TERJEMAHAN
Yang Diajarkan Mama Tentang Perempuan
Mama banyak meluangkan waktu mengajariku tentang perempuan.
Semasa aku beranjak dewasa, mama banyak meluangkan waktu mengajariku tentang perempuan. Ia kerap memberi pelajaran, obrolan singkat, berbagai nasihat. Bukan ocehan kaku panjang lebar tentang hubungan asmara. Melainkan lebih tepat disebut selipan wejangan di sela-sela keseharian.
Dan aku tidak pernah paham mengapa ia begitu, sebab aku masih kanak-kanak. Satu-satunya sosok perempuan dalam hidupku cuma mama, nenek, bibi, dan sepupuku. Aku belum pernah jatuh cinta pada siapa pun, namun mama tetap bersikeras. Ia bisa tiba-tiba mengoceh banyak hal seputar itu.
“Trevor, ingat. Jati diri seorang pria tidak ditentukan oleh seberapa besar penghasilannya. Kamu tetap bisa menjadi sosok pria dalam rumah tangga meski penghasilanmu lebih rendah daripada pasanganmu. Menjadi pria sejati bukan soal apa yang kamu punya, tetapi siapa dirimu sebenarnya. Menjadi pria sejati tidak berarti pasanganmu harus lebih rendah darimu.”
“Trevor, pastikan perempuan yang kau cintai menjadi yang paling utama dalam hidupmu. Jangan jadi laki-laki yang membuat istrinya bersaing dengan ibunya. Pria yang beristri tidak boleh bergantung pada ibunya.”
Get Zaki Mubarak’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Bahkan hal paling kecil pun bisa memancingnya. Seperti saat aku berjalan ke rumah ke dalam kamar dan berkata, “Hi, Ma” tanpa menengok.
Ia lalu berkata, “Bukan begitu, Trevor! Tatap mama. Tatap secara sungguh-sungguh. Tunjukkan kalau aku berarti bagimu, karena cara kamu memperlakukan mama adalah cara kamu memperlakukan pasanganmu. Perempuan senang diberi perhatian. Datanglah kemari dan buat aku tahu jika kamu benar-benar memperhatikanku. Jangan cuma mengingatku kalau ada maunya saja.”
Lucunya, pelajaran-pelajaran kecil itu selalu membahas soal hubungan orang dewasa. Ia begitu sibuk mengajariku bagaimana menjadi seorang pria sampai-sampai lupa mengajariku cara menjadi remaja biasanya. Bagaimana berbicara kepada perempuan atau memberi surat kepada gadis di kelas – tak satu pun dari itu.
Ia bahkan menceramahiku soal seks. Karena aku masih kecil, situasi itu jadi sangat canggung.
“Trevor, jangan lupa: sebelum berhubungan seks dengan tubuh perempuan, terlebih dahulu kau harus menjangkaunya lewat pikirannya.”
“Trevor, foreplay dimulai sejak awal hari. Bukan dimulai di kamar tidur.”
Aku cuma bisa melongo dan berkata, “Apa? Foreplay itu apa? Maksudnya apa?”
Ini merupakan satu bagian dari kumpulan esai “Born a Crime”. Aku suka dengan nasihat yang ibu Trevor beri untuk putranya. Aku jadi belajar banyak. Belajar menjadi pria sejati, kalau meminjam ucapan ibunya.







