Pancasila Jangan Berhenti di Upacara
Oleh: Pablo Ryan Praditya
Mahasiswa Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura
Pendahuluan
Setiap kali upacara digelar, Pancasila kembali diucapkan. Lima sila dibacakan dengan lantang, lalu kegiatan berlanjut seperti biasa. Kita mengenalnya sejak sekolah, menghafalnya hampir tanpa kesulitan, bahkan mungkin dapat menyebutkan kelima silanya tanpa berpikir panjang. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah Pancasila benar-benar kita jalankan setelah upacara selesai?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kehidupan masyarakat terus berubah. Perbedaan pendapat semakin mudah ditemukan, media sosial membuat informasi menyebar dalam hitungan detik, dan pola hidup masyarakat semakin individualistis. Di tengah perubahan itu, Pancasila tidak cukup hanya dipahami sebagai materi pelajaran atau simbol negara.
Pancasila memiliki kedudukan fundamental sebagai dasar filosofis kehidupan bernegara. Nilai-nilainya menjadi landasan dalam pembentukan hukum dan penyelenggaraan kehidupan kenegaraan. Karena itu, Pancasila seharusnya tidak berhenti sebagai gagasan yang tertulis, tetapi diterjemahkan ke dalam tindakan dan kebijakan yang mencerminkan kemanusiaan, persatuan, musyawarah, serta keadilan sosial (Kameo & Prasetyo, 2021).
Pancasila Bukan Pajangan di Dinding
Pancasila sering hadir dalam bentuk yang sangat mudah dikenali. Lambang Garuda terpampang di ruang kelas, kantor pemerintahan, dan berbagai tempat umum. Kelima silanya juga tercantum dalam buku pelajaran dan dihafalkan oleh peserta didik. Namun, keberadaan simbol dan hafalan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa nilai Pancasila telah menjadi bagian dari perilaku masyarakat.
Keadilan sosial, misalnya, tidak seharusnya hanya dipahami sebagai kalimat dalam sila kelima. Nilai tersebut perlu terlihat melalui kesempatan yang adil, kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan, serta kehidupan sosial yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi. Begitu pula sila kedua yang mengajarkan kemanusiaan tidak akan memiliki makna jika seseorang masih mudah merendahkan orang lain hanya karena perbedaan latar belakang.
Sila keempat juga sering dipersempit menjadi persoalan pemilihan umum. Padahal, demokrasi tidak hanya berbicara mengenai memberikan suara. Ada proses mendengarkan, mempertimbangkan pendapat, dan mencari keputusan yang dapat diterima bersama. Perbedaan pendapat seharusnya tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai lawan.
Yudi Latif (2018) menjelaskan Pancasila melalui keterkaitan nilai religiositas, kebangsaan, dan kehidupan sosial. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Pancasila tidak berdiri sebagai gagasan yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Nilai Pancasila justru memperoleh makna ketika diterapkan dalam hubungan manusia dengan sesama dan dengan kehidupan berbangsa.
Tantangan Pancasila Kini Ada di Layar Ponsel
Jika dahulu perbedaan dan konflik banyak terjadi dalam ruang fisik, kini ruang digital menjadi salah satu tempat utama masyarakat berinteraksi. Sebuah unggahan dapat dilihat banyak orang dalam waktu singkat. Komentar yang awalnya ditujukan kepada satu orang dapat berkembang menjadi perdebatan panjang yang melibatkan banyak pihak.
Media sosial sebenarnya bukan ancaman bagi Pancasila. Teknologi justru dapat digunakan untuk menyebarkan pengetahuan, membangun diskusi, dan memperluas akses masyarakat terhadap informasi. Persoalan muncul ketika kebebasan tersebut tidak diikuti tanggung jawab.
Kita sering menemukan kebiasaan membagikan informasi sebelum memeriksa kebenarannya, memberikan komentar sebelum memahami persoalan, atau menghakimi seseorang hanya berdasarkan potongan video. Persoalan seperti ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta masyarakat menghafalkan kembali lima sila. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menerjemahkan nilai Pancasila ke dalam perilaku digital.
Sila kedua, misalnya, dapat diterapkan dengan menjaga cara berbicara kepada orang lain. Sila ketiga dapat diwujudkan dengan tidak ikut menyebarkan konten yang sengaja mempertentangkan kelompok masyarakat. Sila keempat dapat diterapkan dengan membiasakan diskusi yang menghargai perbedaan pendapat.
Penelitian Mustakim dan Novita (2023) menunjukkan adanya persoalan sentimen dalam pembahasan isu prinsip kebangsaan dan agama di Indonesia. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ruang digital juga menjadi tempat munculnya beragam respons dan perbedaan sikap terhadap isu yang sensitif.
Karena itu, kemampuan memeriksa informasi, memahami konteks, dan menahan diri sebelum menyebarkan sesuatu bukan sekadar keterampilan menggunakan teknologi. Sikap tersebut juga merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara.
Gotong Royong Jangan Kalah oleh Individualisme
Pancasila juga menghadapi tantangan dari perubahan gaya hidup. Perkembangan teknologi dan globalisasi memang memberikan banyak kemudahan, tetapi kehidupan yang semakin berpusat pada diri sendiri dapat membuat kepedulian terhadap lingkungan sosial berkurang.
