Pagi yang Tidak Mau Pergi
Pagi tadi aku menangis lagi. Bukan karena ada kejadian baru, tapi karena rasa itu tetap masih di sana, menempel seperti bau hujan dibaju yang tak kunjung kering.
Berhari-hari aku tidur dikrsi samping ranjang rumah sakit. Lampu koridor yang tidak pernah benar-benar mati, menemani rasa cemasku. Siang dan malam rasanya sama saja.
“Kamu belum tidur, ya?”
Suara Ibu yang nyaris tida terdengar. Kulitnya yang makin pucat, jemari yang dulu kasar karena bekerja, mencuci dan memasak terasa ringan sekali saat kugenggam.
“Sudah tadi, sebentar,” bohong, aku berbohong dan ibu tahu pasti aku berbohong.
“Kamu masih ingat mimpimu?” tanyanya pelan. “Yang mau kuliah jauh itu.”
Dadaku sesak.
Orang-orang selalu bilang, “Sabar, nanti mimpinya kesampaian kok”.
Get Yeojacore’s stories in your inbox
Join Medium for free to get updates from this writer.
Tiada satu pun yang bilang kalau mimpi itu terasa kosong jika orang yang ingin aku buat bangga itu tidak ada dibarisan terdepan.
“Mimpinya masih bisa kapan-kapan, yang penting Ibu sembuh dulu,”
Senyumnya saat itu, senyum yang ingin membuatku ingin lari dan sekaligus tak ingin untuk beranjak.
“Ibu mungkin akan pergi lebih dulu.”
“Jangan bilang begitu,” suaraku pecah. “Aku sudah minta semuanya, setiap malam sebelum tidur, aku mau ibu tetap di sini.”
“Ibu tahu,” ucapnya sambilmengelus punggung tanganku.
“Tapi kamu harus belajar melepas ya, pelan-pelan saja.”
Aku menggeleng keras, aku tidak punya ahli dalam hal ini. Aku bisa saja ahli dalam menunggu, menyiapkan obat, menyiapkan makanan, tapi melepas? Tidak seorang pun pernah mengajariku cara mengantar kepergian.
Di luar jendela. matahari mulai naik perlahan. Cahayanya jatuh diwajah Ibu, dan untuk pertama kalinya aku sadar betapa ia sudah memudar.
Aku ingin menahan waktu, tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya bisa duduk di sini, menggenggam tangannya, dan takut pada sepi yang menungguku diujung hari.




