Sitemap

Iris.

17 min readFeb 15, 2026

--

Press enter or click to view image in full size

Suguru Geto x fem!reader | Oneshot, 4.4k Words | Tags: modern au, smut, oral sex, unprotected sex, penetration, one-night stand, praise kink, strangers to lovers | TW / CW NSFW 🔞 NOT FOR MINORS | Written in Bahasa Indonesia

Disclaimer: All characters belong to Gege Akutami. OOC. Might contain typos and grammar mistakes. This is a work of fiction; please make sure to always stay protected when you’re going to do the deed. Also, don’t forget to have your partner’s consent all the time!

Hidden gem mungkin menjadi frasa yang belakangan kamu benci.

Penggunaannya yang overused membuat istilah tersebut kehilangan maknanya. Begitu banyak konten-konten yang kamu temukan menggunakan kalimat sederhana ini sebagai hook awal untuk menarik minat audiens, padahal tempat tersebut sudah banyak diketahui orang—lantas, mana hidden-nya?

Tapi kali ini, Suguru nampaknya tidak berbohong ketika ia mengajakmu ke salah satu cafe hidden gem pilihannya. Hanya segelintir orang yang terlihat sibuk dengan meja masing-masing; entah berbincang, berkutat dengan laptop, atau menikmati tiramisu sambil mengutak-atik ponsel di tangannya. Ditemani dengan dekorasi manis—dinding yang dipenuhi oleh poster artsy dari seniman lokal, dan meja-meja yang berbeda bentuk dan warna—membuat suasana kafe tersebut semakin hidup.

Tapi yang paling manis dari semua ini?

Kehadiran laki-laki di hadapanmu, yang akhirnya menampakkan kembali batang hidungnya usai menikmati batang nikotin di luar, dan memberikan senyuman semanis kopi susu gula aren yang kamu pesan itu.

“Hmm?” Suguru menoleh ke arah meja sambil menarik kursi, “Kok Kouign-amann-nya didiemin aja? Nggak enak?”

“Eh, nggak,” kamu buru-buru menyangkal, “Enak kok. Cuma nggak bisa langsung di-hap-hap. Eneg, nanti.”

“Hap-hap?” Matanya membentuk dua bulan sabit, “Istilah apa lagi tuh? Lucu banget.”

Lucu banget.

Garpu yang kamu pegang dengan cepat mencomot potongan pastry dari piring, sebagai usaha untuk menutupi wajahmu yang mulai tersipu.

“… Kebiasaan deh.”

“Hmm?” Nada yang terdengar pura-pura, padahal kamu tau sekali kalau Suguru sama sekali tidak memperhatikan gelas americano yang dari tadi ia aduk-aduk. “Kebiasaan apa?”

“You and your casual… remarks.” Sengaja kamu tekankan kata terakhir itu, “Habit nge-direct orang ya?”

Dirinya langsung nyengir lebar, dan meski ia coba tutupi dengan gelas di tangannya, kamu tetap bisa melihat gigi rapi di balik tangannya itu.

Duh, hati perempuan mana, sih, yang tidak terenyuh melihat senyum tampan itu?

“I was commenting on your choices of words. Kalau waktu lagi nge-direct, kan, lebih superficial. Biar orang yang gue foto lebih luwes aja.”

“Loh, berarti waktu foto sama gue, komentarnya nggak genuine dong?”

“If it’s you, Iris, beda cerita dong.”

There he goes again.

Seenaknya saja pria ini bersenandung ringan di balik MacBook-nya, padahal kamu harus menghadapi tanda tanya dan perasaan bingung ini sendirian!

“Anyway,” well that’s an awkward way to divert his attention, “Gimana, jadinya, hasil fotonya? Sampai ngajak editing bareng gini?”

“Hmm, kalau gue jawab biar bisa liat another side of you, dibilang ngegombal, sih.” Suguru jelas menikmati perubahan ekspresi wajahmu. “Iseng-iseng berhadiah aja, ceritanya, waktu ngajak lo. Lucky me, untung modelnya mau.”

Andai Suguru tau betapa cepatnya jantungmu berdebar. Tidakkah ia sadari kalau senyumannya itu mampu membuat perempuan-perempuan yang duduk di dekatnya mencuri-curi pandang?

“Jadi, kalau gue nggak terima tawarannya,” bunyi es batu terdengar ricuh bertabrakan dengan gelas, selagi kamu berpura-pura untuk terlihat acuh tak acuh, “ada kandidat lain dong?”

“Nggak lah. Kan dibilangin, dapet spark-nya waktu mau fotoin lo. Eh, mataharinya pas lagi keluar, nih. Tuh kan, bagus banget.”

Buru-buru kamu letakkan gelas di tanganmu, salting bukan main ketika Suguru sudah mengarahkan kamera handphone-nya ke arahmu, “Sug, ah!”

