Sitemap
Ollie Kubali

Ollie Kubali

Membongkar Sekam, Menjemput Keadilan Sejarah

Codename: Ali Soviet

7 min readOct 9, 2026

--

Ternate, Tangerang, Shanghai, dan Berkas Merah Spionase Lintas Batas

Ilustrasi: Kampanye Partai Komunis Indonesia tahun 1955. FOTO/LIFE documentary

GERGAJI DI SEPERTIGA MALAM

Tengah malam. Jumat, 12 November 1926. Jam raksasa di pusat kota Batavia baru saja berdentang dua belas kali.

Senyap. Kampung-kampung di pinggiran Tangerang mendadak bungkam bagai kuburan massal. Gramofon mati. Lampu-lampu minyak dipadamkan. Di lorong-lorong gelap, tidak ada lagi anak-anak atau perempuan; mereka telah diungsikan secara klandestin ke balik batas kota beberapa jam sebelumnya. Kota ini telah dikosongkan untuk sebuah pertunjukan darah.

Lalu, bunyi itu terdengar.

Srek. Srek.

Gesekan mata gergaji yang dipaksa memakan besi dan kayu. Di bawah guyuran hujan sisa, ratusan pria bermata nanar bergerak dalam barisan bayangan. Target mereka konkret: tiang-tiang telepon kolonial. Menggunakan kapak dan gergaji, mereka menebas urat nadi komunikasi yang menghubungkan Tangerang dengan markas besar militer Belanda di Batavia.

Brak!

Tiang pertama roboh. Kawat-kawat tembaga putus, meliuk laksana ular mati di atas tanah becek. Tangerang terisolasi secara mutlak dari dunia luar.

Di tempat lain, di sepanjang jalur kereta api Pantai Utara, sekelompok buruh dengan seragam Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (S.C.S.) yang telah disusupi buru-buru membongkar bantalan rel. Logikanya sederhana: pasang jerat, hentikan kereta bala bantuan militer kolonial, lalu serang pos polisi.

Di gardu depan, kepanikan pecah. Moncong senapan dirampas dari tangan polisi-polisi kolonial yang gemetar. Teror menjalar di sela-sela rumah pejabat Eropa.

Semua kekacauan masif ini digerakkan oleh satu otak dari balik bayang-bayang. Seorang pria berusia tiga puluh tahun yang duduk tenang di tengah kegelapan, menggenggam sandi-sandi organisasi bawah tanah: Ali Soviet.

HANTU DARI GAMALAMA

Ali Soviet — nama aslinya Ali Kamaruddin Abdul Mutalib — bukanlah produk dari indoktrinasi ruang kelas kolonial yang tertib. Jiwa subversifnya lahir di bawah bayang-bayang purba Gunung Gamalama, Ternate, tempat ia dilahirkan pada 1896. Ia mengasah radikalismenya lewat zelfstudie yang liar, melalap teks-teks Marxis klandestin yang diselundupkan di antara karung-karung pala di lambung kapal dagang.

Pada 1924, namanya ditandai dengan tinta merah dalam berkas rahasia Politieke Inlichtingen Dienst (PID). Dinas rahasia Belanda tahu pria ini berbahaya. Ali memiliki bakat spionase yang langka: fasih dalam enkripsi sandi, bergerak tanpa desau, dan memiliki karisma dingin yang sanggup meyakinkan buruh kasar hingga pegawai kantoran untuk mempertaruhkan leher mereka.

Tepat lima malam sebelum Tangerang meledak, di bawah kepungan hujan tropis tanggal 6 November 1926, Ali Soviet duduk melingkar di atas tikar pandan dalam sebuah rumah panggung tua di Cirebon. Di sanalah komando inti Perserikatan Komunis di India (P.K.I.) mengambil keputusan fatal. Ketidaksabaran basis massa di Tegal dan Banten memaksa mereka memajukan hari perlawanan. Hero Pranoto membentangkan peta strategis. Matanya menatap Ali. Sebuah mandat dijatuhkan: Ali Soviet ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi operasional koridor barat Batavia.

Ali segera mengaktifkan Double Organisation (DO) — sebuah arsitektur sel berlapis yang kejam. Sistem ini dirancang agar jika satu jaringan tertangkap dan disiksa, sel lain tetap berfungsi tanpa mengetahui identitas tetangganya.

Di Tangerang, ia merekrut Hadji Mari dan Hassan untuk menggerakkan massa tani. Bahkan, ia menanam duri di dalam jantung hukum Belanda dengan merekrut Mas Boekendar, seorang pemuda panitera fiskal pembantu (b.s. fiscaal-griffier) pada Pengadilan Negeri (Landgerecht) Tangerang. Boekendar adalah mata dan telinga Ali, membocorkan setiap rencana patroli polisi kolonial.

