Aksama: Elegi Dua Hati
3.1 Satyaloka
⚠TRIGGER WARNING!⚠
This chapter contains explicit adult themes and narrative elements that may be distressing or potentially triggering for some readers, including: aftermath of explicit sexual activity, implied/consensual intimacy, political corruption, bioweapon conspiracy theories, and sensory overload in crowded public spaces. I acknowledge that this content may be sensitive or difficult for some readers.
Cerita di bab ini mengandung tema-tema dewasa dan elemen naratif yang berpotensi memicu rasa tidak nyaman bagi sebagian pembaca, termasuk: dampak/sisa aktivitas seksual eksplisit, intimasi/skinship yang intens, korupsi politik, konspirasi senjata biologis, serta situasi kerumunan padat (sensory overload). Saya mengakui bahwa konten ini mungkin sulit dipahami untuk sebagian pembaca.
Kembali dengan suasana apartemen yang beberapa jam terakhir benar-benar mampu kacaukan akal sehat pemiliknya, Gamaliel Caldwell. Mungkin bahkan tetangganya sekalipun tidak menyangka bahwa salah satu penghuni paling diam dan nampak dingin baru saja mengalami malam yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Gama mengalihkan pandangannya ke arah Tama yang masih tertidur, memunggunginya tanpa busana. Semalam adalah kejadian yang takkan pernah ia lupakan, takkan pernah ia bayangkan akan terjadi secepat ini.
Tangan Gama terulur, ingin sekali mengusap punggung lebar pria yang menggagahinya semalam. Punggung lebar itu terdapat beberapa luka cakaran — cakaran Gama tentu saja. Namun ia urungkan niat itu, rasa tidak suka pada pria yang terdengar mendengkur itu membuat Gama mengernyit tidak suka.
Udara di sekitarnya terasa ganjil. Di satu sisi, hawa dingin khas pendingin ruangan terasa menusuk kulit — mengingatkannya pada deskripsi atmosfer beku di Benua Borealis. Namun di sisi lain, ada sisa-sisa kehangatan tak kasat mata yang tertinggal di udara. Aroma samar Anila yang menguar semalam sepenuhnya luruh dari sprei dan dinding kamar, menjadi saksi bisu bagaimana insting biologis mereka mendominasi akal sehat yang sempat bergejolak hebat di ruangan ini sebelum fajar menyingsing.
Ikatan Anaswaran di dalam tubuhnya bahkan masih menyisakan getaran halus. Sialnya, presensi gaib itu membuat Gama merasakan sayup-sayup detak jantung pihak seberang yang sama tidak tenangnya, menegaskan bahwa penyatuan semalam bukan sekadar memuaskan nafsu sang predator, melainkan awal dari benang kusut yang mungkin saja menjerat mereka berdua.
Namun, dinginnya realitas politik yang dibawa Nanda pagi ini tidak memberi Gama kemewahan untuk tenggelam dalam kecanggungan biologis.
Nenek Tama adalah seorang ilmuwan dan bukan nenek kandung Tama. Lini Sagara yang hidup dalam bayang-bayang orang lain. Dan Lini Sagara adalah proyek alat perang biologis Lini Basundara? Apa yang sebenarnya terjadi?
Gama bangkit berdiri, melangkah keluar dari kamarnya. Tanpa mengetahui detak jantung tak teratur juga dirasakan oleh pria yang pura-pura tertidur di sampingnya.
Ia berjalan ke depan kulkas, mengambil satu botol air putih dan duduk di kursi pantry. Ia menghela napasnya, mengingat tasnya masih tertinggal di atap kantor setelah sore yang aneh kemarin. Entah bagaimana nasib tas beserta isinya, untungnya semalam tidak hujan dan semoga saja ada orang baik hati yang mengembalikan tasnya dan tas Tama yang tertinggal di atas gedung.
Bunyi gesekan sprei dari dalam kamar yang sayup-sayup terdengar membuat pergerakan tangan Gama yang sedang memegang botol air mineral terhenti. Detak Anaswaran di dadanya mendadak berubah ritme, memberi sinyal tak kasat mata bahwa sang naga di dalam sana akhirnya telah terjaga.
