Toleransi Bahasa dalam Rapat
Dahulu kala ketika saya masih lebih muda, saya selalu penasaran dan merasa tidak adil ketika meeting alias rapat dengan orang asing. Merasa tidak adil kenapa rapat di negara Indonesia, dengan mayoritas peserta rapat penduduk Indonesia, harus beralih menggunakan Bahasa Inggris ketika ada satu saja orang asing.
Kenapa tidak belajar saja si orang asing ini? Batin saya. Katanya kan dimana bumi dipijak, di situ langit di junjung. Atau when in Rome do as the Romans do.
Fast forward, 10 tahunan kemudian. Saya baru sadar saya menjadi orang asing tersebut. Kebetulan, beberapa proyek yang saya kerjakan klien-nya adalah orang Jerman, Swiss, atau Perancis. Sering ketika meeting, beralih menggunakan Bahasa Inggris, demi saya. Ouch.
Get Ismail Sunni’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Alasannya, bukan pepatah yang saya sebut di awal. Tetapi demi ketercapain tujuan dan pragmatis. Toh, mereka juga bisa Bahasa Inggris. Lebih bagus dari saya juga. Kalau memaksakan menggunakan Bahasa Jerman misalnya, tentu akan tidak efektif. Ndomblong saya.
Itulah yang mungkin disebut toleransi bahasa.
Tapi ya tidak semua bisa atau mau menggunakan bahasa mayoritas. Ada juga klien yang kekeuh menggunakan bahasa mereka sendiri. Kalau sudah begini, saya terpaksa mengandalkan rekan setim saya. Entah setelah meeting dikasih ringkasannya. Atau ketika ada pertanyaan yang perlu bantuan saya, saya baru bicara. Sejauh ini sih masih oke dan bisa berjalan.
Yah, pas meeting, saya bisa nyambi hal lain, hahaha. Toh meeting-nya online ini.
Di satu sisi, saya juga sadar diri, perlu meningkatkan kemampuan bahasa lain ini, misalnya Jerman. Tapi ya memang susah wkwkwk. Apalagi hanya bermodalkan Duolingo. Yah, namanya juga usaha.
Hikmahnya, kadang baru paham akan sesuatu sekian lama kemudian, ketika kondisi berbalik. Jadi, jangan prasangka buruk dulu. Mantaps.