Semua lini telah terkunci. Jalur rel dipegang jaringan kondektur SCS lewat pengaruh Samaoen. Jalur tikus pesisir dihafal luar kepala oleh dua kurir andalannya, Moechamad Sawiri dan Ali Achmad.

Rencananya sempurna. Namun, Ali Soviet melupakan satu hal: dinas rahasia kolonial tidak pernah tidur.

Press enter or click to view image in full size
Press enter or click to view image in full size
Sumber: Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië 02–01–1931 (Ali Kamaruddin Abdul Mutalib alias Mohamad Ali alias Ali Soviet)

JEBAKAN FORENSIK DAN DUA BELAS DENTANG DI SURABAYA

PID sebenarnya telah mencium bau mesiu. Beberapa hari sebelum malam serangan, sepucuk surat rahasia dari Cirebon berhasil dicegat kepolisian kolonial di Semarang.

Dini hari, 13 November 1926. Ketika laporan bahwa Tangerang telah lumpuh mencapai Batavia, Gubernur Jenderal langsung melepaskan kekuatan penuh detasemen militer bersenjata lengkap.

Bentrokan itu brutal namun singkat. Melawan senapan mesin modern, massa tani yang hanya bersenjata api seadanya dan kapak segera terdesak. Tangerang runtuh menjadi lautan kepanikan. Pembersihan massal dimulai. 350 orang langsung diringkus ke dalam sel besi. Di ruang-ruang interogasi yang pengap, di bawah tekanan siksaan fisik yang kejam, pimpinan lapangan seperti Djamhari dan Raiboen patah arah dan menyerahkan diri.

Namun, saat kepala PID memeriksa manifes tahanan utama untuk mencari sang maestro pemberontakan, mereka mendapati ruang kosong. Ali Soviet telah lenyap bagai asap.

Dua hari kemudian, 14 November 1926. Sebuah telegram darurat dari kepolisian Soerabaia mengejutkan meja Jaksa Agung di Batavia. Isinya membawa angin segar: Mohamed Ali, pimpinan utama pemberontakan, berhasil ditangkap di Surabaya. Otoritas kolonial bersorak.

Ternyata, itu adalah lelucon forensik terbesar dalam sejarah kolonial.

Sebelum bergerak, Ali Soviet telah menyiapkan dokumen palsu dengan nama taktis “Mohamad Ali” — nama paling pasaran di Hindia Belanda untuk membingungkan birokrasi. Rencana itu bekerja terlalu baik. Pria yang ditangkap di Surabaya ternyata adalah Mohamed Ali yang lain — mantan anggota dewan kota (Gemeenteraad) Semarang dan tokoh senior serikat buruh kereta api VSTP yang memimpin wilayah Timur.

Get Ollie Kubali’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Birokrasi kolonial yang slordig (ceroboh) terjebak dalam kebingungan. Karena fisik pria di Surabaya tidak cocok dengan deskripsi pelaku sabotase yang membakar Tangerang, polisi Surabaya mengambil keputusan fatal: mereka melepaskannya kembali. Butuh waktu berhari-hari bagi dinas rahasia untuk menyadari kebodohan mereka. Celah koordinasi antar-wilayah ini memberi Ali Soviet waktu emas untuk menyelinap ke luar Pulau Jawa.

Tujuh orang pelaku kerusuhan di Tangerang ditangkap. Kerusuhan tersebut dikenal dengan pemberontakan PKI 1926–1927 di Banten, Jawa Tengah, dan Sumatra Barat. Foto: repro Bintang Hindia, 27 November 1926.

LABIRIN SPIONASE INTERNASIONAL

Desember 1926. Sementara pengadilan kolonial Batavia sibuk menjatuhkan hukuman massal di bawah Pasal 108 hukum kolonial, Ali Soviet telah melintasi Selat Malaka. Ia menjejakkan kaki di Singapura, melebur di antara ribuan kuli panggul dan matroos (pelaut) pelabuhan.

Di bawah temaram lampu minyak kedai kopi South Bridge Road, Ali bergerak laksana hantu jaringan Comintern (Komunis Internasional). Ia menggunakan bank klandestin yang terhubung ke Moskow untuk mencairkan dana darurat bagi para pelarian politik Jawa yang bersembunyi di lambung kapal Inggris.

Jerat mulai menyempit ketika Malayan Security Service Inggris berkolaborasi dengan PID Belanda. Ali mendeteksi ancaman, menggenggam paspor palsu, lalu kabur ke utara: Siam. Bangkok akhir 1920-an adalah labirin politik yang sempurna. Di sana, ia tidak pernah tidur di tempat yang sama lebih dari dua malam. Instruksi ditulis di atas kertas sigaret tipis dengan tinta tak kasat mata.

Tahun 1928, ia berpindah ke Shanghai, episentrum intrik Asia. Di bawah perlindungan wilayah French Concession yang kebal hukum lokal, Ali Soviet mencapai puncak kematangan taktisnya, mengoordinasikan propaganda media cetak lintas negara. Otoritas kolonial tahu ia ada di suatu tempat di Asia, tetapi mereka tidak pernah bisa menyentuh ujung jubahnya.

