Sitemap

Haruskah kain yang dicap suci ini harus bersemayam selamanya di rambutku yang indah?

2 min read1 day ago

--

Press enter or click to view image in full size
Tolong, berikanlah aku toleransi karena aku sebenarnya membenci rambut indahku ditutup kain suci itu(puisi ini tidak diinginkan menyinggung sama sekali mayoritas)

Sejak kecil — agamaku selalu mengedepankan syarat tertulis bagi pemeluknya di kitab suci dan aku tahu itu jelas sudah di luar kepala.

Dari kecil aku sangat menyukai rambutku yang indah. Berjanji menjaga rambutku yang indah ini sampai nanti.

Aku suka saat rambutku dikuncir apalagi digerai — dipastikan aku akan memamerkannya kepada orang banyak. Namun, ajaran di agamaku tidak seperti itu.

Semakin aku dewasa, aku semakin dihantui rasa takut, bersalah, dan tekanan dari orang banyak terutama keluargaku jikalau aku tidak berusaha memakai hijab sekali saja.

Di saat aku melihat keluargaku rata-rata mengenakan hijab bahkan seumuran denganku — aku langsung merasa paling hina dan memakai kain suci tersebut buru-buru di rambutku yang indah kubelai.

Padahal… aku tak menyukainya.

Namun, terkadang — kupenuhi saja ekspektasi dan keinginan keluargaku untuk memakai kain suci itu seharian hampir penuh — namun — dalam hatiku, aku mengeluh tak ingin dihakimi dan ditekan seperti ini.

Get we.in`star’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Kenapa sangat hina dan kotor diriku di mata mereka kalau tidak memakai kain suci itu?

Dan di saat aku tidak mempersilahkan kain suci itu membekap rambutku — aku merasa lega kembali dan senang, karena aku bisa kembali memamerkan rambut indahku yang sudah kuurus seindah-indahnya.

Namun, ada di satu waktu, diriku merasa sangat bersalah tidak tersentuh rasa tertekan dan ketakutan sama sekali saat tidak memakai hijab. Karena aku mampu dengan mudah merusak ekspektasi dan harapan orang-orang terdekatku.

Aku pun masih bertanya-tanya dan entah — diriku yang terkadang mampu memenuhi harapan mereka apakah di akar hati terdalam ini sedang terukir rasa benci atau rasa bersalah?

Aku juga masih sangat iri dengan orang-orang yang berada di lingkungan yang tak menekannya sama sekali.

Namun, akan kuusahakan kain suci itu bersemayam secepatnya dan lebih dari selamanya di rambut indah milikku ini.

Tolong, beri aku waktu dan kesempatan untuk beradaptasi agar hatiku menerima dengan lapang dada tanpa mengkhianati lagi syarat tertulis agamaku.

Dengan tanpa menekan diriku yang hanya menimbulkan rasa takut dan benci.

— Seseorang yang masih belajar, N.

--

--

we.in`star
we.in`star

Written by we.in`star

life its all about reading, writing, and watching