Tak berselang lama, langkah kaki yang berat dan agak ragu terdengar mendekat.
Itu Tama. Rambutnya berantakan khas orang bangun tidur dengan mata yang sedikit bengkak dan lehernya yang perlahan sembuh dari luka akibat perubahannya semalam.
Suasana di area pantry mendadak canggung. Udara di dalam apartemen seolah membeku seketika, menyisakan ketegangan pekat yang membuat atmosfer subuh itu terasa mencekik. Tama berdiri mematung di ambang sekat antara ruang tengah dan dapur. Penampilannya benar-benar berantakan khas orang baru bangun tidur — hanya mengenakan kaos oblong milik Gama yang memang sudah Gama sediakan di dekat ranjang.
Kalau saja ada mantra bumi untuk menenggelamkan diri detik ini juga, Tama pasti sudah merapalkannya tanpa ragu.
Kepalanya mendadak memutar ulang semua ucapan sinis, tatapan benci, dan penolakan mentah-mentah yang pernah ia lemparkan pada Gama saat ia mengetahui Gama adalah Lini Akasa. Tama tak pernah tahu jika menjilat ludah sendiri akan sepahit ini. Seseorang yang paling ia hindari, yang awalnya paling tidak ia sukai, justru menjadi sosok yang ranjangnya ia tempati hingga fajar hari. Sialnya, apa yang mereka berdua perbuat semalam berhasil membuat sekujur sendinya pegal dan nyeri.
Tama berdeham pelan, berusaha sekuat tenaga mengumpulkan sisa-sisa wibawanya yang sudah terlanjur tercecer di sprei kamar Gama.
“Mas…”
Gama menoleh, “Udah bangun?”
Tama mengangguk. “Soal semalam…”
“Saya nggak mau bahas itu. Saya mau to the point aja. Kamu bisa balikin tas kita yang ada di atap gedung nggak?” tanya Gama.
Kekesalan itu kembali menjalar pada sang pemuda Sagara. “Bisa,” jawab Tama singkat.
Gama kembali meneguk air putih yang ada di tangannya.
Tama memperhatikan atasannya itu dengan tatapan jengkel. Baru semalam mereka menanggalkan pakaian dan mendesahkan nama satu sama lain dan disambut dengan pagi seperti ini? Mendadak rasa canggung itu sirna. Tama kembali dengan mode ‘cuek’ dan memilih mengambil satu botol air minum yang di kulkas.
Gama hanya memperhatikan gerak-gerik Tama yang lebih tinggi darinya. Ia mengambil sebotol air putih lalu membukanya dan meneguk isinya sekali teguk sampai habis.
“Bawa tas-nya ke tempat ini sekarang juga. Kita berangkat satu jam lagi.” ucap Gama final, dan menghilang di balik kamarnya.
“Tunggu!” ucap Tama, dengan tangannya mencengkram lengan Gama.
Gama menoleh, “Apa?”
“Kita udah gini aja? Maksudnya nggak ada hal yang berubah nih di hubungan kita?” tanya Tama, mata sayunya menatap lurus mata coklat terang Gama yang berdiri di depannya.
“Daripada kamu nanyain hubungan kita , mending cepet balikin tas kita berdua sebelum kita berangkat ke kantor,” ucap Gama, lantas menghilang di balik pintu kamarnya.
Tama tak membalas dengan kalimat apa pun, ia hanya menghela napasnya pelan dan mulai memfokuskan pikirannya dan menggunakan kekuatannya untuk mengembalikan tas yang sempat mereka tinggal di atap kantor The Crux Media.
Ia memejamkan mata perlahan, menyingkirkan sisa-sisa rasa jengkel akibat penolakan mentah-mentah dari Gama barusan. Tama menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa energi purbanya yang masih tersisa di dalam rongga dada. Perlahan, ikatan Anaswaran di tubuhnya berdesir hangat, memetakan koordinat atap gedung The Crux Media yang jaraknya sekian blok dari tempatnya berdiri sekarang.
Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, Tama membayangkan wujud dua tas ransel yang tergeletak pasrah di atas beton dingin atap gedung.
