Berani Menulis (39)
Mengapa Harus Membasuh Luka Pengasuhan?
1.1 Mendeteksi Adanya Respons Error
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Alhamdulillāh, kembali lagi dengan saya, Muhammad Fakhri Fadhlillah, di Berani Menulis. Sudah lama tidak berjumpa dengan saya, Alhamdulillah hari ini dan seterusnya mari kita istiqomahkan kembali untuk menuntaskan refleksi dan mengambil hikmah dari buku Membasuh Luka Pengasuhan Volume 2 dengan Jalan Tazkiyyatun Nafs. Semoga Allah Swt. selalu memudahkan dan memampukan kita semua. Aamiin.
Pada kesempatan kali ini, kita mulai memasuki pembahasan pertama dari buku Membasuh Luka Pengasuhan Volume 2 dengan Jalan Tazkiyyatun Nafs, yaitu mengapa kita perlu membasuh luka pengasuhan?
Alasan pertama yang dibahas oleh penulis adalah mendeteksi adanya respons error.
Apa itu respons error? Dan mengapa kita perlu mengenalinya?
Ketika Respons Kita Tidak Sesuai dengan Keadaan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering memberikan respons terhadap sesuatu yang terjadi. Ada kalanya kita merespons dengan tenang, tetapi ada pula saat kita bereaksi dengan marah, kecewa, atau sedih.
Namun, pernahkah kita mengalami suatu keadaan ketika respons kita terasa begitu berlebihan dibandingkan dengan peristiwa yang sedang terjadi?
Seseorang menyampaikan kritik sederhana, tetapi kita merasa sangat tersinggung. Seseorang terlambat datang, tetapi kita merasakan kemarahan yang begitu besar. Atau seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya biasa saja, tetapi entah mengapa kita merasa sangat terluka.
Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa saya bereaksi seperti ini?
Bisa jadi, yang sedang kita hadapi bukan hanya peristiwa hari ini. Ada pengalaman masa lalu, ingatan, atau perasaan tertentu yang ikut memengaruhi cara kita merespons keadaan.
Dalam buku ini, penulis mengajak pembaca untuk mengenali kemungkinan adanya respons error, yaitu respons yang terkadang kurang selaras dengan situasi yang sedang dihadapi. Respons semacam ini dapat menjadi salah satu hal yang perlu dipahami bersama, terutama ketika berpengaruh terhadap dinamika hubungan dan interaksi dalam keluarga.
Sebuah Peristiwa, Sebuah Luka yang Terbuka Kembali
Penulis kemudian menceritakan pengalaman pribadinya bersama sang istri ketika mereka melakukan perjalanan untuk mengisi seminar.
Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka tiba di penginapan dalam keadaan lelah. Sang istri juga harus menemani anak mereka yang masih kecil. Mereka sebenarnya berencana beristirahat, tetapi kemudian mendapat ajakan dari panitia untuk mencari makan bersama.
Sang suami menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu di kamar hotel, sementara sang istri menunggu di lobi bersama anak mereka. Namun, karena penjemputan terlambat dan kondisi semakin melelahkan, suasana mulai tidak nyaman. Kesalahpahaman pun berkembang menjadi pertengkaran.
Ketika akhirnya kembali ke kamar, sang suami melempar ponselnya ke atas tempat tidur untuk meluapkan kekesalan. Ia tidak menyangka bahwa tindakan tersebut memicu respons yang jauh lebih kuat dari sang istri.
Sang istri menangis, berteriak, dan mengungkapkan pengalaman masa kecilnya, ia terbiasa melihat ayahnya melempar barang kepada ibunya.
Bagi sang suami, melempar ponsel saat itu mungkin merupakan luapan kekesalan sesaat. Namun, bagi sang istri, tindakan tersebut mengingatkannya pada pengalaman menyakitkan yang pernah ia saksikan sejak kecil.
Peristiwa pada masa kini seolah membuka kembali pengalaman masa lalu.
Di sinilah saya berhenti sejenak dan merenung.
Ternyata, peristiwa yang sama bisa memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.
Apa yang bagi seseorang terasa biasa, bagi orang lain bisa terasa mengancam. Apa yang dianggap sudah selesai oleh seseorang, mungkin masih menyisakan bekas dalam diri orang lain.
Kita tidak pernah sepenuhnya mengetahui pengalaman yang dibawa seseorang dalam menjalani kehidupannya.
Jangan Terburu-buru Menghakimi Respons Seseorang
Dari kisah tersebut, saya belajar bahwa ketika seseorang memberikan respons yang sulit kita pahami, mungkin kita perlu berhenti sejenak sebelum menghakiminya.
