrawala berpikir melalui kedalaman membaca di ruang-ruang perpustakaan, masyarakat Indonesia semakin aditif pada informasi-informasi instan yang disajikan oleh dunia digital.

Literasi dan Arus Digitalisasi Tanpa Henti

“Cogito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Adagium dari Rene Descartes ini menjelaskan bahwa eksistensi manusia berasal dari kemampuan kognisinya untuk memahami bahwa ia makhluk berpikir. Manusia akan gagal untuk membuktikan eksistensinya sebagai makhluk yang berakal, ketika ia tidak lagi mampu untuk menerima, mencerna, merenungkan dan mengkontemplasi informasi yang didapatkan. Kognisi manusia sejatinya didasarkan atas kemampuan proses berpikir yang diberikan oleh Tuhan untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Manusia dewasa ini tidak lagi menggunakan rasionalitas berpikir dalam memproses informasi dan membaca. Sebagian besar informasi dikonsumsi dalam bentuk konten cepat saji yang dirancang untuk dilahap dalam hitungan detik. Bahkan, di Indonesia durasi penggunaan perangkat digital masyarakat tercatat melampaui rata-rata global yakni 5 jam per hari (Riyanto & Pratomo, 2024). Kebiasaan telusur digital (scrolling) tanpa henti ini menjadikan manusia terus berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya tanpa sempat membangun pemaknaan atas informasi yang diterima. Fenomena ini disebut sebagai “doom scrolling” atau kecenderungan manusia untuk mengkonsumsi konten digital secara terus-menerus, sekalipun konten tersebut bersifat negatif (Sharma, et al., 2022). Padahal, di masa lalu manusia harus melewati proses cerna yang lambat, reflektif, dan penuh konsentrasi dengan membaca buku agar mampu memahami informasi.

Hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai entitas kecerdasan buatan juga turut mereplikasi kemampuan berpikir manusia secara alamiah. Proses analisis, refleksi, dan penyimpanan pengetahuan yang dahulu menjadi bagian penting dari kerja intelektual perlahan digantikan oleh kecerdasan buatan yang menyajikan informasi secara cepat dan praktis. Pada akhirnya, manusia tidak hanya kehilangan proses berpikir yang mendalam, tetapi juga sentuhan kemanusiaan yang seharusnya menjadi roh dalam setiap karya dan gagasan yang dihasilkan.

Carr (2011) dalam bukunya The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains, menarasikan keresahan atas distraksi digital dan tantangan personifikasi kecerdasan buatan terhadap kemampuan otak manusia. Akses informasi secara instan secara terus menerus dapat berdampak pada tingkat konsentrasi seseorang. Derasnya arus informasi tanpa henti, serta distraksi konstan dari perangkat digital juga menciptakan digital fatigue atau kelelahan digital. Ketika pikiran manusia sudah lelah dalam menerima arus informasi berlebihan, otak akan malas untuk mencerna pengetahuan secara mendalam dan justru mengaburkan esensi literasi digital. Manusia kemudian akan kehilangan penalaran struktur berpikir yang sistematis, bahkan kemampuan berimajinasi. Pola berulang seperti demikian mengkerdilkan seni dalam berliterasi dan berdialektika pada generasi mendatang. Manusia pun semakin menjauh dari sumber-sumber konvensional seperti buku dan tidak lagi melihat perpustakaan sebagai ruang yang nyaman untuk bernalar.

Matinya Kepakaran

Salah satu dampak mengkhawatirkan lainnya dari banjir informasi digital adalah terkikisnya penghargaan terhadap kepakaran. Tom Nichols dalam buku Matinya Kepakaran (2021:3) menyatakan “Saat ini, belum pernah begitu banyak orang memiliki begitu banyak akses ke begitu banyak pengetahuan, tetapi sangat enggan untuk mempelajari apa pun”. Di era digital yang terakulturasi oleh tren media sosial, setiap individu seolah-olah memiliki ruang yang sama bebasnya untuk menyampaikan gagasan, terlepas dari tingkat kompetensi yang dimiliki. Masyarakat akibatnya semakin sulit membedakan antara pengetahuan dan asumsi. Fenomena ini terlihat dari maraknya penyebaran hoaks, teori konspirasi, hingga klaim-klaim ilmiah yang tidak memiliki dasar tetapi tetap dipercaya oleh sebagian masyarakat. Suara terbanyak sering kali lebih didengar daripada suara yang benar.

Manusia modern saat ini telah tersesat di layar-layar mesin pencari. Mereka melesat dalam derasnya partikel kata-kata yang disajikan oleh internet dan kecerdasan buatan. Sayangnya, tumpukan kata-kata itu disajikan layaknya retorika tanpa kebenaran, sebagaimana kritik Plato terhadap kaum Sofis. Eksistensi kelompok yang lebih mengandalkan retorika daripada pencarian kebenaran tumbuh secara masif, sehingga argumen yang lemah dapat terlihat kuat asalkan mampu dikemas dan dipoles dengan menarik (Pratiwi, et al, 2025: 12–13). Kecenderungan semacam ini berbahaya karena mendorong orientasi berpikir semu (pseudo) yang mengesampingkan rasionalitas. Popularitas dan kemampuan untuk membangun narasi seolah-olah lebih dihargai, daripada kedalaman pengetahuan dan kepakaran seseorang.