“There,” Suguru tersenyum puas, melihat hasil jepretannya sebelum matanya kembali melirik tertuju kepadamu. “you look so pretty like this.”

“Mulai, deh. Emang mau apa, sih? Minta aja, Sug. Nggak perlu pake basa-basi kok.”

“Beneran, boleh minta apa aja?” Suguru semakin bersemangat mengusilimu, “Yakin? Going once, going twice—”

“Sug!”

Kontan tawanya semakin renyah, gemas melihat kamu yang semakin bete karena godaannya.

“Emangnya salah kalau gue beneran muji lo cantik?” Suguru melihat kembali layar ponselnya. “You already look pretty waktu kita shooting kemarin, but I must say, I’m feeling a bit more charmed today.”

“Why?”

“Karena,” Ia menopang dagu dengan tangannya, “you’re simply you today. Without the pretense of all the editorial look. This version of you look prettier.”

“Oh, sush.” kamu menyangkal, “Gue udah terima ajakan lo kok, Sug. A mere flattery won’t be enough if you’re trying to be lucky.”

Andai saja ia tau.

Kalau kata-kata yang keluar dari bibirmu sebenarnya bohong belaka. Suguru hanya perlu untuk menggodaimu sedikit lagi—merayu dengan kata-kata manisnya, dan mengakhirinya dengan senyum ciri khasnya itu.

Kedua mata yang menyipit, salah satu sudut mulutnya naik sedikit lebih tinggi, dengan tawa dalam yang selalu berhasil menggoyahkan pertahananmu.

Dan mungkin, mungkin saja kamu akan membiarkan Suguru yang menyetir ke mana arah dialog ini akan membawa kalian berdua.

Namun Suguru hanya tertawa kecil, melengos dan suara keyboard kembali terdengar, “Then, Iris, perhaps you can tell me how much more luck will it take to be enough?”

Kamu hanya bisa ngedumel kecil, belagak merajuk dan hanya membuat ia tersenyum lebih lebar.

Namun, sampai kapan hatimu bisa menolaknya?

Nada bicaranya yang lembut, serta tawa berat yang sesekali ia berikan saat kamu—menurutnya—terlihat menggemaskan, nyatanya semua membuat persona Suguru sungguh, sungguh sulit untuk diabaikan.

Bagaimana mungkin matamu tidak terfokuskan pada langkah gagahnya yang terlihat begitu memikat saat ia izin untuk ke area outdoor untuk menikmati rokok?

Dan mungkin, jantungmu berdebar hebat saat kamu lihat caranya menguncir rambut panjangnya menjadi cepolan, berusaha agar bau tembakau tidak terlalu membekas. Melihat poninya jatuh, saat ia melirik abu dari batang putih itu meluruh ke dasar asbak—sebelum matanya kembali bertemu dengan matamu.

How much more luck would it take?

Kalimatnya terngiang-ngiang di kepalamu, tapi Suguru buyarkan lamunanmu—usai menyelesaikan sesi merokoknya—duduk di sebelahmu dan mencondongkan badannya.

“Jadi foto yang kemaren lo pilih yang ini,” Suguru menunjukkan folder berisi foto-foto yang sudah ia rapikan, “ini udah semua, termasuk yang kemarin gue kasih di link drive-nya.”

Matamu mengikuti kursor di layar laptopnya, “Eh? Kemarin bukannya total 20 images, ya? Harusnya ini cuma 5, dong? Kok nambah?”

“Oh, ini tambahan dari gue aja.” Suguru dekat sekali. Saking dekatnya, kamu bisa mencium wangi tembakau yang bercampur dengan aroma sandalwood dari parfum yang ia gunakan. “I told you this is my favorite look out of all. Sayang aja kalau nggak diedit.”

“Ih, tapi kan berarti exceed dari deal-deal-an lo sama Shoko—”

“Consider it as something for my personal portfolio, ya? Gue suka banget soalnya.”

Gue suka banget.

Sadar, sadar! Suguru ngomongin soal foto, bukan lo!

“Ya udah, berarti udah semua ya. Nanti abis ini gue upload ke drive yang sama.” Lanjut Suguru sambil menutup laptopnya, “Thank you ya, udah nemenin ngedit hari ini. Hopefully I’m not pushing my luck too much?”

“Karena?”

“Today’s date, that is.” Jawabnya singkat—tidak tau kalau jantungmu nyaris copot saking kasualnya ia menjawab. “Premis nemenin ngedit cuma alesan aja.”

“Then maybe you did pushed your luck a bit too much.” Jawabmu, sok jual mahal, “Tapi terima kasih juga ya, Sug. The photos are great, seengganya, gue jadi ngerasain punya foto bagus.”

“Pleasure’s all mine—”

Tiba-tiba kalimat Suguru terpotong—kamu bersumpah langit masih terlihat cerah terakhir kali kamu lihat.

