Administrasi
Diantara dua orang lainnya, aku merasa ditipu. Entah ada yang menyadarinya, entah itu hanya penutupan, atau entah itu disengaja. Aku tidak tau siapa yang berani bersikap seperti itu. Aku yakin itu bukanlah orang terdekatku, meskipun begitu kenyataannya. Pahit, tidak nyaman, tapi aku harus tetap berkomitmen. Mengingat kembali semuanya agar aku tidak akan pernah memaafkannya lagi. Api kebencian memang sedang berkobar paling panasnya saat ini. Tanpa atau dengan senyuman. Keduanya sama-sama palsu. Cerita itu telah dimodifikasi sedemikian rupa sampai aku tidak ingat bagaimana yang aslinya.
Aku ingin kabur dari sana. Pantaskah aku menghujat tubuhku yang terlalu ringkih karena aku kurang menjaga kesehatan saat itu tiba? Jika aku menoleh ke belakang, orang akan menganggapku normal, atau juga tidak akan ada yang menatapku di sana. Hal-hal terasa sangat kontradiksi. Di satu sisi, manusia modern ingin keheningan untuk dirinya tanpa bantuan orang lain. Tapi diriku yang penuh cela dan bawaan rahim menyuruhku untuk tetap terhubung tatkala kesialan menimpaku. Aku tau, sangat paham ini egois dan tidak boleh terjadi. Kenakalan anak remaja biasa yang belum cerdas cara berpikirnya.
Esensi Ku telah diubah paksa. Tapi aku juga tidak mau, ataupun juga tidak sanggup menciptakan ribuan mata menatap ke arah sini jika aku menyanggahnya. Kenapa ajudanku, orang yang paling kupercaya kini telah mencelaku? Aku ingin berharap rasa sakit yang kuterima bisa menjadi pembenaran untuk istirahat. Tapi sistem dan waktu tidak bisa menunggu siapapun. Aku tidak menginginkan tanggung jawab tambahan di kemudian hari yang membuatku terasa semakin tersingkirkan. Aku tau mungkin idealismeku menahan diriku bersikap egois kepada yang lain. Tapi rasanya sangat menyebalkan melihat ada orang yang bisa berbuat sesuka hatinya tanpa memedulikan siapapun.
Get hloothere’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa aku percaya. Semuanya marah kepadaku saat aku tidak lagi berguna. Sebenarnya keren juga menyadari fungsiku memang sebanyak itu. Tapi bagaimana dengan saat-saat rentan seperti sekarang? Iya, tidak ada yang bisa mendukungku, menyokongku, dan membantuku sebagaimana aku membantu mereka. Padahal aku mengerjakannya sepenuh hati. Padahal aku selalu melakukan pengecekan ulang agar tidak ada kesalahan. Padahal aku berusaha yang terbaik memenuhi omelan para ia yang sakit. Apa itu semua belum cukup?
Seperti ada bumerang yang kembali kepadaku. Sangat kencang sampai tanganku kesakitan, mungkin tak lama lagi akan muncul beberapa memar di antara tulang belulang itu. Menciptakan ilusi warna-warni alami yang sebenarnya adalah proses penyembuhan dari tubuh. Berteriak kesakitan menerima segalanya. Sampai tenggorokan kering, mirip seperti tercabik benang layangan tipis yang tidak bisa aku rasakan. Menghadiahi ku dengan segala yang aku benci dari lubuk hatiku.
Oh itukah rasa hampanya? Berpura-pura bodoh untuk melihat apa yang bisa muncul dariku? Bahkan aku tidak paham bagaimana caranya orang yang lebih tua justru memilikinya ketimbang yang lebih muda. Menggunakan narasi tentang kesopanan untuk melindungi diri sekaligus untuk menyerang lawan bicara yang berusaha menegakkan keadilan. Bahkan apa ia mau mendengarkanku? Diam, tanpa mulutnya berancang-ancang terbuka saat kata terakhir keluar dari lidahku. Bahkan bagaimana tatapan matanya? Membenci? Atau mendengarkan?
Sudah lama aku tidak merasakannya lagi, dan aku harap tidak akan pernah aku rasakan apapun lagi.
(hanya mau mengingatkan, tapi “ini hanya cerita ya”)




