Sitemap
jimies at midnight

jimies at midnight

Merayakan Ritual “Avhath” Setelah 14 Tahun

5 min readSep 23, 2026

Merekam satu malam di Ratatat ketika Avhath membuka babak barunya.

Potret terbaru Avhath untuk album pertama mereka (Dok. Meidiana Tahir)

Lawless Burgerbar: Kolaborasi perayaan album

Memulai perjalanan dari SCBD setelah delapan jam bekerja, tepat pukul 17.00 gue sampai di kawasan Blok M. Tujuan gue sore itu adalah Lawless Burgerbar Blok M, tempat sebuah ritual akan dimulai: Launch Procession kolaborasi Avhath dan Lawless Burgerbar, sekaligus perayaan menuju lahirnya album penuh pertama Avhath setelah 14 tahun perjalanan.

Lawless sudah cukup ramai ketika gue tiba.

Gue langsung memesan Avhath Burger. Setelah delapan jam bekerja, sebenarnya makan bukan lagi sesuatu yang benar-benar gue butuhkan sore itu. Tapi rasa penasaran mengambil alih.

Dan tentu saja, burger tersebut tetap gue kawinkan dengan sebotol bir seperti biasanya.

https://www.instagram.com/reel/Ddi6EzoxI8e/?utm_source=ig_web_copy_link

Menjalankan ritual kecil sebelum ritual yang lebih besar dimulai.

Semakin sore, Lawless semakin ramai. Personel Avhath mulai berdatangan. Pelaku seni, musisi, dan media satu per satu mulai memenuhi tempat tersebut.

Ada satu pemandangan yang menarik perhatian gue sebagai intermezzo.

Di antara banyak pria dengan outfit serba hitam, tubuh bertato, dan berpostur besar, hadir seorang ibu berusia sekitar 50 tahun dengan pakaian berhijab layaknya akan menghadiri pengajian.

Gue sempat berpikir:

“Apakah mungkin ibu tersebut salah memasuki ruangan, atau memang playlist di aplikasi Winamp-nya berisikan lagu ber-genre black metal?”

Entahlah.

Tapi kehadirannya justru menjadi salah satu pemandangan kecil yang gue ingat dari sore itu.

Ada perasaan bahwa semua orang sedang menunggu sesuatu.

Sesuatu yang lebih dari sekadar live set.

Lebih dari sekadar acara launching.

Sebuah momen yang menandai perjalanan sebuah band yang sudah berjalan selama 14 tahun.

Ratatat sebagai saksi The Avhath Rites memasuki babak baru

Sekitar pukul 19.00, penonton mulai diminta naik ke Ratatat Bar.

Venue yang malam itu dipilih untuk menjadi tempat Avhath membawa album penuh pertamanya ke panggung secara langsung.

Satu shot Jägermeister diberikan kepada pengunjung sebagai bagian dari perayaan malam itu.

Ratatat semakin padat.

Ukuran ruangan tidak terlalu besar, dan mungkin justru itu yang membuat malam tersebut terasa semakin intim. Semua orang berada cukup dekat satu sama lain. Tidak ada jarak yang terlalu jauh antara band dan penonton.

Sekitar pukul 19.30, Whiteskeleton membuka ritual melalui DJ set-nya.

Sementara itu, personel Avhath mulai mempersiapkan diri.

Dan seperti biasa, mata gue tertuju kepada Ekrig.

Gue selalu suka dengan cara Ekrig mempersiapkan penampilannya. Outfit-nya yang nyentrik bukan sekadar pakaian panggung yang kebetulan terlihat menarik. Ada karakter yang terasa begitu menyatu dengan dirinya ketika berdiri sebagai vokalis Avhath.

Press enter or click to view image in full size
Aksi panggung dan penampilan Ekrig yang selalu menjadi sorotan (Dok. Pribadi)

Malam semakin dekat.

Crowd semakin rapat.

Dan akhirnya, sekitar pukul 20.15, ritual itu dimulai.

“Avhath”

Ketika musik pertama dimainkan, gue datang dengan akal dan perasaan sebagai pendengar, tetapi tubuh gue punya agenda lain.

Dan perlahan, niat gue untuk hanya menikmati pertunjukan mulai berantakan.

Memasuki “Clawed Skins”, gue sudah tidak terlalu peduli lagi dengan posisi gue sebagai penonton. Kepala mulai bergerak, kaki ikut menghantam lantai, dan tanpa sadar gue mulai mencari celah untuk masuk ke tengah crowd.

Ada titik ketika gue tidak lagi mendengarkan musiknya sebagai seseorang yang sedang menonton sebuah pertunjukan.

Press enter or click to view image in full size
Avhath membawakan album penuh pertamanya secara live (Dok. Pribadi)

Gue cuma mengikuti apa yang terjadi di depan gue.

Riff datang, kepala ikut bergerak.

