The Magic Tree and Its Blooming Secrets
Bunga yang banyak bermekaran di tahun ini mengingatkan aku tentang kota kecil di musim kemarau.
Tahun ini di akhir September, sepanjang jalan menuju tempat aku bekerja, banyak bunga “baru” bermekaran. Hal ini mengingatkanku musim kemarau di sepanjang jalan Sumbawa , kota kecil yang tetap terlihat indah di tengah cuaca yang sangat panas. Kota kecil tempat aku tumbuh menjadi seperti saat ini.
Pertama kali menginjak kota itu, aku ingat cuacanya sangat panas. Langit biru tanpa awan, daun cokelat dimana-mana dan bunga warna-warni bermekaran cantik. Terlihat indah, bagaikan lautan bunga. Aku si pencinta langit biru dan bunga, sangat menyukai tempat ini.
Dari sekian banyak bunga bermekaran, ada satu bunga, yang menarik perhatianku. Bunga dari “POHON GAMAL”. Di kampungku, pohon ini juga disebut pohon lantoro dan pohon ini tidak pernah sekalipun aku lihat bunganya. Aku pikir pohon tersebut, disini dan dikampungku berbeda jenis, wkwkw.
Di akhir bulan September, dalam perjalanan pulang kerja, aku melihat pohon lantoro dengan bunga pink kecilnya bermekaran. Aku pikir beda bentuknya, ternyata setelah aku lihat lebih dekat, bunganya mirip, sangat mirip dengan di Sumbawa. Speechless. Terharu karena akhirnya bisa melihat bunga ini di kampungku setelah terakhir kali aku lihat di tahun 2021. Here’s the flower of Gamal Tree.
Melihat kondisi saat ini di kampungku, berbeda dari 4 tahun terakhir. Cuacanya panas, tanah kering, debu beterbangan kemana mana, dan daun-daun menjelma coklat untuk menggugurkan dirinya. Dan yang paling menarik perhatianku adalah : Kok bisa pepohonan bukannya layu, kenapa justru tumbuh bunga-bunga warna-warni yang cantik?
Tahu nggak? Bunga yang bermekaran, di cuaca panas yang berkepanjangan (musim kemarau), adalah tanda dari tanaman untuk melindungi diri mereka dari stress lingkungan yang tidak ideal (ternyata bukan hanya kita yang stress dengan cuaca saat ini, tanaman pun juga sama).
Beberapa hal yang dilakukan oleh tanaman untuk melindungi dirinya agar tidak mati di cuaca panas yang berkepanjangan ini, yaitu:
Jurus Pertama: Hemat air dengan menggugurkan daunnya. Daun ibarat jendela rumah. Ketika cuaca panas terik, jendela harus ditutup rapat (menggugurkan daun) supaya adem dan air tidak habis terbuang.
Ketika daun digugurkan tanaman menghentikan sementara pertumbuhannya dan seluruh energinya, makanan dan air, di fokuskan untuk mengatasi stress dan membentuk bunga.
Get Salmin R’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Jurus Kedua – Mode misi darurat dengan memunculkan bunganya. Tanaman merasa sedang dalam "misi darurat". Sebelum airnya benar-benar habis, tanaman ingin segera menitipkan "anak/keturunannya" lewat biji. Bunga warna-warni ini adalah undangan pesta bagi kupu-kupu dan lebah untuk membantu penyerbukan. Dari penyerbukan inilah calon biji baru terbentuk sebagai penerusnya. Ibarat, Ibu yang melahirkan anaknya untuk melestarikan keturunannya.
Beberapa bunga hanya bermekaran di musim kemarau. Di musim hujan atau di kondisi air berlimpah, tanaman seperti anak kecil yang senang makan banyak, jadi fokusnya membesarkan tubuh, menambah daun hijau yang rimbun dan tidak terburu-buru membuat bunga.
Akhir September, bunga yang bermekaran mengingatkan aku banyak hal, kepingan memori di Sumbawa muncul dan rasanya pengen balik ke sana haha.
Melihat cara tanaman bertahan hidup, juga memberikan pelajaran bagi kita yang lagi bertahan hingga saat ini, entah dari pekerjaan, teman kerja, keluarga, cinta, utang, deposit, hingga penyakit. Tanaman tidak meratapi daunnya gugur atau tanahnya yang menjadi kering. Ia merespons perubahan itu dengan mengeluarkan karya terindahnya: bunga.
Last September, an incident happened - it was the first time in my life. Looking at the blooming flowers helped me act and face it wisely. I learned a lot of lessons from it.
Last note, thanks for showing me your true colors vroh, like this flowers, blooming in this scorching weather.
Bonus pictures:








