Sitemap

Pulang… “Diantara Jarak yang Selalu Kembali”

3 min readSep 28, 2025

--

Ada sesuatu yang selalu membuat dada saya bergetar setiap kali roda kereta mulai melambat di jalur Sukabumi. Suara gesekan besi, jendela yang berembun, dan lanskap hijau yang perlahan muncul kembali, seolah menjadi tanda bahwa saya sedang mendekati rumah. Pulang, ternyata bukan sekadar perjalanan geografis — ia adalah perjalanan emosional yang mengingatkan kita siapa diri kita sebenarnya.

Press enter or click to view image in full size

Sukabumi bagi saya bukan hanya titik lahir. Ia adalah ruang di mana waktu berjalan dengan ritme yang berbeda. Di sana, pagi selalu dimulai dengan kabut tipis yang turun di halaman rumah, aroma kopi hangat, dan percakapan sederhana dengan bapak yang selalu menunggu di beranda. Pulang berarti kembali pada detail-detail kecil itu, detail yang sering luput ketika sibuk mengejar mimpi di luar sana.

Bapak saya selalu menjadi wajah pertama yang terlintas ketika kata pulang disebut. Senyumnya yang sederhana, sapaan yang singkat namun penuh makna — semuanya mengingatkan bahwa rumah tidak akan pernah lelah menunggu. Ada paradoks yang selalu saya rasakan: semakin jauh langkah saya dari Sukabumi, semakin kuat pula magnet untuk kembali. Pulang tidak hanya menyentuh fisik, tetapi juga hati yang merindukan tempat di mana ia pertama kali belajar bertumbuh. Meski ibu sudah tiada, kehadirannya tetap hidup dalam setiap kenangan. Saya sering mencoba membuat sup ayam yang dulu biasa ia sajikan, tapi rasanya tak pernah sama. Seolah ada rahasia kecil yang hanya ibu yang tahu — dan lewat sup itu, saya merasa seperti sedang berbincang dengannya sekali lagi.

Ada juga kebiasaan lain yang membuat pulang terasa lengkap: berlari ke Situ Gunung. Jalurnya yang menanjak, udara sejuk yang menyusup ke dada, dan ketenangan air dan pepohonan di sekitarnya memberi ruang refleksi yang tak bisa saya temukan di tempat lain. Situ Gunung selalu menjadi ruang hening, tempat saya bisa merenungkan perjalanan, kehilangan, dan syukur dalam satu tarikan napas.

Get pratiwi's’s stories in your inbox

Join Medium for free to get updates from this writer.

Bandung, dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai salah satu ruang saya menanam mimpi, adalah dunia lain yang begitu kontras dengan Sukabumi. Di kampus, saya berlari bersama ambisi, berhadapan dengan tantangan, dan belajar memahami arah hidup. Namun, setiap kali kereta melaju ke arah Sukabumi, saya merasa seperti sedang memasuki ruang transisi. Kereta menjadi semacam jembatan — menghubungkan dua dunia: dunia yang menuntut saya tumbuh dan dunia yang mengingatkan bahwa saya selalu punya tempat untuk kembali.

Mungkin itulah sebabnya saya lebih memilih transit kereta meski harus disambung dengan angkot, daripada naik travel atau bus yang hanya sebentar. Waktu perjalanan memang lebih lama, tapi justru di situlah letak maknanya. Setiap hentakan roda, setiap persinggahan di stasiun kecil, dan obrolan singkat dengan penumpang lain adalah potongan kenangan yang tak tergantikan. Naik kereta membuat perjalanan pulang jauh lebih terasa — seolah waktu sengaja diperlambat agar hati punya cukup ruang untuk meresapi arti pulang.

Kereta itu sendiri adalah metafora perjalanan hidup. Di setiap perjalanannya, kita belajar tentang meninggalkan sekaligus merindukan. Tentang keberangkatan yang penuh harapan dan kepulangan yang penuh kehangatan. Kadang saya berpikir, mungkin hidup ini memang selalu bergerak seperti kereta: maju, tapi memberi kesempatan untuk kembali singgah ke stasiun-stasiun penting yang membentuk diri kita.

Di perjalanan itu, saya sering membiarkan musik mengisi ruang kosong di antara pikiran. Lagu Nadin Amizah “Kereta Ini Melaju Terlalu Cepat” selalu menjadi pengingat bahwa waktu memang berlari tanpa kompromi, dan kita hanya bisa belajar merangkul setiap detiknya. Sedangkan “Membasuh” dari Hindia hadir seperti pelukan yang menenangkan, seolah berkata bahwa meski lelah, selalu ada kesempatan untuk pulih. Dua lagu ini menemani saya sepanjang jalan, memberi makna tambahan pada dentuman roda kereta yang terus bergerak.

Pada akhirnya, pulang bukan sekadar tiba di rumah. Pulang adalah mengenali lagi diri kita setelah ditempa jarak, waktu, dan pengalaman. Pulang adalah cara sederhana semesta untuk mengingatkan bahwa di tengah riuhnya dunia, selalu ada tempat yang akan menerima kita tanpa syarat.

Dan bagi saya, setiap perjalanan pulang ke Sukabumi lewat rel kereta bukan hanya tentang kembali. Ia adalah tentang merawat ingatan, menguatkan ikatan, dan memastikan bahwa langkah ke depan selalu punya akar yang tertanam kuat di tanah asal.

--

--

pratiwi's
pratiwi's

Written by pratiwi's

menyimpan jejak perjalanan, dan merawat kenangan yang tak pernah selesai :)