Sitemap
Mr. Cyborg

Mr. Cyborg

media ku bercerita tentang hal yang membuat ku terjaga tiap malam nya

Glomerulus

3 min readOct 15, 2026
source: @scarytoilet on twitter

​Ada pembacaan bahwa keberadaan manusia akan selalu bertautan dengan manusia lainnya. Itu dianggap sebagai sebuah kepastian. Lebih jauh lagi, orang-orang melihatnya sebagai suratan takdir bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan. Seolah ada satu benang merah yang menuntun tiap individu untuk bertemu lekuk yang selaras dengan tepian keping puzzle-nya.

​Melihat hal itu sebagai keniscayaan rasanya memang indah dan menenangkan. Ada perasaan bahwa masih ada titik penantian di hidup ini dalam semesta yang sudah terpecahkan. Sebuah hadiah yang menanti di tengah jalan.

Pasti.

Pasti datang, kayaknya.

​Ingin rasanya peduli pada konsep itu. Bukan berarti menolak sepenuhnya.

​Membayangkannya sebagai pertemuan fisik yang menggeliat di tengah air liur, keringat, dan air kencing pun terasa jauh lebih normal.

Tapi justru ada rasa jijik yang tak tertahankan saat harus membayangkan yang abstrak ini bersentuhan dengan abstrak lainnya.

​Gas tak berbentuk dan berbau busuk ini harus dibiarkan berdifusi dengan gas lainnya. Mungkin elemen baru itu akan lebih wangi, atau mungkin jauh lebih busuk.

Harapannya menjadi ledakan spektakuler yang meluluhlantakkan alam, membuat tanah seluas sepuluh kilometer persegi tidak bisa dihuni lagi hingga seribu tahun.

​Sayang, tidak semua orang menyukai ledakan. Kebanyakan mengharapkan percampuran natural ini memberi penghidupan.

Layaknya air yang terus mengalir hingga ke lautan untuk kembali menjadi siklus yang terus berputar, entah itu untuk dipakai mandi atau sekadar mendinginkan dinding otak-otak besi panas pembuat poster acara kumpul keluarga.

Pengen steril, takut terkontaminasi.

Namun apa saja disuntikkan atas nama kegembiraan tanpa batas.

Maunya apa? Makan gula-gula getah?

​Kebanyakan menyusuri lingkaran yang sama, yang tersisa tinggal pusingnya.

Get Mr. Cyborg’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

​Padahal tinggal dirasakan saja.

Tapi enggak pernah ikut kelasnya, latihannya, tiba-tiba mencoba ujiannya.

Dasar orang buta kemarin sore.

Sok-sokan nyebrang secara spontan.

Bukannya benar-benar merasakan. Malah lebih seperti mereka-reka bagaimana muda-mudi lain merasakan.

​Rasa itu sebenarnya apa?

​Jika ia tidak butuh pengkotak-kotakan untuk memberinya tempat agar menjadi sesuatu yang definitif, tapi cukup dirasakan, diresapi, dan diselami, lalu bagaimana kita bisa memberinya batas yang jelas ketika ia tumpang tindih dengan yang lain? Tumpang tindih berlapis-lapis hingga rasanya seperti kumpulan lima belas jenis buah yang dikunyah dalam satu gigitan.

​Mungkin bisa membedakannya. Tapi karena rasa buah itu terasa samar, bisa saja membuat keliru membedakan mana yang benar-benar dirasakan dan mana yang sekadar dipikirkan telah dirasakan.

​Lalu ada yang bilang katanya rasa itu sekarang adalah komoditas baru.

Belum selesai ini eksplorasi rasanya.

Dasar miliarder tiran brengsek.

Mereka ingin memasarkan setiap aspek kehidupan yang melekat pada ruh manusia. Hal-hal yang tidak bisa dilihat dengan mikroskop pun ingin mereka jual. Apakah tidak cukup menjual kemampuan berpikir? Sekarang mereka ingin menjual kemampuan merasa?

​Atau jangan-jangan rasa sebenarnya sudah dijual sejak lama. Bedanya, sekarang saja ada manusia yang cukup tidak berperikemanusiaan untuk menjualnya terang-terangan dengan lantang dan tanpa rasa malu.

Kalau pikiran dan rasa bisa diperjualbelikan sebagai bahan baku, aspek mentah kemanusiaan apa lagi yang mau dijual selanjutnya?

Aspek apa lagi yang harus segera digerus agar kita benar-benar jadi porselen licin?

​Porselen yang tak pernah menyentuh tangan. Cukup disentuh oleh besi-besi cetak yang dipanaskan dengan air fryer.

​Jadi kaleng saja sekalian rasanya lebih enak.

--

--

Mr. Cyborg
Mr. Cyborg

Written by Mr. Cyborg

media ku bercerita tentang hal yang membuat ku terjaga tiap malam nya