Drum masuk, kaki ikut menghantam lantai.

Get jimies at midnight’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Crowd bergerak, tubuh gue ikut terbawa.

Avhath sedang memainkan musiknya, dan tubuh gue meresponsnya tanpa perlu gue pikirkan.

“Clawed Skins” menjadi salah satu first impression paling kuat buat gue malam itu. Bahkan sejak pertama kali mendengarnya, firasat gue mengatakan bahwa lagu ini akan menjadi salah satu track yang paling sering gue putar ketika albumnya nanti benar-benar gue dengarkan secara utuh.

Di tengah ritual tersebut, Ekrig juga memberikan sedikit cerita mengenai proses di balik album ini.

Ada satu bagian dari percakapan Ekrig yang menurut gue penting.

Avhath tidak menggunakan produser dari pihak luar pada album ini.

Namun kali ini mereka memilih Rey, gitaris Avhath sendiri, untuk mengisi posisi tersebut.

Setelah 14 tahun menjadi Avhath, mereka merasa bahwa “wisdom dan experience” yang telah dikumpulkan selama perjalanan tersebut sudah cukup menjadi bekal untuk mengakomodasi proses produksi album ini dari dalam tubuh mereka sendiri.

Menurut gue, ada sesuatu yang menarik dari keputusan itu.

Empat belas tahun berarti ada pengalaman yang terkumpul dari setiap rilisan, setiap panggung, setiap proses kreatif, setiap kesalahan, dan setiap keputusan yang pernah mereka ambil sebagai Avhath.

Dan semua pengalaman itu akhirnya ikut masuk ke album ini.

Rey bukan sekadar gitaris yang kemudian duduk di kursi produser.

Dia adalah seseorang yang sudah menjalani 14 tahun perjalanan tersebut bersama Avhath.

Mungkin itu sebabnya keputusan tersebut terasa begitu masuk akal.

Siapa yang lebih mengenal Avhath daripada orang-orang yang sudah menjadi bagian dari Avhath itu sendiri selama 14 tahun?

Kemudian sampai pada “amassed”.

Single yang sudah lebih dulu diperkenalkan kepada pendengar.

Ratatat yang ruangnya cukup sempit akhirnya dipenuhi moshpit.

Gue kembali melihat bagaimana genre ini punya caranya sendiri dalam menciptakan rasa kebersamaan.

Orang-orang bergerak, saling memberi ruang, dan saling menjaga.

Energinya tinggi, tetapi tetap terasa menyenangkan dan kondusif.

“amassed” mungkin akan menjadi salah satu lagu yang paling sering diputar setelah album ini resmi dirilis.

Tapi buat gue, pengalaman pertama mendengar lagu itu secara live akan selalu punya konteks sendiri.

Gue tidak mendengarnya sendirian.

Gue mendengarnya bersama orang-orang lainnya yang malam itu datang ke Ratatat untuk menyambut sesuatu yang sudah ditunggu selama 14 tahun.

Penutup

Akhirnya ritual selesai.

Tidak ada lagi suara musik dari panggung.

Crowd mulai berangsur turun.

Tapi malam belum benar-benar selesai.

Para penggemar masih bisa berbincang dengan personel Avhath. Dan satu hal yang gue lihat dari mereka malam itu adalah bagaimana mereka tetap terbuka dan humble setelah pertunjukan selesai, bahkan setelah ritual yang berlangsung sekitar 45–60 menit dengan intensitas yang cukup brutal.

Tidak ada jarak yang terasa berlebihan antara anggota band dan orang-orang yang datang untuk mendengarkan mereka.

Press enter or click to view image in full size
Momen berfoto dengan personel Avhath (Dok. Pribadi)

Setelah 14 tahun, akhirnya Avhath mempunyai album penuh.

Dan gue bersyukur bisa menjadi salah satu orang yang menyaksikan bagaimana sembilan lagu tersebut dibawa ke hadapan crowd dalam sebuah ritual kecil di Ratatat.

Gue pulang sebelum Klav menutup ritual karena ada sesuatu yang harus gue hadiri.

Tapi sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, gue sempat memikirkan kembali bagaimana malam tersebut bermula.

Press enter or click to view image in full size
Momen berfoto bersama ketua fanbase Naykilla (Dok. Pribadi)

Gue datang setelah delapan jam bekerja.

Dan pulang dengan pengalaman yang jauh lebih berkesan daripada yang gue bayangkan ketika berangkat dari kawasan SCBD sore itu.

Empat belas tahun mungkin terdengar seperti waktu yang sangat panjang.

Tapi ketika sebuah band tetap bertahan, terus membuat musik, terus mencari bentuknya sendiri, dan akhirnya bisa membawa album penuh pertama mereka ke panggung, mungkin waktu selama itu memang bukan sekadar penantian.

Ia adalah bagian dari musik itu sendiri.

Selamat atas album barunya, Avhath.

--

--