PEMBERHENTIAN TERAKHIR: NERAKA HIJAU DAN KURSI PARLEMEN

Setiap keberuntungan buronan memiliki batas kedaluwarsa. Tahun 1930, di sebuah dermaga sunyi di Hongkong, detektif dinas rahasia Inggris (Secret Intelligence Service) berhasil mengendus dokumen perjalanan palsunya.

Sunyi. Tanpa drama tembakan. Tiga agen bersenjata meringkusnya dalam kegelapan dermaga. Dalam hitungan minggu, Ali Soviet diekstradisi di atas kapal militer menuju Batavia.

Pemerintah Hindia Belanda tahu ia terlalu berbahaya untuk diberi panggung peradilan terbuka. Gubernur Jenderal langsung menggunakan taring kekuasaannya: Exorbitante Rechten — hak luar biasa untuk membuang manusia tanpa sidang.

Tahun 1931, Ali Soviet didepak ke Boven Digoel, kamp konsentrasi di tengah rawa-rawa primer Papua. Tujuh tahun ia mendekam di sana ditemani malaria, terasing bersama Mas Boekendar, panitera yang dahulu setia membocorkan rahasia negara untuknya.

Namun, sejarah memiliki selera humor yang gila.

Dibebaskan pada 1938, Ali Soviet kembali ke Ternate dan membalik lembaran hidupnya 180 derajat. Tokoh yang dahulu memimpin sumpah darah komunis radikal ini mendirikan sekolah Taman Siswa dan memelopori Muhammadiyah Cabang Ternate. Pasca-kemerdekaan, ia melompat ke jalur politik Islam, menjadi Ketua Masyumi Maluku Utara.

Puncaknya terjadi pada tahun 1957. Mantan buronan internasional yang pernah menggoncang stabilitas kolonial itu melangkah dengan kepala tegak, membelah koridor gedung parlemen sebagai Anggota Konstituante Republik Indonesia Nomor 452.

Telahkah Ali Soviet menaklukkan jalannya sejarah, atau justru sejarah yang berhasil menjinakkan pemberontakan di dadanya?

Di bawah fajar republik yang baru, sang legenda yang bangkit dari kegelapan kini menduduki kursi yang ikut menentukan arah Republik muda. Ia yang dahulu berdiri di garis depan, menantang maut demi meruntuhkan hukum besi kolonial Belanda, kini tegak melangkah di bawah kubah Konstituante.

Tangan yang dulu mengepal senjata melawan tirani penjajah, kini memegang pena sejarah demi merumuskan undang-undang yang diimpikan adil — sebuah manifesto agung tentang keteguhan iman ideologi dan garis takdir seorang pejuang.

Barakallahu fiik, KAMERAD…! Pembela kaum proletar — mustadh’afin.

Daftar Ringkas Rujukan Arsip (Ali Soviet & Peristiwa 1926)

ANRI (Jakarta) — Arsip Algemene Secretarie & PID

Besluit Governor-Generaal, №1x/1931: Surat keputusan pembuangan Ali Soviet ke Boven Digoel lewat hak luar biasa (Exorbitante Rechten).

Geheim Verbaal, November 1926: Laporan kawat darurat sabotase telegraf dan mobilisasi militer penuh di Tangerang.

Dossier Persoonlijk: Ali Soviet, Reg. No. PID-1926/11–04: Berkas intelijen Belanda berisi data zelfstudie Ternate, arsitektur sel Double Organisation, dan laporan salah tangkap di Surabaya.

Nationaal Archief (Den Haag) — Kementerian Kolonial & Peradilan

Mailrapporten (MR) №1124/geheim/26: Laporan Jaksa Agung Batavia mengenai penangkapan massal 350 orang di Tangerang.

Sententiën van de Landgerecht te Tangerang, 1926: Berkas putusan hukum panitera Mas Boekendar atas dakwaan pembocoran rahasia patroli.

The National Archives (Kew, London) — Intelijen Inggris

MSS Intelligence Report, 1927–1929: Catatan pelacakan paspor palsu dan logistik dana Comintern Ali Soviet di Singapura, Siam, dan Shanghai.

Hong Kong Security Branch Warrant, 1930: Berkas penangkapan senyap Ali Soviet di dermaga Hongkong dan dokumen ekstradisi ke Batavia.

Sekretariat Konstituante RI (Bandung, 1957)

Profil Anggota Konstituante RI, №452: Dokumen negara Masyumi Maluku Utara atas nama Ali Kamaruddin Abdul Mutalib (verifikasi transformasi ideologi pasca-Digoel).

--

--

Ollie Kubali

Written by Ollie Kubali

0 followers

Membongkar Sekam, Menjemput Keadilan Sejarah