Entah sejak kapan matahari sudah ditutupi oleh awan mendung. Hujan yang tadinya jatuh rintik-rintik dengan cepat berubah menjadi badai, bahkan diiringi oleh suara gemuruh dari petir.

“Gue janji, I’m not trying to push my luck, again,” Kontras dengan cuaca di luar, wajah Suguru terlihat sumringah sekali. “Cuma mau jadi cowok baik-baik, kok. Nggak mungkin, kan, gue biarin cewek pulang sendirian lagi badai gini?”

Lucu, ya, kekuatan hujan itu. Padahal hanya tetesan-tetesan air, tapi bisa membuat jalanan macet seketika!

“Kalo AC-nya terlalu dingin, bilang ya.” suara lembut itu menyadarkanmu yang sedang menengok ke luar, “Bener, nggak mau ambil selimut di belakang?”

“Ih, nggak usah, Sug. Lagian, lengkap banget ada selimut di mobil?”

“Just in case aja kalau gue bisa push my luck kaya gini.”

Senyumnya merekah lagi—dan untung matanya terfokus kepada jalan di depan. Kalau tidak, mungkin Suguru sudah menggodamu lagi karena kamu kembali salah tingkah!

You’re the closest to Heaven that I’ll ever be,

“… and I don’t wanna go home right now.”

Suguru mandiri melanjutkan lirik dari lagu yang melantun di audio mobilnya. Tidak tau kalau suara serak itu berhasil membuat kupu-kupu di perutmu menari-menari.

Dan kenapa harus lagu ini—yang jelas mengingatkan kamu atas nickname yang ia berikan kepadamu itu?

Kamu belagak mengalihkan pembicaraan, “Gue boleh kecilin aja, ya, AC-nya ya? Ujan gini agak dingin — ”

Klise. Klise sekali.

Ujung jemari kalian tak sengaja bertemu, dan rasanya seperti ada kilatan listrik dari sana.

Sentuhan yang berhasil membuatmu menahan nafas sesaat—terlebih saat Suguru kaitkan jarinya. Satu per satu, hingga semuanya teranyam dengan jarimu.

“Gue tau kemarin lo cerita, kalau mantan lo bilang you’re simply too nice for him,” Ibu jarinya meraba-raba jarimu lembut. “Do you want to change that?”

“Maksudnya, Sug?”

“Be a bad girl for once.” Ia melirik sesaat ke arahmu, tersenyum dengan penuh arti. “Jangan pulang dulu? Then you can still be a good girl. For me?”

Mungkin hujan kali ini adalah sebuah pertanda dari semesta.

As if the universe know that all of your resolve will fall into the ground, just like the rain.

“Oh, fuck,”

Erangan setipis bisikan lolos dari bibir Suguru. Lepas dengan sendirinya usai ia leraikan kecupannya—matanya menatapmu sesaatu, sebelum ia tarik pinggangmu mendekat dan mengangkat tubuhmu dengan mudahnya.

Lidahnya kembali bertemu dengan milikmu saat ia berikan lagi ciuman yang terburu-buru, bersamaan dengan langkah cepat yang membawamu masuk ke dalam apartemen miliknya—bahkan belum sempat ia nyalakan lampunya!

Kamu merangkulnya, mendadak suaramu terdengar ciut sesaat sebelum ia letakkan dirimu di atas kasur, “Baju aku kotor, Sug.”

“Is that an invitation? Buru-buru banget mau ngelepasinnya?”

Suguru menjawab sambil cengengesan, dan dengan tanganmu yang masih bebas kamu berusaha untuk mendorong wajahnya.

Tapi Suguru gunakan kesempatan ini untuk mengusap wajahnya ke telapak tanganmu. Berlagak manja hingga salah satu matanya tertutup—kemudian ia cium tanganmu. Lembut, lembut sekali.

Ruangan sepi hanya membuat segala interaksi terasa semakin intens. Kamu pandangi baik-baik wajahnya, menikmati paras elok itu di hadapanmu—sampai akhirnya kamu sadari kalau Suguru tengah mengikis jarak di antara kalian, lagi.

“Iris, look at me.”

Oh that voice.

That sweet, sweet voice—the one that makes all the shivers crackling under your skin.

Refleks kamu membuang muka, rasa malu yang merayap membuatmu tidak bisa menatap lama si empunya suara.

“Mmh!”

Namun Suguru selalu berhasil menemukan celah. Menolehkan wajahmu artinya membiarkan bagian belakang kepalamu tanpa pertahanan. Bibirnya mendarat lembut di bagian belakang kupingmu, selagi ujung hidungnya bergesekkan dengan daun telingamu—geli.

“Please?”

“Pushing your luck, Sug?”

Suguru tidak langsung menjawab. Tapi tersenyum, lagi. Kamu memekik saat Suguru mendadak sudah merebahkan badanmu di atas kasur—jelas tidak peduli dengan kekhawatiranmu tadi!