Sebut saja manusia-manusia digital saat ini semakin jauh dari dialektika dan mendekap erat retorika semu. Kita sadar bahwa sebenarnya ruang dialektika murni tidak lahir seperti sihir “jin dalam botol”. Ruang itu lahir di antara rak-rak buku yang tersusun rapi di perpustakaan. Sebuah ekosistem dialektika berpikir yang mengelaborasi kemampuan kognitif manusia pada navigasi pengetahuan yang dinamis namun sistematis. Tradisi intelektual ini tidak lahir dalam satu malam, tetapi memerlukan waktu, ketekunan, dan refleksi mendalam.

Filsuf Hans-Georg Gadamer menjelaskan bagaimana suatu ekosistem berpikir dapat berjalan dengan hermeneutic circle. Menurutnya, dalam menjaga esensi dan makna literasi, maka teks, pengarang, dan pembaca harus terhubung secara sirkuler (Posangi, 2020:190–192). Proses pembelajaran tanpa henti ini akan melestarikan warisan makna yang telah dilahirkan oleh pemikir-pemikir terdahulu. Ruang digital yang sesak tentu tidak mampu menjaga ekosistem sirkuler ini, karena sifat informasi instan yang terputus atau terfragmentasi sarat akan hiruk pikuk yang mengaburkan kedalaman berpikir.

Penutup

Get Hadrian Christanta’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Suatu peradaban tidak dibangun oleh siapa yang paling cepat mengakses pengetahuan. Sulit membayangkan sosok seperti Mohammad Hatta atau Ki Hajar Dewantara lahir dalam ekosistem informasi serba cepat dan terfragmentasi. Kaum-kaum intelektual ini menghabiskan banyak waktu untuk membaca dalam perpustakaan yang mereka pilih atau mereka ciptakan sendiri. Mereka memahami bahwa membaca bukan sekadar mengumpulkan informasi, melainkan proses dialog antara teks, pengarang, dan pembaca yang berlangsung secara berkelanjutan. Dari sanalah lahir kedalaman pikiran dan gagasan yang mampu mengubah dunia.

Pertanyaannya, masihkah tersisa ruang bagi perpustakaan di tengah arus informasi digital yang datang silih berganti? Ketika kecepatan lebih dihargai daripada pemahaman, dapatkah perpustakaan tetap menjadi rumah untuk manusia pulang menemukan pengetahuan sejati? Kembali ke perpustakaan bukan semata kembali pada rutinitas atau tradisi untuk mengunjungi, tetapi kembali pada kedalaman dan rasa hausnya manusia akan pengetahuan. Perpustakaan mengingatkan kita bahwa tumbuh dalam pengetahuan memerlukan waktu, kesabaran, dan kedalaman.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Carr, N. (2010). What the Internet is Doing to Our Brains. Roadshow.

Cassirer, E. (2023). An Essay on Man: An Introduction to a Philosophy of Human Culture. Felix Meiner Verlag.

Sobur, A. (2017). Semiotika Komunikasi. Remaja Karya.

Jurnal:

Kurniati, K. (2023). Peran perpustakaan dalam melestarikan warisan budaya dan sejarah lokal. The Light: Journal of Librarianship and Information Science, 3(2), 102–114.

Posangi, S. S. (2020). Dialog Antara Teks, Pengarang dan Pembaca (Kajian Terhadap Relevansi Hermeneutika Gadamer Dalam Studi Hukum Islam). Jurnal Al Himayah, 4(2), 185–200.

Pratiwi, A. R., Safitri, B. D., Azizzah, N. M., & Pratama, M. A. (2024). Kritik Plato Terhadap Pemikiran Sofis. Praxis: Jurnal Filsafat Terapan, 1(02).

Putri, B. T., Ayu, C. S., Ginting, M. A. B., Saidah, S., & Nasution, S. (2025). Budaya dan bahasa: Refleksi dinamis identitas masyarakat. Semantik: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 3(1), 20–32.

Sharma, B., Lee, S. S., & Johnson, B. K. (2022). The dark at the end of the tunnel: Doomscrolling on social media newsfeeds.Technology, Mind, and Behavior, 3(1), 144–156. https://doi.org/10.1037/tmb0000059

Website:

Riyanto, Pratomo. (12 Januari 2024). Riset: Orang Indonesia Rata-rata Main HP 6 Jam Sehari. Kompas. https://tekno.kompas.com/read/2024/01/12/07010037/riset--orang-indonesia-rata-rata-main-hp-6-jam-sehari

Sukri, (12 Mei 2019). Buldan, Buku Bagus, Bangsa Buku. Majalah Basis. https://www.majalahbasis.com/single-post/buldan-buku-bagus-bangsa-buku

--

--