Istikamah di Tengah Dunia yang Sibuk
Cerita dakwah fardiyahku.
Aku tipe orang yang suka bercerita dan suka mendengarkan cerita. Makanya teman-teman, bahkan adik kelas, sering datang kepadaku. Ada yang minta saran, motivasi, atau sekadar ingin curhat.
Sebelum masuk ke dalam cerita, aku perjelas bahwa di sini aku bukan orang yang merasa lebih baik daripada siapa pun. Ini usahaku untuk menebar kebaikan dan belajar bersama-sama sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Pesan di malam hari
Suatu malam, adik kelasku yang duduk di kelas 12 mengirim pesan kepadaku. Dia memang sering meminta saran dan nasihat, bahkan bertukar cerita denganku.
Aku tahu banget kelas 12 itu fase yang melelahkan. Jadwalnya padat, banyak ujian, hafalan numpuk, dan rasanya nggak ada waktu untuk istirahat. Di tengah lelah itu, banyak yang jadi lalai dalam beribadah dan mulai melanggar aturan.
Dia bertanya: “Kak, gimana ya caranya biar bisa tetap istikamah ikut peraturan, salat berjamaah di masjid, dan nggak ikut-ikutan teman yang lain?”
Aku nggak langsung jawab dengan nasihat. Aku membalas dulu dengan memahami perasaannya.
Soalnya menurutku, orang yang lagi capek itu butuh didengar dulu, baru butuh saran. Aku bilang istikamah itu memang berat, apalagi kalau lingkungan sekitar nggak mendukung. Jadi wajar kalau dia merasa goyah. Iman itu naik turun, dan pasti ada saatnya kita merasa futur (semangat ibadah lagi turun).
Get Shabrina Andalusia’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Lalu aku bertanya, bukan untuk menyudutkan, tapi supaya kami muhasabah bareng: “Menurut kamu, kita butuh pertolongan Allah nggak sih?”
Apalagi di kelas 12 ini, pasti banyak cita-cita dan harapan yang ingin digapai. Kita butuh Allah di setiap langkah, jadi jangan sampai kita ikut lalai karena teman lalai juga. Lebih baik kita lihat diri sendiri dulu. Aku juga sering begitu kok.
Aku juga bilang, kalau dia ngerasa sendirian, mungkin justru dia yang bisa jadi orang pertama yang memulai. Siapa tahu nanti teman-temannya juga ikut.
Aku pernah di posisi itu, dan sampai sekarang kadang siklus naik-turun itu masih terulang. Yang nggak akan terulang adalah kehidupan di ZAD (nama sekolah kami). Sesuai namanya, ZAD artinya bekal. Jadi mumpung masih di ZAD, perbanyak bekal sebelum terjun ke dunia luar. Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya.
Aku juga sedikit bercerita tentang kehidupanku setelah lulus. Suasana menuntut ilmu dan beribadah sebelum dan setelah lulus itu jauh berbeda. Aku bahkan kangen sama nikmatnya menuntut ilmu dan beribadah waktu di ZAD. Jadi, kebiasaan baik yang kita bangun sekarang itu yang bakal nemenin kita nanti.
Aku harap dia bisa mendapatkan semangat dari motivasi dan nasihatku.
Malam itu, banyak pelajaran yang bisa kami ambil. Bukan cuma untuk menasihati adik kelasku, tapi juga untuk diriku sendiri.
Untuk teman-teman yang membaca ini, semoga ada hikmah yang bisa diambil. Coba kita tanya ke diri sendiri: Siapa yang membuat kita ada di posisi ini? Siapa yang selalu memberi kita kesehatan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa mengingatkan kita untuk kembali kepada-Nya.
Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan untuk beribadah dan menuntut ilmu dengan tenang.
Barakallahu Fiikum.