“Aku nggak percaya sama yang namanya luck,”

Oh—!

Nafasmu tertahan, melihat laki-laki ini dengan terampilnya sudah melepaskan atasan yang ia pakai, kemudian membuat kunciran asal kepada rambut panjangnya.

“I only believe in perseverance.”

“Hngh—!”

Sebuah kecupan buru-buru yang bertolak belakang dengan hujan yang masih berderu deras di luar jendela. Setiap sentuhan bibirnya membuat aliran darahmu seperti dirasuki oleh cumbu rayu—terpompa ke seluruh tubuhmu.

Sesekali kamu dengar nafasnya yang tersengal, saat hidung mancungnya menyentuh garis wajahmu. Ciumannya ia perdalam, membuat lidah miliknya menerobos masuk, membasahi seluruh rongga mulutmu.

“!!!”

Tubuhmu terhenyak, sampai-sampai kamu membuka matamu lebar-lebar.

Jarinya. Jarinya di bawah sana.

Menyentuh langsung kulitmu, melintasi pakaian yang kamu kenakan.

“Boleh?”

“Hah?”

“Ini.” Suguru menggunakan matanya untuk menunjuk ke arah tangannya, berhenti sejenak. “Boleh?”

Dirinya yang mendadak meminta izin membuatmu tertawa kecil, “Lo udah setengah jalan, sekarang baru nanya?”

“Mau make sure aja kalau whatever happens next… I need to know you want this.”

“Emangnya mau ngapain, Sug?”

“Ngapain, ya? You tell me?”

“Ih, stop dong, Sug! Pertanyaan tuh dijawab, jangan ditanya balik!” tukasmu, “Udahan nih!”

“Bercanda, ah.” Jelas sekali Suguru menikmati ngambek-mu itu, “Lagian, pakai nanya.”

“Ya abis ditengah-tengah lo malah—ngh!”

Jemari Suguru kini terkait kepada celana yang kamu kenakan—dengan penuh hati-hati ia turunkan perlahan.

Suguru menatapmu lagi.

“Will you allow me?”

Tidak dengan teka-teki. Tidak dengan guyonan demi meringankan hati. Hanya keinginan untuk melampiaskan hasrat yang dibalut oleh urgensi.

Meluruhkan segala ragu, dan kamu tangkup kedua pipinya, “Pelan-pelan?”

Jawaban yang seketika membuat wajah Suguru menyala bagaikan lampu yang berseri-seri.

Senyuman itu sedikit memudar, sebelum ia memejamkan matanya dan mengeluskan wajahnya di tanganmu, “I guess I’m starting to believe in luck.”

“Karena?”

“‘Cause I’m a one lucky man that you’re my good girl.”

“Oh—!”

Tangan berurat miliknya berhasil melintasi lapisan pertama. Ia biarkan saja kain tipis yang menutupi bagian intimmu—malah, jari tengahnya bermain dengan gundukkan kecil yang ditutupi olehnya.

“Kamu… udah basah?” Ucap Suguru tak percaya, “Were you looking forward to this too?”

“Too…? Oh—!”

Kukumu nyaris membuat bekas di atas kulitnya, saat jarinya mulai bergerak-gerak di bawah sana. Gerakannya begitu luwes menggodai klitorismu, meski tubuhmu seolah membuat perlawanan dengan bergerak-gerak kecil dan menyilangkan kedua kakimu.

Tapi Suguru jauh lebih bertenaga, menahan kakimu dan membiarkan ujung jari tengahnya bergesekkan dengan klitorismu—sementara jari telunjuk dan manisnya menahan bagian tepi celana dalammu, menariknya ke tengah sehingga sesekali kamu kain pakaian dalammu itu menjadi caranya untuk menghantarkan rasa nikmat kepadamu.

“Ahh—!”

Ibu jarimu berada di sudut bibir kirinya, dan Suguru tengokkan kepalanya sehingga ia bisa mengecup jarimu.

Sebuah pemandangan yang membuatmu memejamkan mata, tak sadar kalau Suguru menganggapnya sebagai sebuah undangan—bibirnya mendarat lembut di atas bibirmu.

“Hngh!”

Suara lirih itu keluar lagi dari mulutmu, membuatmu refleks menutupnya dengan tanganmu. Suguru terkekeh pelan, dan menduselkan kepalanya di lekukan antara leher dan bahumu.

“Geli, Sug.”

Tanpa sadar seulas senyum kamu sunggingkan. Lekukan sederhana di bibirmu yang membuat dada Suguru terasa hangat.

“Nghh — !”

Pelan, pelan sekali, kamu merasakan sentuhannya bergerak ke bawah.

Dan kali ini Suguru tidak berhenti. Tangannya yang besar membuka kaitan dari kakimu yang tadinya tersilang, mencapai bagian rahasiamu—berdenyutan pelan, seolah merespons jari jemari yang menyapamu langsung di sana.

