Pulang Bersama Pagi
Cahaya matahari menembus lurus ke jendela bening itu, seakan telah menargetkan seseorang untuk memancarkan sinarnya. Dengan tidak tahu malu, ia mengintip melalui celah gorden abu-abu yang seperempat terbuka oleh angin yang tertiup.
Pagi hari telah menampakkan dirinya, namun berbeda dengan seseorang di balik gorden abu-abu yang kelopak matanya masih tertutup dengan erat di atas kapuk empuk berlapis kain monokrom itu. Terlihat masih terlelap jauh sekali di bawah alam mimpi seakan cahaya matahari tidak memunyai arti untuk mengusik damai tidurnya.
“Untuk apa aku bangun jika setengah bagian dari kehidupanku telah direnggut?” Pikirnya berulang kali seperti gema yang ada di dalam kepala kecil itu sebelum ia kembali masuk ke kamar dan mengatupkan kelopak matanya yang sayu dengan rapat ketika bulan berada tepat di atas langit gelap.
Setengah cangkir hopi hitam hangat ditinggalkan olehnya di meja balkon kamar.
Suara derap langkah Ibu perlahan memenuhi ruangan dimana tempat Iris berada, disusul dengan suara khas ibu-ibu ketika menyuruh anaknya untuk bangun.
Get Behind the Words.’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Satu teriakan.
Dua teriakan.
Tiga teriakan, namun Iris tak kunjung bangun.
Ibu mendekat ke kasur, lalu menyikap rambutku ke belakang. Sorot matanya dipenuhi ketidakpercayaan atas apa yang baru saja dilihatnya. Kepanikan terlihat sangat jelas di wajah wanita tua yang sudah keriput itu.
Tatapan matanya terjatuh lurus pada cangkir yang ada di meja balkon kamar anak tersayangnya. Ibu mendekat dengan tergesa-gesa dan betapa terkejutnya Ibu, ia terduduk di lantai balkon sambil meraung “BAPAKKK.. ANAKMUU!”
Saat itu, orang tuanya kehilangan dua buah hati kesayangannya sekaligus. Iris menyusul kepulangan saudara kembarnya, Aris.