Detik berikutnya, udnara di sekitar meja pantry mendadak berdesir gelisah. Suhu ruangan merosot sesaat, diikuti oleh kepulan distorsi udara tipis yang berputar samar di atas permukaan meja kayu. Bersamaan dengan kilatan riak gaib yang senyap, ruang di atas meja seolah terbelah selama sepersekian detik.
Plaak!
Dua buah tas — satu milik Gama dan satu miliknya — jatuh berdebum pelan di atas meja pantry. Keduanya mendarat dalam kondisi utuh dan kering sempurna, membawa serta aroma udara luar dan dinginnya embun malam yang masih menempel di material kainnya.
Tama membuka mata, menatap dua tas itu dengan napas yangs edikit memburu. Kekuatannya berhasil, meninggalkan sisa wangi Anila yang tipis di sekitar area dapur. Ia mendengus pelan, menatap pintu kamar Gama yang masih tertutup rapat.
Tama hanya mengambil tas miliknya dan memeriksa barangnya. Ia mengambil kabel pengisi daya dari dalam tasnya, dan mulai mengisi daya ponselnya yang nyaris mati beberapa detik kemudian. Tama dengan tangan kanan menggulir ponselnya dan tangan kiri mengambil buah apel di keranjang buah dengan sembrono dan menggigitnya hingga memicu bunyi kriuk yang renyah, lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel.
Jemari Tama bergerak lincah di atas layar, membuka sebuah berkas PDF dengan nama: Historigrafi Arkapada.
Tama memang seharusnya membaca berkas itu sejak malam, namun rentetan insiden gila dan juga pelunasan lapar api Tama yang sekian lama tak pernah terpenuhi sejak dirinya dewasa.
Dan kini, di sinilah Tama dengan apel sebagai pengganjal perutnya, matanya meyipit tajam membaca bait demi bait sejarah kota itu dibangun. Tama bukan orang bodoh yang akan menelan bulat-bulat apa yang tertulis di hadapannya, ada sesuatu yang mendadak mengusik insting detektifnya.
Kunyahan Tama terhenti total. Ia menarik layar ponselnya lebih dekat ke wajah.
Ada bias yang terlalu kentara dari cara kalimat-kalimat di buku itu disusun. Setiap kali membahas ketegangan di Arkapada kuno, Lini Basundara selalu digambarkan dengan narasi yang begitu agung — seolah-olah mereka adalah klan juru selamat yang datang membawa kedamaian dan solusi komoditas di tengah kekacauan.
Tama mendengus retak, sebuah tawa sarkas lolos dari bibirnya. Brengsek. Penulis buku sejarah ini juga orang Lini Basundara sendiri.
Otomatis, siapa pun yang memegang pena sejarah akan selalu nampaksebagai pahlawan dalam ceritanya sendiri. narasi propaganda ini sengaja diciptakan untuk mencuci otak generasi setelahnya, menutupi fakta bahwa mereka sebenarnya adalah parasit yang merusak rantai sakral Pernikahan Kinasih demi kepentingan mereka.
Seketika, sebuah kesadaran baru yang jauh lebih mengerikan menghantam kepala Tama. Kalau buku sejarah resmi di kota ini saja sudah disetir oleh narasi Basundara, berarti seluruh tatanan sosial di Arkapada saat ini berdiri di atas ilusi yang mereka ciptakan.
Tama mematung di kursinya, meremas ponselnya erat-erat. Rasa pahit di kerongkongannya kini bercampur dengan desiran adrenalin yang memanas. Tirai Satyaloka baru saja tersingkap satu lapis lagi, dan musuh yang mereka hadapi ternyata jauh lebih besar dari sekadar kasus penggelapan dana fiktif belaka.
Tama menurunkan ponselnya perlahan, membiarkan layar digital itu menampilkan bagian terakhir dari berkas yang dikirim Tirta. Pikirannya mendadak mengarah pada struktur pemerintahan kota ini yang nampak janggal sebagai ibu kota. Sambil menatap kosong ke sudut meja pantry, seutas benang merah yang mengerikan mendadak terajang rapi di kepalanya.