Get nayr’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Gotong royong sering kali hanya diingat ketika membicarakan kerja bakti. Padahal, makna gotong royong jauh lebih luas. Gotong royong berarti menyadari bahwa kehidupan seseorang selalu berkaitan dengan kehidupan orang lain.
Contohnya dapat ditemukan dalam lingkungan paling sederhana. Membantu teman yang mengalami kesulitan, menghargai anggota kelompok yang berbeda pendapat, menjaga kebersihan lingkungan bersama, atau bersedia berbagi tugas merupakan tindakan yang mencerminkan semangat kebersamaan. Tidak semuanya membutuhkan kegiatan besar atau seremoni khusus.
Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan tersebut. Pendidikan Pancasila seharusnya tidak hanya mengajarkan sejarah perumusan Pancasila dan hafalan lima sila, tetapi juga memberikan pengalaman yang membuat peserta didik memahami bagaimana nilai tersebut diterapkan. Pendidikan berbasis pengalaman dan kegiatan nyata dapat membantu menghubungkan nilai Pancasila dengan persoalan kehidupan sehari-hari (Kusdarini et al., 2020).
Pancasila akan terasa jauh jika hanya dibicarakan di ruang kelas. Sebaliknya, Pancasila akan terasa dekat ketika siswa dan mahasiswa mengalami sendiri proses bekerja sama, bermusyawarah, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Menguji Pancasila dari Hal-Hal Sederhana
Kita sering menganggap pengamalan Pancasila sebagai sesuatu yang besar dan serius. Seolah-olah Pancasila hanya diuji ketika negara menghadapi persoalan politik, hukum, atau sosial berskala besar. Padahal, nilai Pancasila justru paling sering diuji melalui pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika kita menghormati teman yang berbeda keyakinan, nilai ketuhanan dan toleransi sedang dijalankan. Ketika kita tidak merendahkan seseorang karena kondisi ekonominya, nilai kemanusiaan sedang diterapkan. Ketika kita tetap menjaga hubungan baik dengan orang yang berbeda pendapat, nilai persatuan sedang dipraktikkan.
Begitu pula ketika keputusan kelompok diambil dengan mendengarkan pendapat semua anggota, kita sedang mempraktikkan semangat musyawarah. Ketika seseorang bersedia membantu orang lain tanpa mengharapkan keuntungan pribadi, nilai keadilan sosial dan kepedulian terhadap sesama sedang mendapatkan bentuk nyata.
Karena itu, ukuran pengamalan Pancasila sebenarnya tidak selalu rumit. Kita dapat melihatnya dari cara seseorang memperlakukan orang lain ketika tidak ada yang mengawasi. Kita dapat melihatnya dari cara seseorang berkomentar di media sosial, mengambil keputusan dalam kelompok, menyikapi perbedaan, dan memperlakukan mereka yang berada dalam kondisi berbeda.
Pancasila tidak harus selalu hadir melalui pidato panjang. Ia dapat hadir melalui tindakan yang sederhana, tetapi dilakukan secara konsisten. Tantangannya adalah menjadikan tindakan tersebut sebagai kebiasaan, bukan sekadar dilakukan ketika ada kegiatan bertema kebangsaan.
Penutup
Pancasila tidak kekurangan slogan. Yang masih perlu diperkuat adalah tindakan yang benar-benar mencerminkan nilainya.
Kita tidak kekurangan orang yang mampu menyebutkan lima sila. Tantangannya adalah bagaimana lima sila tersebut menjadi pertimbangan ketika kita menghadapi perbedaan, menggunakan media sosial, mengambil keputusan, maupun berinteraksi dengan orang lain.
Pancasila juga tidak harus dipertahankan dengan cara membuatnya terasa jauh dari generasi muda. Sebaliknya, nilai-nilainya perlu diterjemahkan ke dalam persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka. Di ruang digital, Pancasila berarti bertanggung jawab terhadap informasi yang disebarkan. Di tengah keberagaman, Pancasila berarti menghargai perbedaan. Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, Pancasila berarti tetap memiliki kepedulian terhadap sesama.
Pada akhirnya, keberadaan Pancasila tidak seharusnya diukur dari seberapa sering kita mengucapkannya. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh nilainya terlihat dalam cara kita berpikir, berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan manusia lain.
Pancasila seharusnya tidak berhenti di upacara. Ia harus hidup setelah upacara selesai.
Referensi:
- Kameo J, Prasetyo T. Pancasila as the first and foremost source of laws: A dignified justice philosophy. Journal of Legal, Ethical and Regulatory Issues. 2021;24(Special Issue 1):1–8.
- Latif Y. The religiosity, nationality, and sociality of Pancasila: Toward Pancasila through Soekarno’s way. Studia Islamika. 2018;25(2):207–245. doi:10.15408/sdi.v25i2.7502.
- Mustakim, Novita R. The implementation of probabilistic neural networks to sentiment analysis of national principle and religion issues in Indonesia. Journal of System and Management Sciences. 2023;13(5):311–321. doi:10.33168/JSMS.2023.0520.
- Kusdarini E, Sunarso S, Arpannudin I. The implementation of Pancasila education through field work learning model. Cakrawala Pendidikan. 2020;39(2):359–369. doi:10.21831/cp.v39i2.31412.




