Sitemap

— Jeda

4 min readOct 4, 2026

--

Ada beberapa hal yang baru kita mengerti setelah semuanya selesai.

Bahwa kehilangan tidak selalu datang bersama pintu yang dibanting. Kadang ia datang dengan suara kursi yang digeser perlahan, dua garis yang diletakkan di atas meja, dan seseorang yang berkata, “Mungkin kita perlu berhenti sejenak.”

Hari itu hujun turun sejak sore.

tidak deras, hanya cukup untuk membuat kaca jendela restoran berembun dan lampu-lampu di luar tampak seperti lukisan yang luntur. Kami duduk berhadapan di meja yang sama seperti ratusan kali sebelumnya.

Meja dekat jendela.

Tempat yang dulu kami pilih karena — katanya paling nyaman untuk dua orang yang tidak pernah kehabisan cerita.

Lucinda, sore itu kami kehabisan kata-kata.

“Capek?” tanyaku.

Ia mengangguk.

Aku tidak tahu apakah yang ia maksud adalah hari iti, hubungan kami, atau hidup secara keseluruhan.

— Mungkin semuanya.

“Kayaknya perlu jeda.”

“Apa nya?”

“Kita nya.”

Kalimat itu sederhana.

Tidak ada suara pecah. Tidak ada tangis. Tidak ada tangan yang berusaha menahan tangan lain.

Hanya tiga kata yang jatuh di anata kami dan, netah bagaiman, terdengar seperti sesuatu yang sangat panjang.

Aku menatapnya.

“Jeda berapa lama?”

Ia tersenyum tipis. Senyum yang dulu selalu membuatku merasa pulang, tetapi seperti melihat rumah dari kejauhan.

“Aku nggak tahu.”

Aku mengangguk.

“Terus setelah itu?”

“Kita ketemu lagi”

Setelah itu.

Dua kata yang ternyata teralu mudah dipercaya.

Hari pertama

tanpa kabar tersa seprti kehilangan sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikir akan hilang.

Tanganku beberapa kali bergerak menuju ponsel hanya untuk mengingat bahwa tidak ada lagi yang perlu kukirim.

Tidak ada keluhan tentang hari yang melelahkan.

Tidak ada seseorang yang akan bertanya apakah aku sudah sampai rumah.

Aku baru menyadari betapa banyak ruang yang ditempati seseorang setelah ia benar-benar tidak ada di dalamnya.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.

Kelas dimulai pada jam yang sama. Jalanan tetep padat. Tugas tetap menumpuk. Teman-teman tetap mengajakku makan siang selagi menunggu kelas berikutnya.

Dunia tidak ikut berhenti hanya karena satu hubungan yang sedang mencari arahnya.

Hari ketujuh.

Aku mulai terbiasa.

Hari keempat belas.

Aku berhenti berhitung.

Hari ketiga puluh.

Aku menemukan diriku tertawa tanpa merasa bersalah.

Hari keempat puluh.

Aku mendengar lagu yang dulu sering kami dengarkan dan untuk pertama kalinya tidak merasa perlu menggantinya.

Ada sesuatu yang aneh tentang sembuh.

Get SajakBiru.’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Kita sering membayangkan sebagai sebuah pagi ketika tiba-tiba smeuanya terasa baik-baik saja.

Padahal tidak begitu.

sembuh rupanya lebih mirip dengan lupa.

Lupa menunggu pesan.

Lupa mencari wajah seseorang di tengah keramaina.

Lupa bahwa dulu ada satu nama yang selalu menjadi tempat pertama untuk pulang setelah hari yang panjang.

Ia datang sedikit demi sedikit, hampir tidak terasa.

Sampai suatu hari kita menoleh ke belakang dan menyadari bahwa sesuatu yang dulu begitu dekat kini hanya tinggal jarak.

Pada hari keenam puluh dua, aku menemukan sebuah foto lama di antar halamn buku harian ku.

Foto yang diambil pada sore yang lain, di tempat yang sama.

— Kami sedang tertawa.

Aku tidak ingat apa yang membuat kami tertawa. Mungkin sesuatu yang bodoh. Mungkin lelucon yang hanya lucu bagi kami.

Aku memandang wajahnya cukup lama.

Dulu, melihat foto itu mungkin akan membuatku ingin kembali.

Hari itu tidak.

Aku hanya merasa hangat.

Ada rasa terima kasih yang samar, seperti cahaya matahari yang masuk dari celah tirai.

Aku akhirnya mengerti bahwa

tidak semua kenangan harus disesali hanya karena bisa diulang.

Ada hal-hal yang cukup pernah terjadi.

Cukup pernah membuat kita bahagia.

Cukup pernah menjadi bagian dari hidup kita.

Tidak perlu dimiliki kembali.

Hari kesembilan puluh

datang tanpa perayaan apapun.

Aku bangun pagi seperti biasa.

Mengerjakan hal-hal yang harus kukerjakan.

Menjalani hari seperti hari-hari sebelumnya.

Hanya ada satu yang berbeda: hari itu adalah hari ketika kami berjanji akan bertemu lagi.

Aku datang ke tempat yang sama.

Meja yang sama.

Jendela yang sama.

Bahkan kursi yang dulu sering ia pilih masih berada di tempatnya.

Ada sesuatu yang menyedihkan dari tempat-tempat yang tidak berubah ketika orang-orang di dalamnya sudah tidak lagi sama.

Ia datang beberapa menit kemudian.

Aku mengenalinya bahkan sebelum ia duduk.

Tiga bulan ternyat cukup lama untuk mengubah seseorang, tetapi tidak cukup lama untuk membuat kita lupa dengan wajahnya.

Kami berbicara. Tidak banyak.

Tentang hal-hal yang terjadi selama tiga bulan terakhir. Tentang kesibukan. Tentang rencana setelah melalu skripsi-nya. Tentang kehidupan yang ternyata tetap berjalan tanpa kami saling hadir di dalamnya. Sesekali kami tertawa.

— Aneh rasanya.

Dulu kami tidak pernah kehabisan cerita. Kini, stelah tiga bulan tidak berbicara, justru tidak ada satu pun cerita yang terasa perlu diceritakan.

Aku melihatnya dan menyadi sesuatu yang sederhana.

Aku masih menyayanginya.

Namun rasa sayang ternyata tidak selalu membawa seseorang kembai ke tempat semula. Ada cinta yang bentuk akhirnya bukan kepemilikan,

melainkan penerimaan.

Dan sore itu, untuk pertama kalinya, aku menerima bahwa kami memang tidak sedang menunggu untuk kembali.

Kami hanya menunggu keberanian untuk mengakui bahwa kami telah berubah.

--

--