STOP
Apakah bisa aku fokus dalam satu jam?
Badanku seolah tidak diciptakan untuk itu.
Aku kecewa pada diriku sendiri.
Ingin rasanya menggoreskan tanganku pada penggaris plastik.
Sayangnya tidak punya.
Yang ku bisa lakukan hanya mengaruk kepala yang tidak gatal.
Sial, sial, dan sial.
Lebih baik mati.
Tapi dosaku masih banyak.
Get Muhammad Fatih’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Tugas numpuk, orang tua masih ada, teman punya.
Hidup eksternal ku mungkin masih baik-baik saja.
Tapi internalku terus bercucuran darah dan menangis setidaknya dalam 9 hari terakhir.
Suara ku tidak seperti biasanya, terkadang mataku berkaca-kaca.
Marah ku kira adalah cara pelampiasan.
Setelah melakukan itu pada kamis malam, jiwaku tetap cengeng.
Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Aku orang yang bodoh.
Aku bahkan lupa hari ini hari apa.
Bunuh aku dengan penyakitku.
Semoga aku bisa tenang, hidup di dunia dengan banyak distraksi.