Ia menyadari satu hal yang teramat krusial: Arkapada atau mungkin Mahaksaka hanya dipimpin oleh sebuah ilusi.
Pemimpin ibu kota yang namanya begitu dielu-elukan publik, yang wajahnya kerap menghiasi halaman depan majalah The CRUX Media, nyatanya tak lebih dari sekadar boneka pajangan di atas panggung etalase politik. Sosok itu sengaja dibuat buta, atau mungkin dibiarkan bodoh di dalam istananya sendiri, hanya untuk menjadi penenang visual bagi masyarakat luas agar kota terkasan aman dan terkendali.
Sementara di balik bayang-bayang etalase yang megah itu, kendali mutlak berada di genggaman orang yang begitu Tama kenal, Harya Trigantala.
Ini hanya asumsi Tama yang mulai menyadari bahwa hampir kepala daerah di Mahaksaka memiliki koneksi dekat dengan Pak Harya. Dan mungkin saja itu menjadi alasan Nenek untuk tidak menerima uang dan segala fasilitas yang ditawarkan kepada keluarganya. Nenek pasti mengetahui lebih dari ini, lebih dari semua kegilaan yang sedang Tama hadapi ini.
Mahaksaka yang dibangun oleh leluhurnya kini seolah diambil alih oleh penguasa bayangan yang mengendalikan birokrasi, menyetir alur hukum, dan mengatur siapa saja pejabat serta orang kaya yang boleh mencicipi takhta di kota ini. Lini Basundara bukan hanya ingin menguasai daratannya, namun mereka benar-benar ingin memusnahkan segalanya untuk melahirkan sejarah baru yang penuh dengan cara culas dan kotor. Dan semua itu telah dimulai sejak pernikahan kinasih pertama dilanggar.
Tama mencengkeram erat pinggiran meja pantry. Ia lantas meletakkan ponselnya di atas meja dan menyandarkan punggungnya di kursi. Tama berkesimpulan bahwa mungkin saja pemusnahan yang selama ini terjadi pada klan-nya itu menjadi salah satu tujuan kejam dari Lini Basundara yang selama ini terus mendominasi Arkapada secara khusus.
Cklek.
Suara pintu kamar yang terbuka memutus aliran konspirasi yang tengah berkecamuk di kepala Tama. Ia tersentak pelan, buru-buru mematikan layar ponselnya dan menegakkan posisi duduk di kursi pantry.
Gama melangkah keluar. Wajah lelah masih terpatri di wajahnya. Namun kini dirinya lebih cerah dan sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia kenakan kemeja panjang yang ia lipat di bagian lengan dan kaos senada di balik kemejanya. Tak lupa ia kenakan celana jins nyaman yang begitu nampak cocok dengan kaki jenjangnya.
“Tama, saya udah siapin baju ganti kamu untuk ke kantor hari ini. Semoga pas di badan kamu, sudah saya gantung di belakang pintu kamar mandi. Kita akan sarapan setelah ini, oke?” ucap Gama tanpa jeda.
Tama masih terduduk dan memandangi Gama yang begitu cantik pagi itu. Memori semalam seolah dengan mudah terputar di kepalanya, bagaimana Tama dan Gama berciuman seolah ingin melebur menjadi satu, dan bagaimana tubuh Gama —
“Tama?”
Lamunan Tama buyar tepat saat itu juga. “Iya?”
“Kamu denger ‘kan saya ngomong apa?” tanya Gama.
Buru-buru Tama mengangguk, “Iya, denger.”
Gama mengangguk pelan. Tampak puas dengan kawaban kilat itu walau seulas rona tipis sempat singgah di pipinya yang masih kelihatan lelah. “Ya, sudah, buruan mandi. Saya siapkan sarapannya dulu,” ujar Gama lirih sebelum berbalik menuju ke meja pantry.
Get ceya ◡̈’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Begitu presensi Gama bergeser, Tamabaru bisa mengembuskan napasnya yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
Tama memandangi punggung Gama yang kini sibuk di depan konter dapur. Kemeja longgar yang membungkus tubuh ringkih itu rntah kenapa justru membuat Gama kelihatan berkali-kali lipat lebih memikat di mata Tama pagi ini. Tidak ada lagi lontaran ucapan sinis yang keluar dari bibir Gama. Yang tersisa hanya sosok Gama yang begitu lembut di bawah siraman cahaya fajar, seolah seluruh kemerahan Arkapada luruh begitu saja dari pundaknya.