Suguru menahan nafasnya, selagi ia melebarkan milikmu di bawah sana. Telunjuknya menyentuh klitorismu—ke atas dan ke bawah—dengan tempo yang konsisten. Kamu semakin berkedutan, semakin melenguh-lenguh, dan kamu sendiri dapat merasakan semakin licinnya jari panjang itu.

Get sakayume’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

“Oh—!”

Kamu memalingkan wajahmu ke samping, berusaha menyembunyikan wajahmu ke bantal.

Tapi Suguru gunakan tangannya yang lain untuk menarik wajahmu kembali.

Kamu lihat ujung daun telinganya memerah, dada yang kembang kempis diiringi oleh nafas pendek-pendek.

“Eyes on me, Iris.” Ucapannya terdengar memerintah, “Feeling good?”

Ada sedikit keraguan, tapi sentuhan nikmat itu berhenti. Seperti menunggu izinmu, tidak mau bergerak lagi kalau kamu tidak menjawabnya.

Dan kamu mengangguk, membuat Suguru kembali memancarkan senyuman tenang ciri khasnya — tipis terukir, but so effortlessly charming.

“… Kalo kamu?”

“Hmm?”

“Do you feel good, Sug?”

Laki-laki yang sedari tadi menatapmu dengan penuh afeksi seketika melongo. Ekspresi cengo itu silih berganti dengan tawa lepasnya — dan ia peluk tubuhmu, menikmati hangat tubuh perempuan di bawahnya.

“Pertanyaan apaan coba, tuh?”

Kamu menggerutu, protes karena pertanyaanmu tidak digubris.

Tapi kemudian hening datang sementara, membiarkanmu untuk mendengar debaran jantungnya — berdetak cepat, hanya untukmu.

“Oh, Iris.” Suguru kecup lagi lehermu, seraya tangannya menelusuri garis tulang punggungmu. “If only you knew… You’re the closest to heaven that I’ll ever be.”

“NGHH!”

Jarinya menerobos masuk, membuatmu tersontak kaget. Jari ramping nan maskulin itu masuk dengan mudahnya. Tertanam di liang lembabmu, menepuk-nepuk lipatan-lipatan di dalam sana.

Setiap sentuhannya membuatmu meringis dengan penuh kenikmatan.

“You’re too tense,” Suguru akhirnya membiarkan kamu mengambil nafas sejenak. “need me to make you relax?”

“Ngh — sebentar, Sug — !”

Kali ini Suguru menolak untuk menuruti ucapanmu. Ujung-ujung rambut panjangnya terasa geli menyentuh kulitmu. Deru nafas terdengar semakin berat di udara, bercampur dengan desahan yang secara sukarela keluar dari belahan bibirmu.

Lama kelamaan jarinya tidak lagi terasa asing. Sebaliknya, Suguru sudah semakin memahami tubuhmu—tau ke mana ia harus arahkan jari jemarinya, menekan titik-titik yang membuat basah itu semakin menyeluruh.

And he knows that his good girl is able to take more.

“Ahh—di sana—!”

“I know, kamu lebih suka begini.” untarnya, “Look at you squeezing my fingers. Iya, kamu suka kalau ditepuk-tepuk gini kan? Oh— you’re twitching. Enak ya, when I did that while teasing your clit?”

“Mmh—iya—ahh!” Desahanmu melantang—Suguru tahan kakimu agar jarinya bisa dengan bebas mengobok lubang kenikmatanmu itu. “Sug— it feels so go—od—!”

“Jangan di tahan dong?” Tangan Suguru bergerak semakin cepat, “See? Kamu lebih bereaksi kalo kamu udah lebih lepas. Gosh, Iris, you’re so wet.”

Gerak-gerik tangannya sukses membuat tubuhmu berkedutan ringan, sesekali tubuhmu berusaha untuk melawannya. Suguru lihat itu, dan ia gunakan tangannya yang lain untuk menahan kedua pergelangan tanganmu.

“Cantik.”

Kamu hanya bisa pasrah menerima sentuhan-sentuhan penuh gairah itu. Dengan giginya ia angkat atasan yang kamu kenakan.

“Malu ah, Sug—nghh!”

“Kenapa malu, sih?” Suguru melirik sedikit ke atas, meletakkan kepalanya di antara dua gadis kembarmu. “I’m telling the truth.”

“Ahh—!”

Mendadak kamu rasakan sensasi basah di pucuk dadamu. Basah dan hangat—Suguru jelas menikmati apa yang tersaji di hadapannya. Menyesap putingmu dengan nikmat, ingin melegakan rasa laparnya.

Kaitan di tanganmu melonggar, tapi rasa tegang itu tidak juga reda. Bibirnya bergerak turun, perlahan tapi pasti. Suguru membuat jejak di atas perutmu, menciuminya dengan sepenuh hati.

Sampai akhirnya ia tiba di area termanismu itu.

