Sitemap

Anomali Ruang Bising

2 min read1 day ago

--

Press enter or click to view image in full size
written by Lisareinn

Dunia sering kali salah menilai sampul yang terlihat tebal dan usang. Begitulah kebanyakan orang menyepelekan laki-laki itu. Ditempa oleh kehidupan yang tidak pernah ramah, ia tumbuh menjadi karang yang terlihat keras dan tak tertembus. Namun, ketika aku berpikir 2026 akan menjadi garis akhirku, karang itulah yang ternyata mampu memecah ombak bising di kepalaku menjadi riak air yang tenang.

Saat aku memutuskan mengambil pekerjaan di kota kelahiranku ini, Daerah Istimewa Yogyakarta, aku tidak sedang mencari apa-apa selain pelarian dari hidupku yang terasa tidak hidup. Aku datang dengan kepala yang bising dan sisa-sisa harapan yang nyaris habis. Namun, semesta rupanya sengaja menaruhku di ruangan yang berisik itu agar aku bisa menemukannya. Ya, kami bertemu di sebuah ruang kerja di Jogja yang terlalu riuh untuk sebuah kewarasan.

Get Lisareinn’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Di antara orang-orang yang sibuk berteriak dan berlari mengejar dunia, ia hadir dengan tatapan yang teduh; menjadi satu-satunya kompas untukku. Ia datang membawa cinta yang sering kali terasa lebih besar dari rasa cemas dan ketakutanku.

Ia tahu persis aku ini jauh dari kata sempurna, tapi ia merayakan kekuranganku seolah itu adalah karya seni.

Setiap kata “maaf” dan “terima kasih” yang ia ucapkan setiap hari adalah pengingat bahwa usahaku dihargai; kelembutannya hadir dalam rentetan ucapan maaf dan terima kasih yang tak pernah absen setiap hari.

Ia yang juga berdarah oleh dunia, justru memilih untuk membalut lukaku dengan lembut. Laki-laki itu tidak menuntutku menjadi sempurna, karena ia tahu ia pun bukan manusia tanpa cela. Ia hanya memintaku untuk tetap ada.

Keberaniannya terbukti setiap kali aku dikuasai amarah; alih-alih pergi menghindar, ia melangkah maju, mendekapku erat agar aku tak benar-benar hilang. Ia adalah sebuah anomali di ruang bising, pria berwajah keras — yang dengan lembut — menatap dan memintaku untuk hidup lebih lama lagi. Dan karenanya, aku setuju untuk mencoba.

--

--

Lisareinn
Lisareinn

Written by Lisareinn

0 followers

Longlife learning