Tama merutuki dirinya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa, seorang pembenci nomor satu seperti dirinya, kini justru berbertekuk lutut dan mengakui betapa indahnya manusia klan kuno yang sedang bejibaku di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Memori semalam kembali menyergap tanpa ampun — menampilkan bayangan kulit porselen Gama yang merona hebat, desah napasnya yang berantakan, dan bagaimana tubuh Gama yang bgeitu pasrah dan indah di bawah kuasanya.
Tama menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir bayangan sensual yang membuat darahnya berdesir panas lagi.
Ia akhirnya bangkit berdiri dari kursi pantry, berjalan lambat-lambat menuju kamar mandi dengan sisa-sisa ketidakpercayaannya terhadap fakta yang baru ia simpulkan. Begitu ia tutup pintu kamar mandi dari dalam, pandangan Tama langsung tertumpu pada pakaian ganti yang sudah digantung rapi oleh Gama.
Tama menyentuh material kain kemeja itu perlahan, menghirup lamat-lamat aropa detergen yang bercampur dengan wangi khas tubuh Gama yang menempel samar di sana.
Begitu tubuh tegap itu menjauh dari dirinya, Gama kembali bernapas normal. Ia bersumpah, mungkin wajahnya sudah semerah tomat sekarang. Ia benar-benar salah tingkah. Ia begitu mengingat detail apa yang ia alami semalam dan juga bagaimana mulut kotornya mengumpat di hadapan bawahannya. Satu hal yang tak ingin Gama ungkit lagi adalah ketika dirinya begitu pasrah dikuasai pria yang sebelumnya tak ia sukai.
Di balik konter dapur, bunyi desis mentega yang meleleh di atas teflon panas mendominasi kesunyian pagi itu. Gama berdiri mematung dengan spatula di tangan kanannya, sementara tangan kirinya bergerak membali selembar roti tawar dengan gerakan yang sengaja dibuat sesibuk mungkin.
Di samping pemanggang roti, dua butir telus ceplok dengan kuning yang masih setengah matang sudah tertata rapi di atas piring porselen. Sederhana, namun entah kenapa pagi ini membuat fokus Gama buyar berkali-kali.
Sebenarnya, dada Gama bergemuruh hebat. Ada rasa malu yang teramat sangat, yang sedari tadi mencubit ulu hatinya hingga membuat ujung-ujung jemarinya terasa dingin.
Gama meremas gagang spatula lebih erat, berusaha menahand ebaran aneh yang merayap di rongga dadanya. Soal kejadian semalam… bagaimana ia menyerahkan seluruh kendali dirinya pada Tama, bagaimana ia membiarkan sentuhan klan Sagara itu menguasai tiap jengkal kulitnya bahkan hingga rembulan berganti eksistensi dengan sang fajar — semuanya terasa terlalu intens. Terlalu nyata untuk diabaikan begitu saja.
“Maksudnya, nggak ada hal yang berubah nih di hubungan kita?”
Pertanyaan Tama di ambang pintu tadi mendadak terngiang kembali, membuat pipi Gama yang biasanya pucat seketika bersemu kemerahan. Gama buru-buru menggelengkan kepalanya, lalu menepuk pipinya sendiri dengan tangan yang bebas daris patula. Sialan. Gama dengan usianya yang tak lagi remaja salah tingkah hanya karena kencan satu malam bersama bawahannya.
Gama lantas memilih untuk menekan segala gejolak yang ada di dalam dirinya. Ia tak inginterlihat lemah, tidak ingin Tama tahu bahwa pertahannya telah runtuh dalam satu malam panas bersama bawahannya itu. Gama memilih diam. Bersembunyi dari topeng sok tenang khas klan-nya yang begitu ua agungkan, padahal dari dalam hatinya ia berharap Tama tak menyadari tangannya yang sedikit bergetar saat memindahkan roti panggang yang baru saja matang ke atas piring.