“Spread your legs,” perintahnya, “I want to taste you.”

“Eungh—hh!”

Sensasi basah itu membuat seluruh tubuhmu terasa seperti tersengat oleh listrik. Geli menjalar ke seluruh tubuh, memaksa jantungmu untuk berdebar tidak sesuai dengan tempo yang seharusnya.

Lidahnya bergerak semaunya di pusat selangkanganmu—memuaskan gairahmu, hingga badanmu terkulai lemas.

“Mmh—!”

Suguru mendongak sedikit, memperlihatkan bekas basah di sekitar mukanya, “Di sini?”

“Ngh—! Iy—ahnn!” kamu tak kuasa menahan lenguhanmu, “God, Sug, you’re so…!”

Suguru tidak berhenti. Kedua tangannya menahan pahamu, membiarkan kedua kakimu tersandar di bahunya. Semakin lantang bunyi basah itu, semakin melengkung pula tulang punggungmu.

“Sug, aku—hah—I’m gonna cum…!”

Jemari itu kembali menggoda vaginamu—bersamaan dengan bibir yang tidak hentinya menyesap klitorismu. Rasa geli itu terasa semakin nyata, hingga akhirnya tidak mampu kamu tahan lagi—keluar bersamaan dengan ringisanmu.

“Fuck,” Suguru menyeka bibirnya yang basah, menyeringai puas. “What a nice face you’re making, sweetheart.”

Dirimu terbaring tak berdaya, berusaha menarik kembali kewarasanmu yang mendadak pergi tatkala kamu sambut orgasmemu. Suguru membuat suara kecap saat ia mencicipi lagi rasa manis yang membuat bibirnya mengkilat itu.

Oh.

Kamu rasakan sesuatu yang berat menyentuh milikmu saat Suguru condongkan badannya. Berat dan hangat. Dan saat Suguru bergerak maju sedikit, kamu rasakan pula betapa panjangnya miliknya itu.

“Shit—” gumamnya pelan, “Kamu anget banget. Like it’s inviting me in.”

“Mmh—”

Pinggulmu bergerak dengan sendirinya, mengikuti iramanya.

“Kalau kamu berubah pikiran,” ia tempelkan keningnya dengan milikmu, “Tell me know.”

Tapi Suguru sengaja. Permainan emosi yang dari tadi ia lakukan semata-mata demi mengikis sedikit demi sedikit kerasionalanmu. Sepanjang tegangnya semakin licin oleh basahmu, dan ujung miliknya sesekali berusaha melebarkan liang senggamamu.

Tapi ia gagalkan dan kembali menggoda permukaannya saja.

The push and pull—the very thing that makes all your defenses crumble

Pilihan apa lagi yang kamu punya? Selain memberikan jawaban yang memang diinginkan oleh pria tampan ini?

“Thank you.” Suguru tersenyum sumringah menerima anggukan kecilmu, “Tapi disclaimer dikit…”

Kamu menatapnya bingung, tapi senyuman tampan itu masih terpampang di wajahnya.

“Aku nggak bisa janji—kayak di cerita-cerita—kalau aku bisa tetep gentle.”

“Hah?—!!”

Dua tangan Suguru menahan pergelangan tanganmu, membuatmu tidak dapat melarikan diri.

“NGHHH!”

Kamu dapat rasakan itu. Nyata.

Bagaimana miliknya yang perkasa melesak masuk.

“Oof—kamu sempit, banget.”

“Pelan-pelan—nghhh!!”

“Bukannya nggak nyoba. But how could I?”

Suguru tertawa pelan, melihat bagaimana ereksinya sedikit demi sedikit tertelan oleh milikmu.

“When you feel so fucking good, Iris?”

Sesuai dengan omongannya, Suguru sangat menikmati setiap detik ia memenuhi liang senggamamu itu. Ia gunakan waktu ini untuk menikmati setiap lipatan hangatmu. Sedikit demi sedikit, dengan penisnya ia lebarkan liang senggamamu itu.

Justru dirimulah yang semakin tidak sabaran. Perlahan kamu ikutan bergerak, memberikan signal kepada Suguru untuk masuk lebih dalam.

“That’s it. Nice and slow.” Suguru angkat salah satu kakimu. Miliknya nyaris masuk hingga pangkalnya. “Getting used to it?”

Kamu mengangguk pelan, dan meraih wajah Suguru, “Kamu… Boleh lebih cepet loh.”

Kalimat yang membuat Suguru terdiam sesaat.

“No takebacks, ya?”

Tepat setelah ia deklarasikan itu, kamu rasakan mentok hingga mencapai titik terdalammu.

Astaga.

Apakah normal bagi seorang laki-laki untuk menegang sebesar ini?

“Ah—HGNHH!”

“Pegangan ke aku aja,” Suguru peluk dirimu, yang gelagapan setiap kali ia hentakkan pinggulnya. “Nanti tangan kamu sakit.”

