Sitemap
meloblio

meloblio

lolio is here

Kenapa Orang Tua Harus Terus Menua, Saat Aku Masih Terlalu Muda untuk Mencerna Dunia?

2 min read4 days ago
pic by pinterest

Aku tahun ini akan berusia 20 tahun, lalu ibuku 53 tahun, bapakku 49 tahun. Tapi kami pernah sekali berumur sangat muda, aku 5 tahun dan sedang asyik-asyiknya menikmati masa-masa menjadi anak tunggal, bapakku 34 tahun dan ibuku 38 tahun. Kami sangat menikmati hidup kala itu. Pikiranku hanya dipenuhi oleh “besok main apa lagi ya?” dan “besok main di rumah siapa?”

Tiba-tiba saja aku merindukan masa kecilku. Masa di mana aku tak perlu memikirkan beban di pundakku yang entah sejak kapan ada, tagihan yang memang tak pernah jadi kewajibanku tapi anehnya selalu hinggap di pikiranku, berkejar-kejaran dengan umur orang tua, merasa jenuh dengan diri sendiri, dan segalanya yang membuatku muak dengan hidup. Dulu, aku tak perlu memikirkannya.

Lalu, momen-momen manis yang kuanggap akan bertahan selamanya bersama kesehatan dan bugarnya fisik orang tuaku, perlahan memudar dan seperti kehilangan harapan.

Binar di mataku juga ikut meredup, digantikan oleh genangan air mata yang sesekali datang, makin mengaburkan semuanya. Aku semakin disibukkan dengan duniaku, kakiku semakin melangkah jauh dari ‘dunia’ yang pernah kupunya. Tiap hari, aku semakin takut. Takut tak pernah bisa kembali dengan dengan rasa rindu yang sama. Dan itulah yang sudah terjadi, karena setiap aku pulang ke orang tuaku, aku akan selalu membawa rasa bersalah yang tak berujung, atas pembuangan waktu yang tak bisa kumanfaatkan dengan maksimal lalu akhirnya kuanggap sia-sia saat tak bisa mencapai target, di sela-sela kegiatan kuliahku.

Aku selalu bertanya-tanya, apa yang kukejar di dunia ini sampai aku harus mengorbankan banyak hal demi meraih kemenangan yang entah kapan datangnya itu.

Get meloblio’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Apakah ini benar-benar akan membuahkan hasil?

Entahlah. Aku sudah lelah mencoba, tapi aku juga masih terlalu muda untuk menyerah.

Kini aku lebih sering memperhatikan rambut-rambut bapak ibuku yang mulai memutih ketimbang ekspresi wajah mereka saat kami berbicara. Bapakku yang paling banyak ubannya, dia bekerja terlalu keras, apalagi setelah aku menempuh pendidikan tinggi, lalu ibuku juga ubannya sudah bermunculan, mungkin sangking sering dan seriusnya ia mendoakanku untuk terus dihindarkan dan diselamatkan dari segala marabahaya. Bahkan mereka sekarang sudah terang-terangan mengatakan bahwa badan mereka mulai sakit-sakitan di hadapanku, yang mungkin saja sudah mereka rasakan sedari lama, namun baru mereka beritahukan saat umurku sudah dirasa pas untuk tahu…

Ya Tuhan… kenapa mereka menua secepat ini?

Andai saja aku memiliki kekuatan super untuk mengambil jatah penuaan orang tuaku untuk kulimpahkan ke tubuhku, agar mereka bisa terus muda dan sehat bugar. Tak apa jika aku saja yang menua. Lagipula aku benar-benar tak mau membayangkan siapa dulu yang akan tiada nanti, karena aku sudah beberapa kali membuat skenario itu di pikiranku, dan selalu berakhir dengan aku yang menangis tersedu-sedu di pelukan bantal di dini hari.

Tolong tetaplah sehat sampai aku menang melawan dunia…

Find me on insta: @meloblio

--

--