Mendengar suara gemercik air dari arah kamar mandi yang perlahan berhenti, Gama menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur detak jantungnya yang berantakan sebelum Tama kembali ke pantry dan menangkap basah rasa gugupnya.
Bunyi klik dari pintu kamar mandi yang terbuka membuat patula di tangan Gama hampir saja meluncur jatuh. Ia buru-buru mematikan kompor, mengatur napasnya sekilas sebelum membalikkan badan dengan piring berisi roti panggang dan telur ceplok di tangannya.
Dan detik itu juga, pertahanan Gama runtuh satu lapis lagi.
Tama keluar dari kamar mandi dengan kemeja panjang dan celana yang Gama tak pernah pakai karena terlalu besar ternyata… begitu pas di tubuh atletis pemuda Sagara itu. Wangi pelembut yang familiar kini berbaur sempurna dengan aroma segar pasca-mandi dari tubuh Tama.
Gama buru-buru mengalihkan pandangannya ke atas meja, membetulkan letak kacamatanya yang sedikit merosot di pangkal hidung dengan gerakan super kaku. “Duduk, Tama. Ini srapannya udah jadi,” ujar Gama, suaranya diusahakan sedatar mungkin walau telinganya sudah semerah tomat.
“Oh, biar gue aja Mas yang bikin kopinya,” sahut Tama kasual, melangkah mendekat ke area konter dapur.
Jarak mereka mendadak terkikis habis. Gama yang sedang meraih dua cangkir porselen seketika mematung saat lengan mereka tidak sengaja bergesekan. Rasa kikuk Gama sudah berada di level krusial: ia bahkan bingung harus meletakkan sendok di sebelah mana.
“Eng-nggak usah, biar saya aja — ”
“Mas.”
Tama menahan pergelangan tangan Gama pelan, menghentikan gerakan sibuk yang dibuat-buat itu. Gama terpaksa menoleh, dan saat itulah pandangan mereka bertubrukan secara mutlak. Dari jarak sedekat ini, di bawah siraman cahaya fajar dapur, Gama mengenakan kacamata berbingkai tipis dengan sepasang mata cokelat terangnya yang tampak gugup terlihat… berkali-lipat lebih cantik dari semalam. Begitu menawan, hingga akal sehat Tama kembali menguap ke udara.
Tanpa menunggu aba-aba, insting predator Tama mengambil alih. Tama maju satu langkah, menangkup rahang Gama lembut, dan langsung mengecup pipi merah Gama tanpa permisi.
Cup.
Sebuah ciuman singkat namun dalam, yang seketika membungkam seluruh kalimat canggung di antara mereka. Gama terbelalak di balik lensa kacamatanya, tangannya yang memegang cangkir mendadak lemas, sepenuhnya tidak siap dengan ciuman di pipinya.
Gama lantas menjauh, ia menyentuh pipinya sendiri. “Ka-kamu ngapain?”
“Mas Gama gemes deh, sumpah. Pipinya merah sampe ke telinga,” jawab Tama santai.
“Jangan ngaco kamu!” Gama memasang wajah sok galak, membentengi dirinya dengan suara tegas yang terdengar agak bergetar dan sama sekali tidak persuasif. “Duduk sana! Bi-biar saya aja yang bikin kopinya.”
Tama bukannya takut, pemuda itu malah terkekeh pelan. Tawa renyah yang terdengar santai itu justru membuat Gama ingin bumi menelannya saat itu juga.
“Iya, iya, Mas. Ini gue duduk,” sahut Tama. Ia menarik salah satu kursi pantry dan duduk di sana dengan senyum tipis terpatri di bibirnya. Tangannya menopang dagu, sengaja memandangi Gama yang sibuk memindahkan roti panggang ke atas piring dengan gerakan super panik. “Biasa aja, Mas. Kita semalem lebih dari cium pipi…”
Gama tidak menjawab, ia memilih kembali fokus dengan sarapannya. Duduk di hadapan Tama yang menyeringai jahil karena berhasil membuat atasannya itu salah tingkah di pagi hari yang cerah ini.