Pinggul Suguru terayun dengan irama yang konsisten. Menariknya perlahan, dan kemudian miliknya masuk kembali dengan satu hentakan.

Dan meski Suguru berhasil menyentuh titik-titik nikmatmu, gerakannya terlalu hati-hati.

“Sug…”

“Mmh—hah—iya, I’m here.” Desisnya pelan, “Kenapa, cantik?”

Lampu redup dari salah satu sudut kamarnya memantul tipis di lantai—serta di garis wajah Suguru yang memelankan gerakan pinggulnya.

“Is it… Not good?”

Suguru tidak langsung menjawab. Tapi cahaya temaram itu jelas memperlihatkan wajah bingungnya.

“Kamu…” kamu menelan ludah, “Bukannya biasanya cowok tuh langsung gerak cepet—!!”

Kalimat yang tadinya di ujung lidahmu seketika tertahan.

Milik Suguru menancap. Dalam.

“Kamu bisa rasain kan?”

Ia hentakkan lagi. Membuatmu nafasmu tersendat, terlebih saat ia tekan perutmu—merasakan miliknya sepenuhnya.

“Aku nggak mungkin kayak gini kalau aku nggak ngerasa enak. Sooner or later, it’s over. I just don’t wanna miss you tonight.”

Kamu tau sekali Suguru sedang mereferensikan lirik lagu yang menjadi alasan kamu ada di sini. Tapi untuk menanggapinya kamu tidak bisa—tidak ketika Suguru genjot kembali pinggulnya.

Dan kali ini Suguru seolah ingin membuktikan kepadamu—menunjukkan betapa nikmatnya kehangatanmu yang menyelimuti miliknya. Hentakan pinggulnya membuat ereksinya mengecup bibir rahimmu berulang kali. Menyetubuhimu brutal, terlebih saat ia dengar rengekanmu yang memekik kencang — membakar semangatnya untuk menyentuh titik-titik nikmat di dalam sana.

“Belum cukup.”

Nada suaranya rendah, dan hangat. Nyaris terdengar seperti bisikan yang tidak ingin merusak suasana. Tangan besarnya menangkup tengkukmu, menarikmu lebih dekat. Dirimu melenguh-lenguh, semakin tidak berdaya saat Suguru dengan lihainya membalikkan badanmu.

“All four, sweetheart.” Ia mengurut miliknya, mengarahkannya kembali ke liang basahmu itu. “I’m going in—”

“NGHH!”

Tangannya bergerak ke pinggangmu, menahanmu di sana. Seperti jangkar sehingga kamu tidak terpelanting ketika Suguru menyetubuhimu tanpa ampun.

Matamu nyalang menerima tubrukan-tubrukannya. Bokongmu terasa panas tertampar ketika kulitnya bertemu dengan kulitmu. Dengan nyata kamu rasakan bagaimana ereksinya keluar masuk—cairan senggama licinyang melumasi sepanjang tegangnya membuat setiap gerakan Suguru terasa semakin mudah, semakin leluasa mencabulimu.

Seolah ia ingin kamu ikut merasakan setiap detiknya, seolah Suguru ingin kamu juga merasakan apa yang ia rasakan—ia daratkan lagi kecupan di atas bibirmu. Punggungmu menyentuh dadanya, dan tangan besar miliknya terlingkar di lehermu demi meraup bibirmu. Ciuman yang berubah lebih dalam, lebih dipenuhi oleh perasaan ingin bercumbu. Sedikit terburu-buru, tapi kamu tau itu adalah bentuk dari luapan gairah yang sedang dirasakan olehnya.

“Suguru—nghh—!”

Kalau saja Suguru tidak menahan badanmu, mungkin kakimu yang kini berlutut di atas kasur tidak sanggup untuk menopangnya. Kakimu bergetar hebat setiap kali menerima sentuhannya—yang tidak bisa berhenti memainkan klitorismu itu.

Suaramu yang pecah di antara nafas tidak juga menghentikannya. Justru bibirnya itu masih menciumi kulit pundakmu dengan penuh afeksi, sembari tangan kanannya menahan perutmu—merasakan miliknya yang tertanam di bawah sana.

“Mmh, aku juga.” Suguru benamkan kepalanya di sebelah lehermu, “Shit—Iris, kalo kamu jepit punya aku terus—”

“HNGHH!”

Kamu kembali terbaring di atas kasur, tetapi kali ini Suguru tak memberimu ruang untuk memproses semuanya.

“When you feel this good, how am I suppose to stop?” Suguru letakkan salah satu kakimu di atas pundaknya, tangannya menahan lipatan di belakang lututmu—mendorong miliknya untuk masuk lebih dalam. “All I can taste is this moment. And right now… this moment is you.”

Kamu, dan Suguru, sama-sama mengejar satu hal yang sama.

