Crème de la Crème
Pertemuan Pertama dengan Haruki Murakami
Terkadang — atau sering kali bahkan — hidup memberikan kita fase keterasingan. Kita merasakan fana yang tak pernah kita rasakan; menanyakan rasa yang tak pernah kita tanyakan; menjawab tanya yang mungkin memang tidak akan pernah ada jawaban. Saya rasa, realitas yang asing ini memang sudah senormalnya terasa asing.
Di tengah karut-marut pikiran dan keterasingan, entah mengapa semesta seolah selalu menuntun saya ke toko buku dan perpustakaan. Sudah menjadi bagian dalam rutinitas selepas kuliah — jika ada waktu luang—untuk jalan kaki berkelana ke berbagai “dunia kecil” yang tersebar di penjuru metropolitan. Jika kau bertanya untuk apa, sebenarnya tanpa alasan yang jelas juga.
Pada suatu waktu, fase itu datang menyapa dengan senyuman khasnya. Seolah sudah mengenal lama, sebuah dorongan asing membawa saya ke peron arah Jakarta, mencari tempat yang masih buka, dan berjalan melawan arus kota — entah ke mana saya dibawanya.
Ternyata hari itu mutlak milik salah satu tempat favorit saya. Duduk merenung selalu menjadi bentuk salam hangat kepada kawan lama. Hingga tanpa sadar, saya sudah terduduk di antara tumpukan sastra asing, bagian yang tidak pernah saya jajaki pada masanya—kini menjelma menjadi kejutan terbaik yang diberikan olehnya.
Terpampang beberapa nama besar yang pernah saya dengar, namun belum satu pun karyanya sempat saya jamah; apalah daya isi dompet mahasiswa. Mata saya tak sengaja tertuju pada satu nama yang semula saya kira milik seorang perempuan: Haruki Murakami. Lantas saya mencari Norwegian Wood karyanya nan legendaris—itu saja yang saya tahu — tapi tak jua ketemu.
Seperti halnya keputusan sehari-hari, entah mengapa rencana cadangan saya hampir selalu tertuju pada hal teraneh yang bisa dieksplorasi. Pandangan saya jatuh pada buku antologi cerpen dengan cover bergambar monyet yang memiliki judul macam istilah aturan grammar. “First Person Singular, aneh betul! Mantap ini,” celetuk saya dalam hati.
“Cream” Sebagai Pintu Masuk Dunia Murakami
Dengan sentuhan khas Haruki Murakami, setiap cerpen dalam buku First Person Singular tersaji dengan sangat sederhana; latar belakang kehidupan sehari-hari yang tidak ada adegan silatnya. Sesuai dengan judul buku, setiap cerita di dalamnya menggunakan sudut pandang orang pertama, yang digambarkan seperti kumpulan cerita pengalaman pribadi pada masa lalu. Membacanya seakan mendengarkan kisah Eyang atas pengalaman uniknya, terasa hangat dan penuh makna.
“Cream” merupakan cerpen pertama dari antologi First Person Singular yang terasa sangat spesial bagi saya. Bukan hanya sebagai cerpen Murakami pertama yang saya baca; mengingat tendensi awal yang sekadar ingin mencari buku aneh saja, membaca “Cream” pada sepuluh menit pertama sudah mampu menyeret saya masuk ke dalam dunianya. Percayalah, tidak ada jalan keluar sama sekali dari sana, sekalipun kau tahu cara untuk melempar bukunya.
Get Rakan Abiyyu’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Dengan sang narator sendiri sebagai tokoh utama, “Cream” bercerita tentang salah satu pengalamannya selama menjalani ronin—jeda akademik — karena tidak lolos ujian masuk universitas pada percobaan tahun pertama. Cerita dimulai ketika ia mendapatkan undangan resital piano — semacam konser musik klasik — dari seorang gadis yang merupakan kenalan lamanya saat mengikuti kelas piano semasa sekolah. Namun setibanya di lokasi, alih-alih sebuah resital, ia justru mendapati gedung acara yang terkunci rapat tanpa sedikit pun tanda-tanda kehidupan.
Dalam salah satu bagian utama cerita yang juga menjadi favorit saya, ketika rasa lelah dan putus asa menyelimuti sang narator di suatu taman singgahnya, sekonyong-konyong hadir seorang pria tua yang menyampaikan beberapa kalimat aneh nan sulit dimengerti. Persis seperti bagaimana narator pertama kali mendengarnya, saya pun sebagai pembaca ikut bingung dibuatnya.
Percakapan dengan pria tua itu boleh dibilang menjadi poros filosofis dari keseluruhan cerita. Pembaca dihadapkan pada proses perenungan yang tak terelakkan; sebuah pencarian yang menyingkap jati diri manusia dan realitas yang menyertainya, jauh ke dalam relung batin yang tak terjamah kata.
Menemukan Poros di Tengah Realitas
“A circle with many centers. There are several centers — no, sometimes an infinite number — and it’s a circle with no circumference.”
“Are you able to picture that kind of circle in your mind?”
Sebuah lingkaran dengan tak hingga titik pusat dan tidak memiliki garis keliling. Kalau ditanya, apakah saya sendiri bisa membayangkannya? Sayangnya tidak. Terlepas dari berjuta persepsi tentangnya, selama belasan tahun mengikuti sekolah formal, tidak ada yang pernah menjelaskan lingkaran dengan gambaran seperti itu. Lingkaran pastilah memiliki satu titik pusat beserta garis lingkar yang mengelilingi; hanya itu yang kita kenal selama ini.
Sudah sewajarnya untuk sulit membayangkan suatu bentuk abstrak yang belum pernah kita temui sebelumnya. Banyak hal dalam dunia ini yang sulit kita mengerti, sesuatu yang mungkin belum maupun tidak akan pernah ada jawabannya. Semesta seakan sengaja menyembunyikan rahasia untuk ia simpan khusus bagi orang-orang terkasih saja — jujur, saya merasa sedikit cemburu pada mereka.
Batas yang Fana, Keterasingan yang Nyata
Dalam lingkaran tak berbatas, keterasingan memberikan kita dua pilihan: mencari titik pusat sebanyak-banyaknya, atau menyadari bahwa diri kita merupakan satu titik pusat di antara tak hingga titik pusat lainnya. Sering kali pencarian akan sesuatu nan jauh di sana bisa mengalihkan fakta bahwa kita adalah salah satunya.
Ibarat perahu yang terombang-ambing di lautan tanpa cakrawala, ketiadaan batas justru menjadi alasan mengapa layar harus dibentangkan. Jika tidak, barangkali kita tidak akan pernah repot-repot menengadah untuk membaca rasi bintang. Rangkaian melodi, tumpukan sastra, hingga tebalnya buah pikiran dan keyakinan yang mati-matian kita jadikan tongkat raba — semuanya tak lain adalah anak kandung dari keterasingan.
“The cream of the cream. It means the best of the best. The most important essence of life — that’s the crème de la crème.”
Pada akhirnya, fase keterasingan yang sering kali menyapa kita bukanlah sebuah malapetaka. Fase itulah lautan tanpa cakrawala, tempat tersimpannya rahasia semesta. Kita mungkin tidak akan pernah merengkuh crème de la crème — esensi kehidupan yang paling murni — dengan melarikan diri ke daratan yang aman sentosa. Esensi itu justru hanya bisa ditemukan ketika kita berani membentangkan layar, menjelajahi keterasingan, dan berdamai dengan keabsurdan realitas yang menyertainya.






