Hijau Jadi Kuning
“Hai, apa kabarmu? Lama tak berbincang. Kali pertama kau menelepon setelah sekian lamanya” kata seseorang yang juga melakukan hal yang sama padaku. Jika direnungkan, kehidupan bak komedi yang penuh ironi itu bersama kami alami sedari dulu. Bedanya, kami punya cerita sendiri. Tak perlu ku jabarkan satu per satu. Andaikan kesempatan untuk bertukar jiwa itu ada, aku tidak mengambil pilihan itu. Baginya begitu juga sebaliknya.
Ada bahasa yang hanya dipahami oleh keheningan. Kami sibuk mencari jalan diantara berbatuan, melompati jurang dan bertahan di bawah hujan yang tak kunjung reda. Jangan berani untuk membandingkan siapa yang lebih pedih dan siapa yang lebih hebat. Syukurnya, kami pandai menghentikannya dengan strategi kami masing-masing.
Selama perkenalan kami sedari kecil. Darinya aku tau, seperti apa bentuk lembut dan sabar jika diimplementasikan. Darinya aku tau, bagaimana bertutur kata yang sopan terhadap lingkungan sekitar. Darinya aku tau, bahwa “Marah” itu tak selalu tentang berteriak maupun membentak. Cukup hadapi dengan ketenangan dan dengan raut wajah yang tak menyenangkan. Darinya aku tau, bergurau dengan lelucon yang konyol dan darinya juga, aku tau bahwa cara menghadapi tangisan itu dengan cara bersembunyi.
Get when the observant writes’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Satu skenario yang masih ada di ingatan jangka panjangku: waktu kami bermain kartu sampai jam 5 subuh, di kamar yang kecil pojok kanan. Jumlah orangnya ada 5. Dipertengahan permainan, kami saling bertukar cerita dan itu kali pertamanya aku melihatnya menangis terisak-isak. Di hari itu, dia membiarkan dirinya terlihat.
Yang bisa ku lakukan adalah: hanya mengamati dan merasakannya dalam diam.
Situasi membuatku seolah-olah aku harus lebih maju dengannya. Tapi bagiku, hidup bukanlah perlombaan. Herannya, benci tak pernah tumbuh diantara kami — mungkin hanya kesal dan bagiku, itu manusiawi. Jujur, aku pernah merasa dia terlalu diistimewakan dan aku juga ingin diperlakukan yang sama sepertinya kelak. Tapi pikirku, itu tak apa. Dia pantas mendapatkannya dan barangkali, itu lah tradisinya.
Lihat dia sekarang, sudah ada peran baru yang harus dijalani. Dari kejauhan, kulihat dia bahagia dan dia pantas mendapatkan bahagia yang selama ini diperjuangkannya walaupun dalam percakapan sore itu, dia tak banyak menjelaskan bagaimana kabarnya. Aku hanya merasakan sesuatu yang sulit dia jelaskan: dia tak ada waktu untuk dirinya sendiri — dan dia memilih untuk mengalah.
Ingin ku menemaninya dan mengajak dia beristirahat sejenak. Tapi, apadaya, dia juga memilih strategi yang mirip dengan ku. Aku harap, dia senang dan bahagia menjalani peran tambahan yang dia punya, senantiasa dilindungi dalam setiap langkah, dan diberi umur panjang untuk tumbuh tanpa kehilangan dirinya sendiri.