Tama dan Gama kini tak lagi berada di apartemen. Keduanya segera menghabiskan sarapan mereka, meninggalkan kopi yang baru diteguk setengah untuk pergi ke stasiun yang berada tak jauh dari apartemen Gama. Ya, kalian tidak salah dengar, stasiun kereta. Gama yang biasanya berangkat menggunakan mobilnya, dan Tama yang berangkat menggunakan motornya, kini harus menyatu dengan kerumunan pekerja yang naik kereta di pagi hari.
Tama dan Gama tak banyak bicara dalam tiga puluh menit jalan kaki menuju stasiun, Tama bahkan melangkahkan kakinya lebar-lebar dengan penyuara telinga yang bertengger di telinganya. Sedangkan Gama berjalan sedikit santai di belakang pemuda yang nampak berbeda hari ini. Terima kasih pada baju kebesaran yang ada di lemari Gama, kini Tama nampak seperti pekerja profesional dan bukan seperti jurnalis jalanan dengan aroma rokok yang pekat.
Gama sampai di depan stasiun dengan Tama yang menunggunya di depan gerbang stasiun. Tama mengisyaratkan Gama untuk mendekat.
“Kenapa?”
“Ini pertama kalinya lo naik kereta ‘kan?” tanya Tama.
Gama menelan ludahnya kasar. “Kamu tahu dari mana?”
Tama melangkah satu langkah mendekat ke hadapan Gama, “Mas pikir, gue tahu apartemen lo dari mana?”
Gama memutar matanya, mengingat kembali bagaimana ikatan ingatan antara dirinya dan Tama yang memang terkoneksi satu sama lain.
“Lo punya M-Pass kan?” tanya Tama.
“Ya punya lah!” ucap Gama.
“Nah, nanti bayarnya pake itu.” ucap Tama.
Gama mengangguk paham. Sejauh ini ia hanya gunakan M-Pass hanya untuk fasilitas kesehatan saja dan belum pernah menggunakannya untuk membayar transportasi umum.
Perjalanan dengan transportasi umum untuk pertama kali bagi Gama akhirnya dimulai. Tama berjalan terlebih dahulu menuju deretan turnstile otomatis, mengeluarkan M-Pass miliknya dari saku celana lalu menempelkannya pada panel sensor. Bunyi bip nyaring terdengar seketika, diiringi lampu indikator hijau yang menyala dan bilah pembatas yang terbuka mulus.
Gama memperhatikan gerakan itu dengan seksama. Ia menarik M-Pass dari dompetnya, melangkah ragu ke arah gerbang di sebelahnya, lalu meniru gestur Tama. Bip. Lampu hijau menyala, memberi akses masuk. Gama menghembuskan napas lega yang tak disadarinya sempat tertahan; setidaknya satu keping kartu pintar itu bekerja sesuai fungsinya di saat seperti ini.
Namun, rasa lega itu hanya bertahan lima detik. Begitu mereka menaiki tangga manual menuju peron atas, dunia nyata Mahaksaka langsung menyapa Gama tanpa aba-aba.
“Holy shit…” gumam Gama pelan saat kakinya baru menapaki lantai peron.
Matanya berkedip bingung menatap lautan manusia yang sudah memadati sepanjang pinggiran rel. Ratusan pekerja dengan seragam kemeja, tas ransel atau tas jinjing, dan ekspresi wajah lelah khas jam tujuh pagi berdiri berhimpitan. Udara peron terasa padat dan hangat oleh napas ratusan orang, beradu dengan aroma asap kopi pasaran dari kedai kecil di sudut stasiun.
Bagi Gama, yang seumur hidupnya biasa bergerak dalam isolasi kenyamanan kabin mobil pribadi ber-AC, pemandangan ini adalah sebuah culture shock yang tak pernah ia sadar. Ia mematung di tempat, kebingungan harus mengambil posisi berdiri di mana ia tak perlu menyenggol bahu orang lain. Gama baru pertama kali melihat stasiun di jam ramai seperti ini, biasanya ia hanya akan melihatnya lewat sosial media.
