Sitemap
Kayva.svara

Kayva.svara

Yakali langsung pulang — Senja

3 min readSep 5, 2026

Seperti hari-hari sebelumnya, langit Bogor berwarna abu ntah apa yang sedang ia bicarakan bersama bibit hujan. Perjalanan dengan waktu tempuh 15 menit itu berubah menjadi 20 menit akibat padatnya jalanan.

Semua tampak sama, Aurel dengan menunggu kedatangan ku di kursi Alfa dengan sekotak susu yang merupakan andalan Aurel untuk menyapa pagi. Obrolan umum pada disetiap harinya, menanyakan sudahkah sarapan, tingkat kemacetan pagi ini, dan berakhir di apa yang akan kita lakukan hari ini?

Masuk jam makan siang seperti biasa aku turun dari ruangan divisi yang berada di puncak gedung berlantai 4 itu untuk menjemput Aurel dan pergi makan siang bersama.
“Rel, yok makan.” Ujar ku, tak kuperhatikan sekitar ternyata banyak mata yang memperhatikan.
“Lu berdua pacaran ya?” Celetukan salah seorang lalat yang tak diundang dalam percakapan itu.

Aku melihat Aurel telah bangkit dan membawa botol minumnya, oh jangan lupakan lipstik yang selalu dibawanya pergi itu.
“Duluan mas, mba-” Ucap kami berbarengan meninggalkan kawanan lalat yang sibuk berdengung entah mendengungkan perihal apa.

“Makan apa ya?”
“Bosen warteg.” Jawabku
“Nyoba soto yuk”
“Boleh, dimana?”
“Itu ada ko seberang warteg yang biasa.” Aurel memimpin jalan

Tak perlu waktu lama, kami sampai di kawasan jajanan sekolah dan pedagang kaki lima, dengan 2 porsi soto dan 1 setengah porsi nasi. Yap, satu porsi untukku dan setengah untuk Aurel. Siang itu percakapan merupakan pendamping harmoni selama waktu berlangsung, jalanan tidak banyak mengeluarkan bisingan, para siswa berteriakan dibalik pagar berebut antrian jajan, dan tak perlu menunggu lama seporsi soto tersebut kandas.

“Eh balik yuk, udah mau setengah 2 gilak-” Aurel mengingatkan
“Bentar bayar dulu.” Setelahnya kami bergegas menaiki motor dan kembali ke kantor.
“Tebak kantor bakal rame apa engga?”
“Menurut lu aja, bakalan lebih rame lagi karna kita baliknya telat.”

Get Kayva.svara’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Dan sesuai tebakan, bisingan lalat itu kembali terdengar.

“Kan kata gua juga apa mas, mereka bakalan balik telat-”
“Gila baru masuk magang udah jadian aja-”
dan kalimat-kalimat serupa lainnya yang tak pantas dikatakan oleh seseorang yang menyandang gelar ‘dewasa’, kami menghiraukannya dan aku bergegas menaiki tangga.
“Lah ko buru-buru amat Mad, sini dulu dong ngobrol”
“Belum sholat.” Singkat ku.

Langit jingga kembali menemani Bogor, tapi untuk hari ini tampaknya sedikit berebut kursi antara matahari dan awan hujan. Kulihat Aurel tlah mengenakan helmnya, masih sore mungkin sedikit bercengkarama sebelum malam tidak buruk.

“Lu gamau ngopi dulu apa? Gua gabut banget jujur.” AJakku
“Mau ngopi dimana emang?”
“Taheul kayanya enak sih, kita cari tempat disana aja”
“Boleh, yuk”

Hiraukan kicauan lalat itu, kami bergegas menuju Taheul. Benar saja, awan hujan berhasil menaiki podium, jarak yang hanya tersisa 300 meter itu harus dipenuhi dengan perjuangan melawan derasnya air hujan. Untungnya kami sama-sama mengenakan jaket, kemeja aman sedikit basah di celana. Memesan kopi andalan masing-masing, bergantian ke toilet, dan perbincangan dimulai.

Laptop yang terbuka itu hanya sekedar kamuflase untuk mengabari mama Aurel yang menanyakan sedang dimana, nyatanya? Kami sibuk bercerita tentang penglaman satu sama lain, yaa sesekali mengerjakan pekerjaan masing-masing. Obrolan yang terlalu seru membuat hujan mengalah pergi, kini kami tak perlu berteriak agar dapat mendengar satu sama lain, namun purnama sepenuhnya menguasai malam, waktunya untuk pulang.

“Makasih loh udah mau nemenin gua.” Ucapku
“Aman, seru juga ngobrol gini.” Jawabnya tersenyum
“Itu mama lu aman pulang jam segini?”
“Aman, tadi kan udah ngabarin juga kalo gua disini sama lu.”
“Yaudah tiati di jalan ya, kabarin aja kalo ada apa-apa.”
“Iyaa, lu juga tiati ya.”

Kami bersalaman dan menaiki motor masing-masing, lampu merah Jambu Dua merupakan tempat berpisah arah yang kelak menjadi saksi disetiap perjalanan kedepannya, baik kisah yang berlanjut bersama di lampu merah tersebut, pun kisah yang terpaksa terpisah sementara waktu.

--

--