good soil
Jika emosi adalah benih atau bensin yang menumbuhkan dan menyalakan pikiran, memori/ingatan, niat, intensi, dan tindakan, maka ada suatu waktu/masa dimana emosi tidak ada, di situlah kondisi batin berada dalam ketenangan, tanpa kaotik, dalam nuansa yang murni seperti “good soil” dimana benih (emosi) adalah tidak menjadi prekondisi/prasyarat bagi ada/tidaknya good soil itu. Tapi, benih yang sudah menjadi besar, mengakar kuat, dan menjadi pohon dan rimbunan hutan, mereka mampu mengaburkan kondisi tanah/soil, bahkan menjadikan tanah itu tidak layak untuk benih baru karena kondisi nutrisinya telah terserap oleh benih/tanaman yang lama. Maka, pengelolaan kesuburan tanah/kultivasi demi si good soil menjadi perlu untuk mempersiapkan kondisi yang layak bagi tumbuh kembang si benih menjadi tanaman produktif.
Hal yang demikian pun berlaku untuk kondisi batin. Seberapa sering batin dirawat? dikelola? diberi nutrisi yang baik? dibersihkan?
Apa yang terwujud dalam pikiran, emosi dan tindakan tidak mutlak ditentukan dari genetik tapi “terbentuk” melalui proses “pembelajaran” (adaptif/maladaptif) dari lingkungan sosial/alam. Dalam proses pembelajaran yang maladaptif itu bisa terjadi karena ketidakakuratan atau tidak efektif strategi ataupun infrastruktur yang menunjang dan diperlukan dalam proses pembelajaran ataupun penyerapan informasi.
Get Maria Matilda’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Karena pembelajaran sendiri adalah sebuah proses maka ia tetap berlajut, kontinu, tidak mengenal titik atau batas akhir.
Meskipun emosi dalam point di atas ia tampak sebagai “hambatan” namun dalam konteks pembelajaran terdapat emosi yang dapat “dinyalakan” atau “dihadirkan” untuk menggerakan upaya pembelajaran ini, yaitu rasa ingin tahu yang mendalam, rasa antusiasme dan energetik untuk menangkap ‘pengetahuan’, semangat untuk mengeksplorasi hal-hal baru, menggali dan menginvestigasi.
Rasa bosan, dalam proses pembelajaran justru akan “menghabat” proses penggalian, eksplorasi pengetahuan dan pemahaman. Perhatian yang mengarahkan Fokus kepada “signifikansi” dan arti penting (“makna pentingnya”) dari hal/topik yang sedang dipelajari/diteliti dapat menjadi solusi untuk menghidupi semangat dan drive untuk menggali pengetahuan/pemahaman.
Maka, proses pembelajaran di sini terjadi dalam konteks dialogis atau dalam keterhubungan relasional antara batin (emosi, fokus, perhatian) dan topik/objek yang sedang diteliti/diselidiki. Apakah kita benar-benar memerhatikan dan berfokus pada “si objek”, “si topik” dan menangkap maknanya, nilainya atau kita tidak tertarik dan bosan?