Tama yang menyadari langkah Gama terhenti hanya terkekeh pelan. Tanpa banyak bicara, Tama menarik pergelangan tangan Gama, membawanya bergeser mendekati dinding penyangga peron yang agak terlindung dari arus lalu lalang penumpang.
“Masih di pinggir rel aja udah kaget, Mas,” goda Tama, menyenderkan bahunya santai di dinding sembari melepas satu sisi penyuara telinganya. “Tunggu sampai gerbongnya dateng lima menit lagi. Itu baru simulasi desak-desakan sesungguhnya.”
Gama menoleh cepat, menatap Tama dengan mata membelalak di balik lensa kacamatanya. “Nggak ada opsi lain apa? Taksi online gitu?”
“Jam segini di Arkapada? Kalo mau nyampe pas jam makan siang ya ayo,” balas Tama santai, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang makin membuat Gama gemas sekaligus panik setengah mati.
Suara gemuruh roda besi yang bergesakan dengan rel menggelegar dari kejauhan, disusul angin dingin bertekanan tinggi yang menghempas wajah para penumpang di peron. Kereta komuter rute Arkapada Pusat menuju Arkapada Utara akhirnya tiba.
Pintu gerbong terbuka mulus, dan seketika hukum rimba stasiun berlaku. Gelombang manusia terdorong masuk seperti air bah. Gama yang sempat tertegun langsung terseret arus, tetapi sebelum tubuhnya terpisah dari Tama, sebuah cengkeraman kuat di pergelangan tangannya masuk terlebih dahulu.
Di dalam gerbong, udaranya semakin terbatas. Aroma gabungan minyak wangi mahal yang mulai menguap, bau pakaian lembap, dan desakan kain kemeja menyapa indra penciuman Gama secara brutal. Tak ada tempat untuk sekadar meregangkan kaki. Gama tertahan di dekat pintu dengan tubuh yang nyaris menempel pada dinding gerbong.
Sebelum Gama makin panik karena pundaknya berulang kali tersenggil penumpang lain yang berdesakan, Tama mengambil posisi berdiri di hadapan Gama. Dengan santai, Tama merentangkan satu tangannya untuk berpeganan pada tiang besi di atas kepala Gama, sementara tangan satunya bertumpu pada panel dinding di samping telinga pria itu.
Secara instan, Tama membentuk semacam ruang pelindung kecil menggunakan tubuhnya sendiri.
“Napas, Mas. Jangan ditahan gitu,” bisik Tama pelan. Jarak mereka begitu dekat hingga hembusan napas hangat Tama beraroma samar pasta mint bercampur aroma kopi menerpa ceruk leher Gama.
Gama menelan ludahnya, matanya berkedip cepat di balik lensa kacamatanya. Posisinya sekarang justru puluhan kali lebih membahayakan jantungnya ketimbang kerumunan orang di peron tadi. Di depan jakun Tama seolah menatapnya tajam, menatap jiwanya.
“Emang selalu sepenuh ini, ya?” tanya Gama setengah berbisik, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Tama terkekeh pelan, dadanya berhetar halus yang bisa dirasakan langsung oleh Gama. “Ini masih biasa aja. Nanti kalo udah lewat dua stasiun lagi, kita cosplay ikan sarden.”
Kereta mendadak berguncang agak keras saat berpindah jalur. Tubuh Gama terdorong ke depan, membuat dadanya menempel sepenuhnya pada dada Tama. Refleks, kedua tangan Gama berpegang pada pinggang Tama untuk menyeimbangkan diri.
“Mau peluk?” tanya Tama.
Gama mendelik, buru-buru berusaha menjauh untuk menjaga jarak. Namun, gerakan penumpang di samping mereka justru menyenggol punggung Gama. Tubuhnya terdorong kembali ke depan, dan kali ini Tama tidak memberi celah lagi. lengan Tama melingkar pas di pinggang Gama, merengkuhnya semakin rapat dan menguncinya di sana demi menjaga posisi mereka tetap aman — sebuah posisi canggung sekaligus intens yang bertahan hingga akhirnya kereta sampai di stasiun tujuan mereka.
To Be Unfolded