Setiap kali bibirnya tergores ke bibirmu,

Setiap kali bibirnya mengulum milikmu,

Deru nafas yang terdengar sesaat saat ia leraikan bibirnya—

Semata-mata untuk menatapmu, memastikan kamu masih bersamanya.

“Iris, look at me,” Suguru menahan dagumu—mengarahkannya agar kamu dapat melihat matanya. Nafasnya terhembus hangat menyentuh wajahmu. “the same way you look at me when I gaze you back behind the lens.”

Tatapanmu mengabur, setengah terpejam, dan bibirmu setengah terbuka—seolah tubuhmu melebur dengan birahi yang perlahan memuncak.

Ekspresi yang mengajak Suguru untuk ikut terhanyut dalam perasaan nikmat ini.

“Sug—Sug—hhh!! I’m cumming, I’m cumming!! Aku mau keluar—hhh!”

“Fuck—hah—anjing, anjing. Fuck, Iris, you felt so good—hah—I’m so close, cantik. So fucking—”

Genjotan pinggulnya meliar, seakan-akan setiap hentakkan adalah sebuah pengakuan atas keinginan untuk menandaimu sebagai miliknya.

Di antara nafas yang saling memburu, di antara jemari yang saling mencari, tubuhnya membeku sesaat di atasmu. Tarikan nafasnya mendadak terhenti di tengah jalan, diikuti oleh hembusan berat bersamaan dengan rasa hangat yang kamu rasakan di atas perutmu usai Suguru dengan cepat mencabut miliknya. Tangannya mengurut pelan batang kejantanannya itu, membiarkan orgasmenya tumpah di atas sana.

Kalian berdua saling menatap satu sama lain, sembari mengatur nafas. Suguru tersenyum simpul, kemudian mengambil tissue di nakas sebelah kasur. Tangannya dengan cekatan membersihkan jejak-jejak dari cairan kental yang ia lepaskan secara sembrono, sekaligus memuja kembali lekukan tubuh dari perempuan di bawahnya ini.

Kemudian Suguru menunduk, dahinya jatuh di lekuk lehermu. Tidak peduli dengan peluh di atas kulit yang membuat rengkuhan ini terasa lebih hangat.

Tangannya perlahan melingkar di pinggangmu, menarikmu sedikit lebih dekat.

“Sug…”

Namanya yang jatuh berulang di sela nafasmu itu sebenarnya adalah sebuah pertanda.

“Suguru—”

“I know. I know.”

Dan Suguru pahami itu. Dari caranya memelukmu.

Terlalu lama, untuk sesuatu yang seharusnya hanya terjadi untuk sesaat.

“I just… don’t want to miss you tonight.”

Untuk beberapa saat, dunia terasa sunyi — hanya detak jantungnya yang masih berdebar kencang melekat di dadamu.

Mungkin, untuk pertama kalinya, setelah sekian lamanya, kamu tidak merasa harus berusaha agar dicintai.

Hujan itu powerful sekali, ya.

Dengan dalih hujan saja, Suguru berhasil membujukmu untuk bermalam di kediamannya. Bukannya untuk melanjutkan sesi panas itu—setidaknya, Suguru hanya meminta satu lagi ronde tambahan—tapi malam kemarin terasa begitu nyaman berada di dalam rengkuhannya.

Membuat pagi datang terlalu cepat.

Suguru sudah berpakaian rapi saat kamu membuka mata. Di sisimu ia tengah berkutat dengan laptop bersama dengan editing tools-nya. Mulutnya sibuk mengunyah permen karet—pengganti cigarette urge demi berlama-lama di sisimu.

Seolah kamu adalah bagian dari rutinitasnya yang lain.

“Morning.” Ia belai lembut kepalamu. “Mau minum?”

Kamu mengangguk pelan, dibalaskan oleh senyum tampan dari laki-laki yang sudah mencepol rambutnya itu.

Dan lagi-lagi, seolah kamu menemukan tempatmu di sela-sela kesehariannya, Suguru kecup keningmu sebelum meninggalkan kasur. Membiarkan dirimu cengo—tidak tau harus bereaksi seperti apa kepada laki-laki yang bahkan tidak memiliki jabatan apapun di hidupmu itu.

Dirinya yang menjadi subjek tanda tanya itu dengan santainya melangkah, tanpa mengenakan atasan—membiarkan kamu menikmati pemandangan punggung lebarnya itu.

Namun sebelum berbalik menuju pintu, ia berhenti.

Tatapannya jatuh padamu — tenang, dan penuh arti.

“Kalau kamu mau difoto lagi,” katanya pelan, “you know who to ask for—the one who always catches your gaze.”

Suguru kemudian meninggalkanmu, bersenandung kecil dan menutup pintu.

But it feels like a new beginning is about to knock its way to your heart.

--

--

sakayume
sakayume

Written by sakayume

When 280 characters are not enough on @dazaigojo