Sitemap

Aku Masih Menyaksikan Tunas Itu Tumbuh…

2 min readSep 20, 2026

--

Sebagai anak perempuan pertama, aku selalu melihat bagaimana kamu tumbuh dengan separuh sayap yang tertatih. Melihat bagaimana cinta yang keluargamu berikan mendidikmu untuk menjadi contoh, menjadi teladan, menjadi citra yang menopang keluarga. Semua itu masih harus dilalui sampai tuntas, sampai umur tak lagi bisa dihitung dengan angka selanjutnya.

Aku masih ingat bagaimana kamu belajar dari hal kecil seperti belajar sepeda. Dulu, itu adalah hal terkeren yang bisa kamu pamerkan kepada teman-temanmu. Ketika baru dibelikan sepeda saja, kamu sudah merasa sangat senang. Hingga kamu lupa bahwa ketika benda itu datang, artinya kamu harus belajar menggunakannya. Masih teringat di benakku bagaimana kamu belajar dengan roda empat. Sampai akhirnya kamu berani menjadi roda dua, dan itu kamu pelajari sendiri. Sementara orang tuamu menyaksikan dari jauh.

Semua pelajaran kecil itu sampai dewasa masih harus dilewati. Namun, semakin dewasa, yang paling dibutuhkan adalah bagaimana memaknai hidup. Semakin dewasa, yang dirasakan adalah tersesat. Tidak ada yang mengarahkan. Kalau jalannya buntu, yang bisa dilakukan hanya meratapi, atau mencari jalan keluar lain yang lebih memutar, bahkan mungkin tidak tahu di mana ujungnya.

Get Jeannn’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Hingga aku menyadari, di setiap pengamatan tentang orang-orang yang lalu-lalang, arah yang kamu tuju selama 25 tahun ini masih belum terlihat bagaimana akhir ceritanya. Aku menyadari kamu mengalami masa-masa sendiri. Topik-topik yang ingin dibagikan kepada orang terdekat pun rasanya sedikit percuma karena mereka tidak memahami tujuanmu.

Tapi, di setiap waktu yang ada, kamu akhirnya sadar bahwa kamu telah berdiri dengan kaki di atas tanah dan tunas yang kamu tanam sendiri. Mungkin bunganya belum tumbuh. Mungkin masih membutuhkan banyak ramuan ilmu dan pengalaman lain yang harus kamu selami sendiri untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh tunas tersebut.

Banyak suara hati yang kamu dengar dengan rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan rasa terseok ketika melalui semuanya. Namun, di sisi lain, ada banyak tunas lain di sampingmu yang terus menemanimu tumbuh. Mungkin mereka sudah lebih mekar darimu, dan bukan berarti kamu tertinggal. Hanya saja, kamu sempat kehilangan arah dan sekarang sedang menuju arah yang lebih pasti.

Selamat, aku di sini masih menyaksikan tunas itu tumbuh dengan indah. Tidak apa-apa jika tidak sempurna. Tidak apa-apa jika tidak sewangi yang dicium orang lain. Tidak apa-apa jika bentuknya aneh. Tidak apa-apa jika tumbuh tidak setinggi yang diharapkan. Yang penting, akarnya sudah kuat dan diberi pupuk yang terbaik.

Tidak apa-apa jika semua disirami sendiri tanpa bantuan orang lain. Kamu akan menjadi cantik dengan apa adanya dirimu, tanpa harus membuat orang lain terpikat secara terpaksa. Karena suatu saat nanti, bunga itu akan mekar menjadi dirinya sendiri. Wanginya akan mengalun sampai angin membisikkan kepada dunia bahwa kamu telah tumbuh sesempurna adanya dirimu.

--

--