Get Muhammad Fakhri Fadhlillah’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Bukan berarti setiap respons yang muncul pasti benar. Perilaku yang menyakiti diri sendiri maupun orang lain tetap perlu ditangani dengan serius. Namun, memahami latar belakang suatu respons dapat membantu kita mencari jalan penyelesaian yang lebih baik.
Kita perlu membedakan antara memahami dan membenarkan.
Memahami berarti berusaha mencari tahu mengapa seseorang bereaksi demikian. Membenarkan berarti menganggap respons tersebut selalu dapat diterima. Keduanya bukan hal yang sama.
Dengan memahami berbagai hal yang melatarbelakanginya, kita dapat perlahan belajar mengenali dan mengelola respons diri, sembari tetap memberi ruang untuk memahami diri sendiri maupun orang lain dengan lebih bijaksana.
Barangkali, inilah salah satu alasan mengapa pengalaman pengasuhan perlu dipahami dan direfleksikan. Sebab, pengalaman yang kita lalui semasa tumbuh dapat turut mewarnai cara kita menjalin hubungan, menyikapi perbedaan, menghadapi konflik, dan mengungkapkan perasaan ketika dewasa.
Lalu, Bagaimana dengan Diri Kita?
Setelah membaca kisah tersebut, saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, bagaimana jika ternyata ada respons dalam diri saya yang selama ini belum saya pahami?
Mengapa saya mudah tersinggung ketika menerima kritik?
Mengapa saya terkadang sulit menerima perbedaan pendapat?
Mengapa dalam keadaan tertentu saya memilih diam, menjauh, atau justru meluapkan kemarahan?
Apakah semuanya semata-mata karena keadaan saat ini, atau ada pengalaman lain yang turut memengaruhi respons saya?
Tentu, tidak semua reaksi yang berlebihan pasti berasal dari luka pengasuhan. Kelelahan, tekanan, kondisi lingkungan, dan berbagai faktor lainnya juga dapat memengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kita tidak perlu terburu-buru memberikan label kepada diri sendiri maupun orang lain.
Namun, kita bisa mulai belajar mengamati pola respons kita, mengenali pemicunya, dan mencari bantuan yang tepat apabila hal tersebut terus mengganggu kehidupan.
Sebab, terkadang langkah pertama untuk memperbaiki diri bukanlah memaksa diri agar segera berubah, melainkan berani menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu dipahami.
Mengenali Diri sebagai Awal Perbaikan
Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 25:
“Rabb-mu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Jika kamu orang yang baik, maka sungguh, Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertobat.”
Ayat ini mengingatkan saya bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati kita, termasuk hal-hal yang mungkin sulit kita jelaskan kepada orang lain.
Maka, ketika menemukan kekurangan dalam diri, jangan berhenti pada penyesalan. Jadikan kesadaran itu sebagai awal untuk memperbaiki diri dan kembali kepada Allah.
Kita tidak dapat mengubah seluruh pengalaman masa lalu. Namun, kita masih bisa belajar memahami pengaruhnya, memperbaiki respons pada masa kini, dan perlahan menumbuhkan cara yang lebih sehat dalam memperlakukan diri sendiri maupun orang lain.
Mungkin proses membasuh luka memang dimulai dari pertanyaan sederhana:
“Mengapa saya merespons seperti ini?”
Dari pertanyaan itu, semoga tumbuh keberanian untuk mengenali diri, kebijaksanaan untuk memahami orang lain, dan kesungguhan untuk memperbaiki hubungan yang kita miliki.
Sebab keluarga seharusnya menjadi ruang untuk belajar saling memahami, bertumbuh bersama, dan perlahan memperbaiki hal-hal yang selama ini belum sempat kita pahami.
Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita dalam perjalanan memahami diri sendiri, menerima apa yang kita rasakan, dan belajar menyikapi orang lain dengan lebih bijaksana. Semoga kita diberi kelapangan hati untuk memahami bahwa setiap respons memiliki ceritanya sendiri, dan dengan perlahan, kita dapat belajar mengenali bagaimana pengalaman masa lalu turut mewarnai cara kita memandang dan menghadapi kehidupan hari ini.
Semoga setiap ilmu menjadi cahaya, dan cahaya tersebut semakin menerangi diri kita, menebarkan kebermanfaatan kepada sesama, serta dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga apa yang kita pelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi langkah nyata untuk memperbaiki diri, merawat hubungan, dan mendekatkan hati kepada Allah.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Aku bermanfaat, maka aku ada.
Allāhu a‘lam.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.





