Menemukan Sekutu Dalam Rahimnya Sendiri
Kalau ibu dan anak sudah bersepakat untuk menggulingkan rezim, ah, bajingan itu hampir dipastikan tak bersisa selain abu dari singgasana yang mereka banggakan
Revolusi paling menakutkan bukan ketika ribuan orang turun ke jalan, bisa jadi ketika perlawanan telah menemukan rumahnya sendiri. Ketika seorang ibu tak lagi mewariskan kepatuhan kepada anaknya, dan seorang anak tak lagi menganggap ketakutan sebagai warisan yang harus dijaga.
Get Muhammad Faiz’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Di titik itu, rezim bukan cuma kehilangan legitimasi. Ia kehilangan masa depan.
Sebab, bagaimana mungkin kekuasaan bertahan jika rumah-rumah telah menjadi tempat persemaian pemberontakan? Jika meja makan berubah menjadi ruang diskusi, nasihat ibu menyasar pada kesadaran politik, dan anak-anak tumbuh dengan keberanian untuk mempertanyakan segala yang dianggap sakral?
Rezim boleh menguasai istana, tetapi ia tak akan pernah benar-benar menang jika gagal menaklukkan pikiran yang tumbuh di dalam rumah.
Dan ketika ibu dan anak akhirnya berdiri di sisi yang sama, sejarah barangkali hanya tinggal menunggu waktu untuk menuliskan batu nisan kekuasaan.






